Edukasi

Alumnus LPDP Ungkap Alasan Tolak Karier Internasional, Pilih Bangun Bisnis Kakha dan Serap 200 Pekerja

Advertisement

Bagi banyak orang, kesempatan berkuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh seringkali menjadi gerbang menuju karier global yang mapan. Namun, Juwairiah Jafar, alumnus Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), memilih jalan berbeda. Ia memutuskan kembali ke Indonesia untuk mengaplikasikan ilmunya dalam memberdayakan ekonomi lokal, membangun bisnis yang kini menyerap ratusan tenaga kerja.

Perjalanan Studi dan Prestasi di Inggris

Juwairiah Jafar mendaftar beasiswa LPDP pada tahun 2015, didorong oleh keinginan untuk meningkatkan kompetensinya di bidang bisnis demi kemajuan Indonesia. Sebelum keberangkatannya, ia telah memiliki karier solid selama hampir lima tahun di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, mengelola strategi pemasaran untuk jenama-jenama besar.

Setelah sempat menunda keberangkatan karena kehamilan, Juwairiah akhirnya bertolak ke Inggris pada tahun 2017 bersama suami dan anaknya. Ia menempuh studi magister di Lancaster University, mengambil Jurusan Digital Business and Innovation Management, sebuah kombinasi ilmu strategi bisnis dengan teknologi modern seperti AI dan blockchain.

Selama masa studinya di Britania Raya, Juwairiah berhasil mengharumkan nama Indonesia. Ia meraih peringkat pertama dalam ajang hackathon tingkat distrik. Bersama timnya, ia merumuskan solusi teknologi untuk membantu pemerintah lokal mengonservasi cagar alam sekaligus meningkatkan pengalaman wisatawan di Lake District, Inggris. “Aku background-nya bisnis dan teknologi. Jadi gimana teknologi bisa memberikan experience yang lebih baik bagi pariwisata di Lake District, namanya daerahnya,” kenangnya.

Tidak hanya itu, Juwairiah juga berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat Distinction, setara dengan Cumlaude.

Tanggung Jawab Moral di Balik Keputusan Pulang

Keputusan Juwairiah untuk kembali ke Indonesia menjadi sorotan, mengingat pada angkatannya belum ada kewajiban formal 2N+1 yang mengharuskan penerima beasiswa pulang setelah lulus. Bahkan, kampusnya di Inggris menawarkan entrepreneur visa bagi mahasiswa yang ingin merintis bisnis di sana.

Namun, Juwairiah menolak kesempatan tersebut. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memenuhi janji yang ia ucapkan saat mendaftar beasiswa. “Aku kan awardee LPDP. Walaupun enggak ada kewajiban untuk pulang, ya paling enggak ada tanggung jawab moral untuk pulang, sesuai dengan janji waktu apply. Apply-nya kan pengin bangun bisnis di Indonesia,” ungkapnya kepada Kompas.com, Selasa (24/2/2026).

Dari Birokrasi ke Dunia Wirausaha: Lahirnya Kakha

Setibanya di tanah air, Juwairiah sempat mengabdi di instansi pemerintah dan berhasil masuk ke Bank Indonesia (BI) melalui jalur PCPM (Pendidikan Calon Pegawai Asisten Manajer). Di sana, ia ditempatkan di Departemen Sistem Pembayaran dan terlibat langsung dalam proyek-proyek strategis seperti pengembangan QRIS.

Namun, Juwairiah menyadari bahwa ritme kerja di lingkungan birokrasi kurang cocok dengan karakternya. “Cuma memang ternyata aku tuh sepertinya tidak cocok dengan culture di pemerintahan. Jadi, mungkin kalau bahasa umumnya adalah culture shock kali ya,” terangnya.

Advertisement

Setelah melalui pertimbangan matang, Juwairiah memutuskan mengundurkan diri dari BI pada tahun 2019 dan fokus membesarkan usaha kecil yang ia beri nama Kakha. Nama ini diambil dari nama panggilan sang buah hati, yang juga menjadi inspirasi awal pembuatan produk pakaian muslim anak karena sulitnya mencari bahan yang nyaman di pasar saat itu. Usaha ini sebenarnya telah ia rintis sejak sebelum bertolak ke Inggris, namun belum ditangani secara penuh.

Kakha: Berdaya Bersama di Tengah Pandemi

Keputusan Juwairiah untuk terjun sepenuhnya ke dunia bisnis bersama suaminya merupakan pertaruhan besar yang melibatkan seluruh tabungan keluarga. Momentum besar datang saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020. Ketika banyak mal tutup, kebiasaan belanja daring di kalangan masyarakat justru melonjak pesat.

Brand Kakha berhasil menangkap peluang ini dengan produk-produk yang sesuai pasar, mulai dari baju koko anak hingga pakaian seragam keluarga. Pertumbuhannya sangat masif, dari penjualan 5.000 potong pada Ramadhan 2020 meningkat tajam hingga mencapai 300.000 potong pada Ramadhan 2025. Kesuksesan ini juga diperkuat dengan kolaborasi jangka panjang bersama pasangan selebritas Alyssa Soebandono dan Dude Harlino sebagai Duta Merek.

Komitmen Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Di balik angka penjualan yang fantastis, Juwairiah memegang teguh komitmen untuk memberdayakan ekonomi lokal melalui perusahaannya, PT Kakha Berdaya Bersama. Meskipun bahan baku dari luar negeri seperti Tiongkok mungkin lebih murah, ia memilih untuk bekerja sama dengan pabrik tekstil lokal guna membantu memulihkan sektor manufaktur Indonesia yang terdampak pandemi.

“Banyak sekali brand fashion yang bilang kalau mereka brand lokal, tapi sebenarnya kain, dan seterusnya produksi di Cina. Kalau di Kakha, karena aku memang komitmennya mau bangun ekonomi lokal, jadi kita tetap pilih pabrik lokal,” tegasnya.

Kini, melalui bendera PT Kakha Berdaya Bersama, Juwairiah berhasil merangkul sekitar 200 tenaga kerja lokal untuk tumbuh dan berdaya bersama. Ekosistem bisnis yang ia bangun tidak hanya mengandalkan 50 karyawan tetap, tetapi juga memberdayakan 150 tenaga lepas yang tersebar dari divisi produksi hingga pemasaran digital.

Informasi lengkap mengenai kisah inspiratif Juwairiah Jafar disampaikan melalui wawancara eksklusif dengan Kompas.com pada Selasa, 24 Februari 2026.

Advertisement