Angka Pernikahan Indonesia Anjlok 600 Ribu: Trauma Keluarga Jadi Pemicu Utama Generasi Muda
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat fenomena penurunan angka pernikahan di Indonesia yang cukup signifikan, yakni mencapai 600 ribu dalam satu dekade terakhir. Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si, Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Umum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mengungkapkan bahwa fear of commitment dan trauma relasi dari latar belakang keluarga broken home menjadi faktor utama yang membuat generasi muda enggan melangkah ke jenjang pernikahan.
Dampak Psikologis Keluarga Broken Home terhadap Minat Menikah
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh timnya, Prof. Sri Lestari menjelaskan bahwa individu dewasa awal yang tumbuh dalam keluarga broken home cenderung memiliki gambaran negatif tentang institusi keluarga. Hubungan yang diwarnai ketegangan, perpisahan, atau ketidakhadiran anggota keluarga secara fisik maupun emosional menciptakan persepsi bahwa pernikahan adalah hubungan yang menakutkan.
“Mereka mempunyai pandangan negatif tentang hubungan berpasangan. Sehingga mereka memandang hubungan perkawinan itu sebagai hubungan yang menakutkan dan hubungan yang akan menimbulkan luka,” jelas Sri.
Meskipun sebagian besar dari mereka memiliki keinginan untuk menikah, rasa takut sering kali mendominasi. Hal ini menyebabkan kecenderungan untuk menarik diri ketika hubungan mulai menuju fase serius. Menurut teori Bowen yang dikutip Sri, trauma relasi ini dapat diwariskan antar-generasi dalam bentuk kecemasan yang harus diselesaikan agar tidak berlanjut ke generasi berikutnya.
Statistik Perceraian di Indonesia dalam Beberapa Tahun Terakhir
Perceraian tetap menjadi pemicu utama terbentuknya keluarga broken home. Walaupun data tahun 2024 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, angka keretakan rumah tangga di Indonesia masih tergolong tinggi. Berikut adalah rincian data perceraian (cerai talak dan cerai gugat) berdasarkan catatan BPS:
| Tahun | Jumlah Kasus Perceraian |
|---|---|
| 2024 | 394.608 |
| 2023 | 463.654 |
| 2022 | 516.344 |
| 2021 | 447.743 |
| 2020 | 291.677 |
| 2019 | 439.002 |
| 2018 | 408.202 |
Pergeseran Nilai Sosial dan Tekanan Ekonomi
Selain faktor psikologis, terdapat pergeseran cara pandang terhadap pernikahan di mana generasi saat ini lebih mengutamakan persiapan yang matang sebelum berkomitmen. Menikah tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan karena adanya dukungan dari lingkar sosial yang kuat.
Fokus Karir dan Kemandirian
Banyak individu, baik laki-laki maupun perempuan, kini memilih untuk memapankan hidup dan fokus merintis karir terlebih dahulu. Ruang pendidikan dan karir yang terbuka lebar memberikan rasa kemandirian dan kebebasan, sehingga keputusan untuk menikah yang membutuhkan komitmen seumur hidup sering kali ditunda.
Beban Ekonomi yang Meningkat
Faktor ekonomi turut menyumbang pengaruh besar terhadap penurunan minat menikah. Biaya hidup yang tinggi, melambungnya biaya pendidikan anak, hingga harga properti yang sulit dijangkau oleh pekerja fase awal menjadi pertimbangan berat bagi anak muda di tengah dinamika kondisi global.
Informasi detail mengenai data kependudukan dan statistik sosial di Indonesia dapat diakses melalui laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS).