Akamai Ungkap Prediksi Ancaman Siber Berbasis AI Dominasi Kawasan Asia Pasifik di Tahun 2026
Perusahaan keamanan siber dan komputasi cloud global, Akamai Technologies, memprediksi bahwa ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) akan semakin mendominasi kawasan Asia Pasifik (APAC) pada tahun 2026. Prediksi ini dirilis dalam laporan “Prediksi Cloud dan Security 2026 untuk Asia Pasifik” pada 2 Februari 2026, menyoroti perubahan signifikan dalam lanskap serangan siber.
Ancaman AI yang Kian Cepat dan Otonom
Akamai menilai, pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber akan mengubah cara serangan dilakukan secara fundamental, sekaligus meningkatkan risiko bagi organisasi di APAC. Serangan siber pada tahun 2026 diramalkan akan berlangsung lebih cepat, lebih otomatis, dan semakin mandiri berkat dukungan AI generatif dan AI otonom. Teknologi ini memungkinkan peretas untuk memindai celah keamanan, menguji titik masuk, hingga melancarkan serangan dengan keterlibatan manusia yang minimal.
Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan Akamai, Reuben Koh, menyatakan bahwa AI secara fundamental mengubah dinamika ekonomi serangan siber di kawasan APAC. “Para peretas tidak lagi meningkatkan skala serangan melalui tenaga manusia, melainkan melalui otomatisasi,” ujar Koh melalui keterangan resmi. Pemanfaatan AI ini mempersingkat siklus serangan yang sebelumnya memakan waktu berminggu-minggu menjadi hanya hitungan jam, meningkatkan risiko di pasar digital bernilai tinggi seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang.
API sebagai Vektor Serangan Utama
Selain ancaman AI, Akamai juga memperkirakan bahwa antarmuka pemrograman aplikasi (API) akan menjadi vektor utama serangan di lapisan aplikasi. Ketergantungan yang semakin besar terhadap ekosistem API, khususnya di sektor perbankan digital, layanan publik, dan ritel, membuat permukaan serangan semakin luas. Akamai mencatat, lebih dari 80 persen organisasi di kawasan APAC mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga dari organisasi tersebut tidak mengetahui API mana yang mengirimkan data sensitif. Kondisi ini memudahkan pelaku serangan untuk memanfaatkan celah tersebut dengan bantuan otomatisasi berbasis AI, memperparah kerentanan sistem.
Demokratisasi Ransomware dan Tantangan Pertahanan
Ransomware juga diprediksi akan semakin terdemokratisasi dan menjadi komoditas kejahatan siber pada tahun 2026. Model Ransomware-as-a-Service, dukungan AI, serta kolaborasi kelompok kejahatan siber dinilai membuat serangan pemerasan dapat dilakukan dengan keahlian yang jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.
Reuben Koh menekankan bahwa pemimpin tidak dapat mengandalkan pertahanan yang bergantung pada kecepatan manusia dalam lingkungan ancaman yang bergerak dengan kecepatan mesin. Tim keamanan dituntut untuk mendeteksi, menganalisis, dan mengendalikan ancaman secara real-time. Upaya ini perlu dimulai dengan modernisasi tata kelola API, investasi pada pengendalian ancaman otomatis, serta penguatan ketahanan di seluruh rantai pasokan.
Pergeseran Strategi Cloud dan Kedaulatan Digital
Di luar aspek keamanan siber, Akamai turut menyoroti pergeseran strategi cloud di kawasan APAC yang semakin dipengaruhi oleh tuntutan kedaulatan digital. Organisasi kini memandang portabilitas cloud sebagai langkah mitigasi risiko terhadap ketidakpastian geopolitik dan ketergantungan vendor, bukan sekadar optimalisasi biaya.
Chief Technology Officer Layanan Komputasi Cloud Akamai, Jay Jenkins, menjelaskan bahwa strategi cloud di Asia bergerak menuju otonomi. Ini mencakup kemampuan memindahkan beban kerja, menerapkan kontrol data yang kuat, serta menjalankan AI di lokasi yang paling sesuai. Jenkins menambahkan, pada tahun 2026, perancangan untuk portabilitas dan AI terdistribusi akan menjadi kunci dalam membangun layanan digital yang tangguh dan siap untuk masa depan.
Informasi lengkap mengenai prediksi ancaman siber dan strategi cloud ini disampaikan melalui laporan resmi Akamai Technologies, “Prediksi Cloud dan Security 2026 untuk Asia Pasifik,” yang dirilis pada 2 Februari 2026.