Finansial

Airlangga Hartarto: Konflik AS-Israel-Iran Ancam Pasokan Minyak, Indonesia Siapkan Diversifikasi Sumber

Advertisement

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi besar mengganggu pasokan minyak global serta memicu kenaikan harga energi. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pemerintah Indonesia telah menyiapkan strategi dengan mengamankan sumber pasokan alternatif di luar kawasan Timur Tengah.

Ancaman Gangguan Pasokan Minyak Global

Airlangga menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah memegang peran strategis dalam rantai pasok minyak dunia. Oleh karena itu, setiap eskalasi konflik di wilayah tersebut akan berdampak langsung pada distribusi energi global, terutama melalui jalur kritis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.

“Ya pertama tentu kalau Iran sudah pasti yang terganggu adalah supply minyak. Dan supply minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu, belum juga Red Sea. Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung,” ujar Airlangga saat ditemui wartawan di Kemenko Perekonomian pada Senin (2/2/2026).

Strategi Diversifikasi Sumber Pasokan

Pemerintah telah mengambil langkah antisipatif dengan menjalin kerja sama bersama sejumlah pemasok energi dari luar kawasan Timur Tengah. Salah satu upaya konkret dilakukan oleh Pertamina yang telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan beberapa perusahaan energi global dari Amerika Serikat.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non-Middle East. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan ExxonMobil, dan yang lain,” jelas Airlangga.

Selain Amerika Serikat, pemerintah juga membuka opsi untuk mengimpor minyak dari berbagai negara lain. Airlangga menambahkan bahwa peluang pasokan dari Rusia juga terus dipantau sebagai bagian dari upaya diversifikasi.

“Ya tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” katanya.

Potensi Kenaikan Harga BBM dan Dampak Ekonomi Lain

Airlangga mengakui bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, serupa dengan situasi saat konflik Rusia-Ukraina. Namun, ia juga mencatat adanya potensi peningkatan pasokan dari Amerika Serikat dan kapasitas produksi OPEC.

Advertisement

“Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” ujarnya.

Pemerintah terus memantau dinamika pasar global untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Diversifikasi sumber impor menjadi strategi utama guna mengurangi ketergantungan pada kawasan yang terdampak konflik.

Dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor logistik dan pariwisata. Gangguan distribusi dan kenaikan biaya transportasi dapat menekan aktivitas ekonomi global dan domestik.

Airlangga menambahkan, dampak terhadap ekspor Indonesia akan sangat bergantung pada durasi konflik yang terjadi. Pemerintah akan terus memonitor perkembangan situasi geopolitik.

“Ya kalau negara tergantung juga berapa lama. Balik lagi kita monitor saja bahwa perang ini lama atau perang 12 hari atau perang berapa jauh,” pungkasnya.

Informasi lengkap mengenai langkah antisipasi pemerintah terhadap potensi gangguan pasokan minyak global ini disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Senin, 2 Februari 2026.

Advertisement