Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DKI Jakarta pada Jumat, 27 Februari 2026, kembali mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada saat membeli takjil berbuka puasa. Peringatan ini disampaikan menyusul temuan takjil yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil dan formalin dalam pengawasan rutin di sejumlah sentra takjil di Jakarta.
Ciri-ciri Takjil Mengandung Pewarna Tekstil
Kepala BBPOM DKI Jakarta, Sofiyani Chandrawati, menjelaskan bahwa makanan yang menggunakan pewarna tekstil umumnya memiliki warna yang sangat cerah atau mencolok. Warna ini cenderung tidak pudar meski terkena panas, berbeda dengan pewarna makanan yang aman.
“Karena kalau pewarna makanan, biasanya kalau kena panas itu pudar,” kata Sofiyani di Jakarta Pusat, Jumat.
Pewarna tekstil seperti Rhodamin B dan Methanyl Yellow sangat berbahaya bagi kesehatan. Rhodamin B adalah serbuk merah keunguan yang menghasilkan warna merah terang, sering digunakan dalam industri tekstil dan kertas. Sementara Methanyl Yellow adalah pewarna kuning kecokelatan yang biasa dipakai untuk mewarnai kain atau cat.
Konsumsi zat-zat ini dapat memicu iritasi saluran pencernaan, gangguan fungsi hati, gangguan kandung kemih, hingga risiko kanker. Sebelumnya, pada Kamis (26/2), BBPOM DKI menemukan satu kue bolu kukus di Sentra Takjil Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang diduga menggunakan pewarna tekstil.
Kue bolu tersebut langsung diamankan dan pedagang diberikan edukasi mengenai pentingnya memilih bahan pangan yang bebas dari zat berbahaya.
Ciri-ciri Takjil Mengandung Formalin
Selain pewarna tekstil, BBPOM DKI juga menyoroti bahaya penggunaan formalin pada produk pangan, khususnya tahu. Formalin seringkali digunakan untuk mengawetkan makanan secara ilegal.
Sofiyani Chandrawati memaparkan, tahu yang mengandung formalin biasanya terasa keras saat ditekan dan memiliki bau menyengat yang khas. “Kalau tahu, ditekan lembek, biasanya tidak menggunakan formalin. Kalau yang menggunakan formalin itu, dari baunya saja sudah tercium, bahkan bisa perih matanya, mual juga,” ujarnya.
Paparan formalin dapat menyebabkan mata perih dan mual, serta berisiko tinggi terhadap kesehatan jangka panjang.
Imbauan BBPOM DKI untuk Konsumen Teliti
Untuk melindungi diri dari takjil berbahaya, BBPOM DKI mengedukasi masyarakat agar lebih teliti dalam memilih makanan berbuka puasa. Konsumen diimbau untuk selalu memperhatikan kondisi kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa produk sebelum membeli.
“Ingat cek kemasan, label, izin edar dan masa kedaluwarsa,” tutur Sofiyani.
BBPOM DKI menegaskan akan terus melakukan pengawasan pangan takjil selama Ramadhan untuk memastikan kelayakan konsumsi. Berdasarkan data pengawasan sentra takjil dan ritel modern pada tahun 2025, dari 147 sampel yang diuji, enam sampel (4,1 persen) tidak memenuhi syarat, sedangkan 141 sampel (95,9 persen) dinyatakan layak konsumsi.
Masyarakat diharapkan tetap waspada dan selektif dalam memilih pangan takjil agar ibadah Ramadhan tetap aman dan sehat.
Informasi mengenai ciri-ciri takjil berbahaya ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kepala BBPOM DKI Jakarta, Sofiyani Chandrawati, yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026, dalam rangka pengawasan pangan Ramadhan.
