Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal IV 2025 mencapai 431,7 miliar dollar AS atau setara Rp 7.252,56 triliun. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan kuartal III 2025 yang sebesar 427,6 miliar dollar AS, serta lebih tinggi dari posisi akhir 2024 yang tercatat 424,8 miliar dollar AS.
Pemicu Kenaikan dari Sektor Publik
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kenaikan ULN pada periode ini terutama bersumber dari sektor publik. Sebaliknya, posisi utang luar negeri dari sektor swasta justru menunjukkan tren penurunan.
“Perkembangan posisi ULN triwulan IV 2025 terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya. Utang pemerintah pada tiga bulan terakhir tahun 2025 tercatat sebesar 214,3 miliar dollar AS, naik dari kuartal sebelumnya yang berada di angka 210,1 miliar dollar AS.
Distribusi Penggunaan Utang Pemerintah
Pemerintah mengalokasikan dana dari utang luar negeri tersebut untuk mendukung sejumlah sektor produktif dan pelayanan masyarakat. Berikut adalah rincian alokasi sektor utang pemerintah:
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial: 22,1 persen
- Administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib: 19,8 persen
- Sektor pendidikan: 16,2 persen
- Sektor konstruksi: 11,7 persen
- Transportasi dan pergudangan: 8,6 persen
Ramdan menambahkan bahwa kenaikan utang pemerintah dipicu oleh masuknya modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan pelaku pasar global terhadap ekonomi Indonesia.
Penurunan Utang Swasta dan Rasio Terhadap PDB
Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta pada kuartal IV 2025 turun menjadi 192,8 miliar dollar AS dari sebelumnya 194,5 miliar dollar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya utang dari perusahaan nonlembaga keuangan. Sektor industri pengolahan serta jasa keuangan tetap mendominasi 79,9 persen dari total utang swasta.
Meskipun secara nominal meningkat, BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dan terkendali. Hal ini terlihat dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,9 persen dibandingkan 30,4 persen pada kuartal sebelumnya. Struktur utang juga tetap didominasi oleh tenor jangka panjang dengan pangsa 85,7 persen dari total ULN.
Informasi lengkap mengenai perkembangan utang luar negeri ini disampaikan melalui pernyataan resmi Bank Indonesia yang dirilis pada 18 Februari 2026.
