Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sepakat untuk menggalakkan pelatihan keselamatan bencana sejak usia dini. Inisiatif ini bertujuan menanamkan pemahaman dasar tentang mitigasi bencana kepada anak-anak, bahkan di level Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Visi Bersama Basarnas dan Kemendikdasmen
Ketua Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menekankan pentingnya sinergi dalam edukasi keselamatan. Menurutnya, pelatihan di level PAUD dapat diintegrasikan melalui alat permainan edukatif (APE) yang selaras dengan ajaran dasar keselamatan.
“Sehingga ke depannya mulai dari pelatihan-pelatihan di level PAUD bisa kita sinergikan mainan-mainan dengan minimal pemahaman bahwa keselamatan itu menjadi sesuatu yang mendasar,” ujar Syafii, Sabtu (28/2/2027).
Syafii menambahkan, sinergi dengan Kemendikdasmen krusial mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah namun juga berisiko tinggi terhadap bencana. Ia mencatat, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam potensi bencana, termasuk ancaman megathrust yang diprediksi terjadi dalam seratus tahun ke depan.
Selain itu, amanah undang-undang juga mewajibkan masyarakat yang tidak terdampak di sekitar lokasi bencana untuk melakukan tindakan awal sembari menunggu petugas. Oleh karena itu, pelatihan keselamatan sejak dini dianggap fundamental.
Integrasi SAR dalam Kurikulum Sekolah
Menanggapi dorongan tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan bahwa program kementeriannya memiliki kesamaan visi dengan Basarnas. Salah satu fokusnya adalah mendidik anak-anak tentang pentingnya keselamatan saat terjadi bencana, sekaligus mengembangkan bakat dan minat mereka di berbagai bidang.
Mu’ti menyebutkan, kemampuan Search and Rescue (SAR) sangat relevan untuk disinkronkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. “Kemampuan ini juga bisa disinkronkan dengan program Pramuka yang sekarang menjadi ekstrakurikuler wajib di semua sekolah,” jelas Mu’ti.
Ia menambahkan, “Sangat penting bagi anak-anak kita untuk memiliki keahlian menyelamatkan diri, baik saat terjadi banjir, kebakaran, maupun musibah lainnya. Paling tidak, mereka memahami dasar-dasarnya.”
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen dan Basarnas telah menandatangani nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini sejalan dengan keinginan Kemendikdasmen untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya keselamatan diri kepada para murid dan guru di berbagai satuan pendidikan.
“Kita bisa bekerja sama menjadikan Search and Rescue (SAR) sebagai salah satu ekstrakurikuler di sekolah,” pungkas Mu’ti.
Informasi lengkap mengenai inisiatif ini disampaikan melalui pernyataan resmi Ketua Basarnas dan Mendikdasmen yang dirilis pada Sabtu, 28 Februari 2027.
