Amerika Serikat Pertebal Armada Militer di Timur Tengah, Soroti Ancaman Trump ke Iran
Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengerahkan 10 kapal perang ke kawasan Timur Tengah. Pengerahan armada militer dalam jumlah signifikan ini memicu spekulasi mengenai potensi opsi militer AS terhadap Iran, terutama di tengah meningkatnya ancaman yang dilontarkan oleh mantan Presiden Donald Trump.
Pengerahan Armada Militer AS
Jumlah 10 kapal perang yang kini beroperasi di Timur Tengah hampir setara dengan armada yang pernah dikirim Washington ke Karibia menjelang operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal tahun ini. Kedatangan terbaru satu kelompok tempur kapal induk membuat total kapal perang AS di kawasan tersebut mencapai 10 unit.
Seorang pejabat AS pada Rabu (28/1/2026) mengungkapkan bahwa armada tersebut mencakup kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, yang dilengkapi tiga kapal perusak serta pesawat tempur siluman F-35C. Selain itu, terdapat enam kapal perang AS lainnya yang beroperasi di kawasan tersebut, terdiri dari tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir (littoral combat ships).
Ancaman Terbuka Donald Trump
Sebelumnya, Donald Trump secara terbuka menyampaikan ancamannya melalui platform Truth Social. “Armada besar sedang menuju Iran. Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu menjalankan misinya dengan cepat dan penuh kekuatan, jika diperlukan,” tulis Trump.
Ia juga memperingatkan bahwa “waktu hampir habis”, seraya mendesak Teheran untuk segera “membuat kesepakatan.” Pernyataan ini mempertebal tekanan terhadap Iran di tengah ketegangan yang terus memanas.
Respons Iran dan Konteks Protes
Menanggapi pernyataan tersebut, Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa Teheran siap membuka dialog, namun juga melontarkan peringatan keras. “Jika dipaksa, Iran akan membela diri dan merespons dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis perwakilan Iran di platform X.
Pengerahan armada AS ini dilakukan di tengah penindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes yang awalnya dipicu oleh masalah ekonomi, namun kemudian berkembang menjadi gerakan besar menentang Republik Islam Iran. Kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979 merespons demonstrasi tersebut dengan kekuatan mematikan dan berhasil mempertahankan kekuasaan.
Trump sebelumnya berulang kali memperingatkan Iran bahwa Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer jika demonstran terus dibunuh, serta sempat mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih institusi negara dengan mengatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.” Meski sempat menahan diri dari memerintahkan serangan awal bulan ini dengan alasan Teheran menghentikan lebih dari 800 eksekusi setelah mendapat tekanan dari Washington, Trump kini kembali melontarkan ancaman terbuka terhadap Iran.
Informasi mengenai pengerahan armada militer AS dan pernyataan terkait disampaikan melalui laporan media dan pernyataan resmi dari pihak terkait pada Jumat, 30 Januari 2026.