Lebih dari 200 orang dilaporkan meninggal dunia akibat runtuhnya tambang koltan di wilayah Rubaya, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRC). Insiden tragis ini terjadi pada Rabu, 28 Januari 2026, ketika hujan deras mengguyur kawasan pertambangan yang berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23.
Detik-detik Runtuhnya Tambang dan Kondisi Korban
Menurut keterangan juru bicara gubernur Kivu Utara yang ditunjuk oleh kelompok pemberontak M23, Lumumba Kambere Muyisa, longsoran tanah terjadi secara tiba-tiba saat puluhan hingga ratusan orang berada di dalam lubang tambang. Struktur tanah yang rapuh, ditambah curah hujan tinggi khas musim hujan, menyebabkan dinding-dinding tambang runtuh dan menimbun para penambang.
Korban jiwa dalam peristiwa ini tidak hanya berasal dari kalangan penambang, tetapi juga perempuan dan anak-anak yang turut berada di lokasi. Banyak dari mereka bekerja sebagai penambang tradisional, menggali koltan secara manual tanpa perlindungan memadai dan tanpa berada di bawah kontrak resmi perusahaan pertambangan.
Hingga Jumat, 30 Januari 2026, pihak berwenang setempat menyatakan bahwa sekitar 20 orang berhasil diselamatkan dan kini tengah menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan. Namun, jumlah korban tewas dikhawatirkan masih dapat bertambah, mengingat proses evakuasi berjalan lambat dan kondisi lokasi yang berbahaya.
Kesaksian Warga dan Buruknya Kondisi Keselamatan Tambang
Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga korban dan komunitas sekitar Rubaya. Seorang warga yang kehilangan sepupunya dalam insiden tersebut mengaku masih sulit menerima kenyataan pahit itu. Ia menggambarkan korban sebagai sosok pekerja keras dan penuh harapan, yang turun ke tambang semata-mata demi menghidupi istri dan dua anaknya.
“Saya tidak percaya dia meninggal seperti ini. Awalnya saya masih berharap dia selamat karena jenazahnya belum ditemukan,” tutur warga tersebut dengan suara bergetar. Harapan itu pupus beberapa jam kemudian, ketika jenazah sepupunya akhirnya berhasil dievakuasi dari timbunan tanah.
Seorang mantan pengawas tambang yang diwawancarai media internasional mengungkapkan bahwa kondisi tambang di Rubaya sejak lama memprihatinkan. Menurutnya, lokasi tersebut minim perawatan dan nyaris tidak memiliki standar keselamatan. Lubang-lubang galian dibuat tanpa perhitungan teknis yang memadai, sehingga rawan runtuh, terlebih saat musim hujan.
Kondisi ini juga menyulitkan proses penyelamatan ketika kecelakaan terjadi. Tanah yang mudah longsor membuat tim evakuasi harus bekerja ekstra hati-hati, sementara peralatan yang tersedia sangat terbatas. Hingga kini, masih ada kekhawatiran bahwa sejumlah korban lainnya masih tertimbun di dalam lubang-lubang tambang.
Ironi Kekayaan Mineral Kongo dan Konflik di Baliknya
Dilansir dari Aljazeera, Rubaya bukanlah kawasan tambang biasa. Wilayah ini menyimpan sekitar 15 persen pasokan koltan dunia dan hampir setengah dari cadangan koltan nasional Republik Demokratik Kongo. Koltan sendiri merupakan mineral strategis yang mengandung tantalum, bahan penting dalam produksi kapasitor berkinerja tinggi untuk ponsel pintar, komputer, perangkat kedirgantaraan, hingga turbin gas.
Namun, di balik nilai ekonominya yang sangat tinggi, aktivitas penambangan koltan di Rubaya menyisakan ironi. Mayoritas penambang bekerja secara manual dengan upah hanya beberapa dolar per hari, mempertaruhkan nyawa mereka demi memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Sejak 2024, tambang-tambang di Rubaya berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23, yang menurut sejumlah pengamat internasional mendapat dukungan dari Rwanda. Perserikatan Bangsa-Bangsa menuding kelompok tersebut memanfaatkan sektor pertambangan untuk memungut pajak dan mendanai aktivitas pemberontakan mereka. Tuduhan ini dibantah oleh pemerintah Rwanda.
Gubernur Kivu Utara yang ditunjuk M23, Erasto Bahati Musanga, sempat mengunjungi para korban selamat dan membenarkan bahwa banyak jenazah telah ditemukan. Sementara itu, pemerintah pusat Republik Demokratik Kongo di Kinshasa belum memberikan pernyataan resmi terkait tragedi ini.
Peristiwa di Rubaya kembali menyoroti paradoks besar di Republik Demokratik Kongo. Sebuah negara dengan kekayaan mineral melimpah, namun lebih dari 70 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem, dengan penghasilan kurang dari 2,15 dollar AS (sekitar Rp 36.000) per hari. Tragedi tambang ini bukan hanya soal bencana alam, melainkan juga potret panjang persoalan konflik, kemiskinan, dan eksploitasi sumber daya yang belum berujung.
Informasi lengkap mengenai insiden ini disampaikan melalui laporan BBC dan Aljazeera yang dirilis pada Sabtu, 31 Januari 2026.
