AS Ungkap Ancaman Militer ke Iran, Analisis Tujuh Skenario Konflik dan Dampak Regional yang Tak Terduga
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman aksi militer. Pada Kamis (29/1/2026), Trump mendesak Teheran untuk segera mencapai kesepakatan atau bersiap menghadapi konsekuensi menyusul pengerahan armada besar kapal induk AS ke kawasan.
Dilansir dari The Independent, Trump menyebut waktu bagi Iran hampir habis untuk mencegah pengulangan serangan terhadap fasilitas nuklirnya seperti musim panas lalu. Ia bahkan memperingatkan bahwa dampaknya akan jauh lebih buruk. Meskipun Washington masih membuka opsi diplomasi untuk membatasi program nuklir Iran, kekhawatiran muncul bahwa program tersebut belum sepenuhnya dihancurkan dan kembali dibangun.
Iran sendiri membantah mengembangkan bom nuklir, namun menyatakan terbuka untuk dialog. Pengerahan gugus tempur kapal induk memberi Trump pilihan militer yang lebih luas, tetapi juga memicu kecemasan di kalangan pangkalan dan sekutu AS di Timur Tengah. Ancaman balasan dari Iran yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” membuat situasi kian tak pasti.
Skenario Potensial Jika AS Serang Iran
Jika kesepakatan menit terakhir gagal dan AS benar-benar menyerang, berbagai skenario dampak, baik terbatas maupun meluas, berpotensi terjadi dengan konsekuensi yang sulit diprediksi. Dilansir dari BBC, berikut sejumlah kemungkinan atau skenario jika AS benar-benar melancarkan serangan ke Iran:
1. Serangan Presisi, Rezim Tumbang, dan Transisi Demokrasi
Dalam skenario paling optimistis, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terbatas dan presisi melalui kekuatan udara serta laut. Sasaran difokuskan pada basis Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), unit paramiliter Basij, fasilitas peluncuran dan penyimpanan rudal balistik, serta infrastruktur program nuklir Iran, dengan korban sipil ditekan seminimal mungkin.
Tekanan militer tersebut berujung pada runtuhnya rezim yang telah melemah dan membuka jalan bagi transisi menuju sistem demokrasi, memungkinkan Iran kembali berintegrasi dengan komunitas internasional. Namun, skenario ini dinilai sangat idealistis, mengingat pengalaman intervensi Barat di Irak dan Libya justru berujung pada instabilitas berkepanjangan. Sebaliknya, Suriah yang menggulingkan Presiden Bashar Al Assad melalui revolusi internal pada 2024 tanpa campur tangan militer Barat, hingga kini dinilai relatif lebih stabil.
2. Rezim Bertahan, Kebijakan Berubah
Skenario ini kerap disebut sebagai “model Venezuela”, di mana tekanan militer AS yang cepat dan keras tidak menggulingkan kekuasaan, tetapi memaksa rezim melakukan penyesuaian kebijakan. Republik Islam Iran tetap berdiri, namun dipaksa mengurangi dukungan terhadap milisi bersenjata di kawasan, menahan atau memperkecil program nuklir serta rudal balistik, dan melonggarkan represi terhadap aksi protes.
Meski demikian, peluang skenario ini dinilai kecil. Selama hampir setengah abad, kepemimpinan Republik Islam konsisten menolak perubahan, sehingga kecil kemungkinan mereka berbalik arah di fase krisis seperti sekarang.
3. Rezim Runtuh, Muncul Pemerintahan Militer
Skenario lain yang dinilai cukup realistis adalah runtuhnya rezim sipil dan munculnya pemerintahan militer sebagai penguasa baru Iran. Meskipun Republik Islam dinilai semakin tidak populer dan terus dilemahkan oleh gelombang protes selama bertahun-tahun, aparat keamanan masih menjadi pilar kuat yang berkepentingan menjaga status quo.
