Bitcoin Terjun Bebas di Bawah 78.000 Dollar AS, Kapitalisasi Pasar Terdepak dari 10 Besar Aset Global
Harga Bitcoin kembali anjlok pada Senin, 02 Februari 2026 pagi, diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS atau sekitar Rp 1,3 miliar per keping. Penurunan signifikan ini membuat aset kripto terbesar di dunia tersebut terdepak dari daftar 10 besar aset dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global.
Menurut pantauan KompasTekno di laman CoinMarketcap, kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di level sekitar 1,55 triliun dollar AS atau sekitar Rp 25.999 triliun. Data dari Infinite Marketcap menempatkan Bitcoin di peringkat ke-14 aset terbesar dunia berdasarkan nilai pasar, di bawah sejumlah aset besar seperti saham Tesla dan raksasa energi Saudi Aramco.
Penurunan Signifikan dalam Sepekan Terakhir
Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin tercatat merosot lebih dari 11 persen, dari level sekitar 90.000 dollar AS ke kisaran 78.000 dollar AS. Penurunan ini menjadi level terendah harga BTC sejak April 2025.
Kondisi ini memicu sentimen bearish atau pesimis di kalangan investor, yang berdampak pada tekanan jual kuat terhadap BTC. Akibatnya, posisi Bitcoin terus melorot setelah sebelumnya bertahan cukup lama di jajaran 10 besar aset dunia.
Sebagai perbandingan, pada Oktober 2025, Bitcoin sempat berada di peringkat ke-7 aset terbesar global, bahkan pernah menembus lima besar, mengungguli perusahaan teknologi raksasa seperti Google dan Amazon. Saat mencapai rekor harga tertingginya pada Oktober 2025, Bitcoin sempat diperdagangkan di atas 126.000 dollar AS atau kira-kira Rp 2,1 miliar, dengan valuasi mendekati 2,5 triliun dollar AS atau menyentuh sekitar Rp 41.943 triliun.
Tekanan serupa juga dirasakan oleh Ethereum (ETH), mata uang kripto terbesar kedua. ETH dilaporkan turun sekitar 14,5 persen dalam sepekan, membuat kapitalisasi pasarnya menyusut ke kisaran 300 miliar dollar AS atau setara Rp 5.032 triliun. Akibatnya, Ethereum kini berada di sekitar peringkat ke-68 aset terbesar dunia, turun dari posisi 50 besar, dan bahkan kalah nilai dari sejumlah perusahaan global seperti Coca-Cola, Cisco, dan Caterpillar.
Faktor Pemicu Anjloknya Harga Kripto
Anjloknya harga Bitcoin terjadi di tengah penguatan signifikan dollar AS. Penguatan ini dipicu oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk penunjukan Kevin Warsh sebagai figur Federal Reserve yang dinilai lebih hawkish.
Figur hawkish di bank sentral cenderung menjaga suku bunga tetap tinggi demi menekan inflasi. Hal ini berpotensi mendorong suku bunga riil lebih tinggi, yang dihitung dari suku bunga acuan dikurangi inflasi.
Dampak Suku Bunga Riil Tinggi
Suku bunga riil yang tinggi dinilai sebagai racun bagi aset berisiko, termasuk kripto. Salah satu dampaknya adalah membuat dollar AS menjadi lebih menarik bagi investor. Biaya pinjaman menjadi sangat mahal, sementara imbal hasil menabung menjadi sangat menarik karena daya beli uang meningkat.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk menarik dana dari aset-aset berisiko, termasuk kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, dan lebih memilih menyimpan uang di dollar atau obligasi AS.
Ketegangan Geopolitik dan Minat Investor Ritel
Tekanan terhadap harga Bitcoin juga berpotensi diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kepala militer Iran kembali melontarkan peringatan kemungkinan serangan terhadap Israel, di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump terkait potensi aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Analis Needham, John Todaro, menyoroti minat investor ritel terhadap Bitcoin saat ini berada di level yang sangat rendah. “Level saat ini mencerminkan ketidakpedulian yang cukup ekstrem dari investor ritel,” ujarnya, seraya memperkirakan volume perdagangan Bitcoin masih akan lesu selama satu hingga dua kuartal ke depan.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pantauan KompasTekno di CoinMarketcap, Infinite Marketcap, serta laporan dari Coin Desk dan Bloomberg.