Biro Sumber Daya China Selidiki Kematian Programmer Akibat Lembur, Akun Kerja Masih Terima Tugas 8 Jam Setelah Wafat
Seorang programmer asal China, Gao Guanghui (32), meninggal dunia secara mendadak setelah bertahun-tahun bekerja lembur. Tragisnya, delapan jam setelah kematiannya pada 29 November 2025, akun kerja Gao masih menerima pesan tugas baru. Keluarga Gao mengeklaim bahwa kematiannya disebabkan oleh kelelahan akibat beban kerja berlebihan, memicu perdebatan luas di media sosial China terkait keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.
Kronologi Kematian dan Tugas Kerja Setelah Wafat
Pada pagi hari tanggal 29 November 2025, Gao Guanghui bangun dengan kondisi tidak enak badan, namun tetap melanjutkan pekerjaannya dari rumah. Istrinya, yang menggunakan nama samaran Li, mengatakan bahwa tak lama berselang kondisi Gao memburuk. Ia mengalami kejang-kejang dan pingsan saat dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pengobatan Tradisional China Kedua Guangdong.
Gao dinyatakan meninggal dunia pada siang harinya. Dokter menyatakan penyebab kematiannya adalah serangan jantung mendadak yang diduga kuat berkaitan dengan kelelahan akibat kerja berlebihan. Li mengungkapkan bahwa pada hari kematiannya, Gao tercatat mengakses sistem kerja perusahaan sebanyak lima kali. Bahkan, akun aplikasi perpesanannya sempat ditambahkan ke grup kerja ketika ia sedang dalam proses penyelamatan.
Delapan jam setelah dinyatakan meninggal, Gao masih menerima tugas kerja mendesak. Menurut Li, pada hari-hari kerja sebelum meninggal, Gao hampir selalu pulang ke rumah setelah pukul 21.30 waktu setempat. Sejak dipromosikan menjadi ketua tim pada 2021, bekerja lembur sudah menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Meski sang istri kerap memintanya pulang lebih awal atau mengambil cuti, Gao menolak dengan alasan beban kerja yang berat dan tanggung jawab terhadap anggota timnya.
Li bahkan menunjukkan rekaman percakapan yang memilukan, di mana ia berulang kali mengirim pesan kepada Gao agar segera pulang, sering kali setelah pukul 9 malam. “Seandainya saya bisa memutar waktu kembali, saya akan memaksanya untuk berhenti bekerja,” ujar Li.
Latar Belakang Hidup Gao Guanghui
Kisah Gao semakin menyentuh hati publik karena latar belakang hidupnya yang penuh perjuangan. Sejak kecil, ia telah menghadapi kesulitan ekonomi. Gao bersama orang tuanya bermigrasi dari Provinsi Henan ke Guangzhou, Provinsi Guangdong, di China Selatan. Untuk mendapatkan uang saku, ia kerap mengumpulkan sampah di jalanan.
Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Gao bekerja paruh waktu demi meringankan beban keuangan. Ia kemudian menikahi teman sekolahnya, dan pasangan tersebut tidak memiliki anak. Dalam buku hariannya saat berusia 16 tahun, Gao menulis, “Takdir dan kesulitan yang kuhadapi mendorongku untuk menjadi dewasa. Aku harus bekerja lebih keras lagi.”
Setelah kepergiannya, Li menerima banyak ucapan belasungkawa dari teman-teman dan mantan teman sekelas Gao. Salah satu dari mereka bahkan menceritakan kisah ketika Gao pernah mengejar dan menangkap pencuri tas bersama teman-temannya. Cerita yang awalnya dianggap Li sebagai bualan, tapi kemudian dibenarkan dengan foto-foto kejadian tersebut.
Budaya Kerja Lembur di China dan Respons Publik
Di China, perusahaan teknologi dikenal dengan budaya kerja keras, termasuk sistem kerja “996”, yakni bekerja dari pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari dalam sepekan. Padahal, undang-undang ketenagakerjaan China menetapkan batas maksimal delapan jam kerja per hari dan 44 jam per minggu. Namun, aturan tersebut kerap tidak ditegakkan secara ketat.
Di media sosial China, banyak warganet mengaku sulit menemukan pekerjaan yang memberikan dua hari libur dalam seminggu. Sebuah laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 juga menunjukkan bahwa kerja lembur meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung hingga 42 persen. Biro Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial yang menaungi perusahaan tempat Gao bekerja menyatakan tengah menyelidiki kasus ini.
Sementara itu, gelombang empati dan kemarahan membanjiri media sosial. Banyak orang merasa melihat diri mereka sendiri dalam sosok Gao dan menyerukan perubahan mendasar dalam budaya kerja di China. “Sangat menyedihkan bahwa dia bekerja hingga detik-detik terakhir hidupnya. Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan itu,” tulis seorang warganet. “Pria bertanggung jawab ini akhirnya bisa beristirahat,” komentar lainnya. “Perusahaan yang hanya mencari keuntungan dari lembur karyawan seharusnya bangkrut,” tulis warganet lain.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan South China Morning Post dan NDTV yang dirilis pada akhir Januari dan awal Februari 2026.