Berita

AS Perbarui Kesiapan Militer: Kapal Induk Nuklir USS Abraham Lincoln Berlayar Menuju Kawasan Iran

Amerika Serikat kembali mengintensifkan pengerahan kekuatan militernya di sekitar Iran, memicu spekulasi mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Teheran. Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln dilaporkan telah berada di Laut Arab dalam beberapa hari terakhir, sebuah langkah yang mengingatkan pada skenario serangan udara besar-besaran AS pada Juni 2025 terhadap fasilitas nuklir Iran.

Latar Belakang Ketegangan AS-Iran Terbaru

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas menyusul gelombang protes besar-besaran di Iran sejak akhir Desember 2025. Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional, kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan pemerintahan.

Aparat keamanan Iran dituding melakukan tindakan represif. Pelapor khusus PBB untuk Iran, sebagaimana dilansir Reuters, mencatat setidaknya 5.000 demonstran tewas dan ribuan lainnya ditahan akibat insiden tersebut.

Presiden AS Donald Trump memanfaatkan situasi ini untuk menyerang kepemimpinan ulama Iran. Ia sempat menyampaikan pesan kepada para demonstran bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan mengancam akan mengambil tindakan militer jika Iran melakukan eksekusi terhadap para tahanan.

Meskipun Trump kemudian mengklaim pemerintah Iran telah meyakinkannya bahwa tidak akan ada eksekusi, dan setelah protes dipadamkan, ia kembali mengklaim bahwa rencana eksekusi dihentikan berkat tekanannya. Klaim ini dibantah oleh Teheran.

Retorika keras Trump, ditambah pengerahan militer AS yang tidak lazim di lepas pantai Iran, membuat sebagian analis menilai serangan militer bisa saja sudah dekat.

Pernyataan Presiden Trump: “Armada Besar” Disiagakan

Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa aset militer AS telah dikerahkan ke kawasan tersebut “untuk berjaga-jaga”. Pernyataan ini disampaikan kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pekan lalu.

“Kami punya armada besar yang bergerak ke arah sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya,” ujar Trump. Ia juga memperingatkan, jika Iran mengeksekusi para demonstran, maka serangan militer AS akan membuat serangan terhadap tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu “terlihat seperti kacang”.

Pengerahan Aset Militer AS di Timur Tengah

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dikirim ke Timur Tengah dengan tujuan “mempromosikan keamanan dan stabilitas kawasan”. Kapal induk ini berangkat dari San Diego pada November, sempat beroperasi di Laut China Selatan, sebelum akhirnya bergerak menuju kawasan Iran.

Sementara itu, Komando Angkatan Udara AS untuk Timur Tengah (AFCENT) mengumumkan latihan kesiapsiagaan multi-hari yang melibatkan sekitar 20 negara di Timur Tengah, Asia, dan Afrika, yang merupakan wilayah operasi militer AS.

Komandan AFCENT, Letnan Jenderal Derek France, menyatakan bahwa latihan ini bertujuan memastikan kesiapan personel dan kemampuan respons fleksibel bila diperlukan, meskipun lokasi dan waktu latihan tidak dirinci.

Amerika Serikat sendiri memiliki jejak militer yang signifikan di Timur Tengah, dengan sekitar 40.000 personel berada di kawasan itu pada Juni 2025. Terdapat delapan pangkalan militer permanen AS di Bahrain, Mesir, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Suriah, dan Uni Emirat Arab, serta fasilitas lain di Oman dan Turkiye.

Pada 23 Juni 2025, Iran sempat membalas serangan AS dengan menembakkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang menampung pasukan AS. Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan dinilai sebagai langkah simbolis.

Kekuatan Armada USS Abraham Lincoln

USS Abraham Lincoln (CVN-72) merupakan kapal induk utama dari Carrier Strike Group 3, yang membawa sekitar 6.000 hingga 7.000 personel. Kapal sepanjang 333 meter ini mampu beroperasi selama puluhan tahun tanpa pengisian bahan bakar berkat penggunaan reaktor nuklir.

Kapal induk ini dikawal oleh setidaknya tiga kapal perusak kelas Arleigh Burke, antara lain:

  • USS Frank E Petersen Jr, dilengkapi sistem peluncur rudal canggih.
  • USS Spruance, memiliki radar dan sensor kuat serta persenjataan anti-kapal selam.
  • USS Michael Murphy, merupakan varian terbaru dari kelas yang sama.

Formasi ini biasanya juga dilengkapi dengan kapal penjelajah rudal, kapal selam serang, dan kapal logistik. Sayap udara USS Abraham Lincoln, yang dikenal sebagai Carrier Air Wing 9 (Shoguns), memiliki sekitar 65 pesawat tempur, termasuk F/A-18E Super Hornet yang digunakan untuk serangan presisi, pengintaian, dan pengisian bahan bakar udara.

Kilas Balik Operasi Midnight Hammer Juni 2025

Pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat melancarkan Operasi Midnight Hammer, sebuah serangan simultan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Operasi ini melibatkan 4.000 personel dan 125 pesawat.

Fasilitas Fordow diserang dengan 12 bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) yang dijatuhkan dari pesawat siluman B-2. Bom seberat 13.000 kilogram ini mampu menembus hingga 60 meter ke bawah tanah.

Situs Natanz juga dihantam dua MOP, sementara Isfahan diserang lebih dari 24 rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam AS, diduga USS Georgia. Pesawat tempur F-35 dan F-22 juga diterbangkan untuk mengantisipasi serangan balasan Iran. Seluruh armada AS berhasil mundur tanpa perlawanan.

Analisis Kemungkinan Serangan Militer Baru

Analis dari European Council on Foreign Relations, Ellie Geranmayeh, menilai Presiden Trump bisa saja membenarkan serangan baru dengan dalih perlindungan warga sipil, bahkan membuka opsi perubahan rezim. Namun, ia menekankan bahwa risikonya sangat besar.

Sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Kamis (29/1/2026), Geranmayeh memperkirakan Iran kemungkinan akan membalas dengan menyerang pasukan AS di Timur Tengah, fasilitas minyak, jalur pelayaran internasional, atau sekutu AS seperti Israel.

Di sisi lain, analis Ali Vaez dari International Crisis Group menilai serangan belum tentu terjadi. Alasannya, protes di Iran sudah berhasil dipadamkan dan serangan militer akan sangat mahal tanpa tujuan akhir yang jelas.

Vaez menegaskan, jika konflik meningkat, rakyat Iran yang berjumlah sekitar 92 juta jiwa kemungkinan besar akan menanggung dampak terberat, sementara rezim bisa bertahan dan justru menjadi lebih represif.

Informasi mengenai pengerahan militer AS dan analisis ketegangan di kawasan ini dihimpun dari berbagai sumber media internasional serta pernyataan resmi dari pejabat terkait.