Teknologi

Block Umumkan PHK 4.000 Karyawan, Jack Dorsey Jelaskan Pergeseran Strategi ke AI-First Infrastructure

Advertisement

Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) masih berlanjut. Kali ini, Block, perusahaan fintech rintisan mantan CEO Twitter Jack Dorsey, mengambil langkah ekstrem dengan memangkas sekitar 40 persen dari total karyawannya.

Perusahaan induk dari layanan pembayaran Square dan Cash App ini secara terbuka menyatakan ingin fokus sepenuhnya pada pemanfaatan tools dan agen AI. Keputusan efisiensi ini tercatat sebagai salah satu yang paling agresif berbasis AI di awal tahun 2026.

Efisiensi Agresif Berbasis AI

Dalam sebuah surat kepada para pemegang saham pada Kamis lalu, Jack Dorsey mengungkapkan bahwa sebanyak 4.000 karyawan terdampak efisiensi ini. Dari yang sebelumnya menampung lebih dari 10.000 orang, kini jumlah karyawan Block dipangkas hingga tersisa di bawah 6.000 orang.

Terjadi pergeseran cara pandang yang kentara di internal Block. Perusahaan kini tidak lagi melihat AI sekadar sebagai asisten bagi karyawan, melainkan sudah dianggap sebagai pengganti fungsional untuk mengotomatisasi pekerjaan.

Manajemen Block tampaknya cukup yakin bahwa agen AI generasi terbaru dan alat pemrograman otomatis sudah bisa diandalkan. Teknologi ini diproyeksikan mampu mengambil alih tugas-tugas krusial dengan ongkos operasional yang jauh lebih irit dan waktu pengerjaan yang lebih singkat ketimbang tenaga manusia.

Ambisi Jack Dorsey dan Dampak di Silicon Valley

Perombakan total susunan pekerja ini tak lepas dari ambisi Jack Dorsey. Ia berniat mengubah haluan bisnis Block menjadi perusahaan yang sepenuhnya digerakkan oleh infrastruktur AI (AI-first infrastructure).

Advertisement

Ke depannya, teknologi AI otonom bakal ditanamkan ke seluruh produk andalan Block, mulai dari divisi layanan pelanggan, software engineering, hingga analisis pemodelan keuangan. Hal ini seperti dikutip dari Arstechnica oleh KompasTekno.

Manuver Block ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi para pekerja di Silicon Valley. Narasi awal yang menyebut bahwa AI “hanya akan menciptakan lapangan kerja baru” kini mulai terpatahkan oleh realitas di lapangan, di mana mesin mulai secara harfiah menggusur posisi pekerja kerah putih (white-collar workers).

Meskipun banjir kritik terkait nasib ribuan karyawannya, langkah radikal Block ini kemungkinan besar akan diawasi ketat oleh perusahaan kompetitor dan para investor di Wall Street. Terutama bagi mereka yang terus mendesak margin keuntungan lebih besar di tengah tren AI saat ini.

Informasi lengkap mengenai efisiensi karyawan Block ini disampaikan melalui pernyataan resmi Jack Dorsey dalam surat kepada pemegang saham pada Kamis lalu.

Advertisement