Selama ini, aksi protes gagal menjatuhkan kekuasaan karena minimnya pembelotan dari dalam aparat, sementara elite penguasa tak segan menggunakan kekuatan dan kekerasan untuk bertahan. Dalam situasi kacau pascaserangan AS, muncul kemungkinan Iran justru berada di bawah kendali rezim militer yang didominasi tokoh-tokoh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
4. Iran Membalas dengan Menyerang Pasukan AS dan Negara Sekutu
Iran secara terbuka menyatakan siap membalas setiap serangan AS, bahkan menegaskan bahwa respons militer sudah disiapkan. Meskipun kekuatan militernya tidak sebanding dengan Angkatan Laut dan Udara AS, Teheran masih memiliki rudal balistik dan drone yang tersembunyi di fasilitas bawah tanah dan wilayah pegunungan.
Pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan Teluk, terutama di Bahrain dan Qatar, berpotensi menjadi sasaran. Tak hanya itu, Iran juga bisa menyerang infrastruktur vital negara-negara yang dianggap terlibat, seperti Israel atau Yordania. Serangan drone dan rudal ke fasilitas Saudi Aramco pada 2019 menjadi bukti nyata kerentanan negara Teluk terhadap kemampuan militer Iran. Tak heran, sekutu-sekutu AS di kawasan kini diliputi kecemasan, khawatir eskalasi konflik justru berbalik menghantam wilayah mereka.
5. Iran Menutup Jalur Laut dengan Ranjau di Teluk
Skenario lain adalah Iran membalas serangan AS dengan memasang ranjau laut di kawasan Teluk, sebuah ancaman lama terhadap pelayaran global dan pasokan energi dunia. Taktik ini pernah digunakan Teheran pada era Perang Iran–Irak 1980–1988, ketika jalur laut dipenuhi ranjau hingga harus dibersihkan oleh angkatan laut Barat.
Risiko terbesar berada di Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang menjadi urat nadi energi dunia. Sekitar 20 persen ekspor LNG global serta 20–25 persen minyak dan produk turunannya melintasi selat ini setiap tahun. Iran sendiri diketahui telah berulang kali berlatih menebar ranjau laut secara cepat, yang jika benar-benar dilakukan, hampir pasti mengguncang perdagangan internasional dan memicu lonjakan harga minyak global.
6. Iran Membalas dengan Menenggelamkan Kapal Perang AS
Salah satu ancaman paling dikhawatirkan AS adalah serangan serentak Iran, yakni gelombang drone peledak dan kapal cepat bersenjata yang diluncurkan bersamaan hingga berpotensi menembus sistem pertahanan kapal perang AS. Taktik ini sejalan dengan doktrin perang asimetris yang selama ini dilatih Angkatan Laut IRGC untuk mengimbangi keunggulan teknologi Armada Kelima AS.
Jika sebuah kapal perang AS berhasil ditenggelamkan terlebih disertai penangkapan awak yang selamat, dampaknya akan menjadi pukulan simbolik dan politis besar bagi Washington. Meskipun dinilai kecil kemungkinannya, sejarah mencatat kapal perang AS pernah dilumpuhkan, seperti USS Cole pada 2000 dan USS Stark pada 1987, menunjukkan bahwa skenario ini bukan mustahil sepenuhnya.
7. Rezim Runtuh, Digantikan Kekacauan
Skenario paling mengkhawatirkan adalah runtuhnya pemerintahan Iran tanpa pengganti yang solid. Kondisi ini membuka jalan bagi perang saudara dan konflik bersenjata antarkelompok etnis seperti Kurdi, Baluchi, dan minoritas lain di tengah kekosongan kekuasaan.
Kondisi ini dikhawatirkan negara-negara Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi, mengingat preseden kekacauan berkepanjangan di Suriah, Yaman, dan Libya. Meskipun banyak pihak di kawasan termasuk Israel ingin melihat Republik Islam Iran tumbang, hampir tak ada yang siap menanggung dampak runtuhnya negara berpenduduk sekitar 93 juta jiwa itu. Kekacauan besar berpotensi memicu krisis kemanusiaan dan gelombang pengungsi, terlebih jika konflik pecah tanpa tujuan akhir yang jelas dan berujung pada dampak regional yang sulit dikendalikan.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan dari The Independent dan BBC yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026.