Berita

BMKG Soroti Dua Bibit Siklon dan Siklon Tropis Penha, Masyarakat Diimbau Waspada Potensi Cuaca Ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Kamis, 05 Februari 2026, masih memantau keberadaan dua bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa dua sistem cuaca tersebut, yakni Bibit Siklon Tropis 98P dan Bibit Siklon Tropis 94W, berpotensi memengaruhi kondisi atmosfer dan perairan di sejumlah daerah di Tanah Air.

Pemantauan Bibit Siklon Tropis 98P

Andri Ramdhani menyampaikan bahwa Bibit Siklon Tropis 98P saat ini berada di daratan Australia barat laut. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knot atau sekitar 37 km per jam dengan tekanan udara minimum 1001 hPa.

Bibit siklon ini bergerak ke arah barat hingga barat daya, cenderung menjauhi wilayah Indonesia. Meskipun demikian, Bibit Siklon Tropis 98P tetap memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain itu, sistem ini berpotensi memicu gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa perairan. Area yang terdampak meliputi Laut Sawu, Perairan Kepulauan Leti hingga Sermata, Perairan Kepulauan Babar hingga Tanimbar, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, dan Laut Arafuru bagian barat. “Bibit Siklon Tropis 98P memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan,” jelas Andri.

Perkembangan Bibit Siklon Tropis 94W Menjadi Siklon Tropis Penha

Lebih lanjut, Andri menjelaskan bahwa Bibit Siklon Tropis 94W telah mencapai intensitas siklon tropis pada 4 Februari 2026 pukul 19.00 WIB dan kini diberi nama Siklon Tropis Penha. Siklon tropis ini terpantau berada di Laut Filipina sebelah utara Maluku Utara.

“Siklon Tropis Penha memiliki kecepatan angin maksimum yang mencapai 35 knot (65 km/jam) dan tekanan udara minimum 1000 hPa, dengan arah gerak ke arah barat menjauhi wilayah Indonesia,” ujar Andri.

Meskipun bergerak menjauh, Siklon Tropis Penha tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di Indonesia. Dampak tersebut meliputi:

  • Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.
  • Potensi angin kencang di Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.
  • Gelombang kategori sedang (1,25-2,5 meter) di Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua, Perairan Kepulauan Sangihe, dan Laut Sulawesi bagian timur.
  • Gelombang kategori tinggi (2,5-4 meter) di Perairan Kepulauan Talaud dan Samudra Pasifik utara Maluku.

Andri menambahkan, “Intensitas Siklon Tropis Penha dalam 24 jam ke depan diprakirakan masih persisten pada kategori satu.”

Imbauan BMKG untuk Masyarakat

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Kewaspadaan ini sangat penting bagi warga pesisir serta pengguna transportasi laut.

Masyarakat juga diminta untuk memantau informasi dan peringatan cuaca terbaru dari BMKG secara berkala guna mengantisipasi risiko yang dapat ditimbulkan oleh sistem cuaca tersebut.

Informasi lengkap mengenai perkembangan bibit siklon dan siklon tropis ini disampaikan melalui pernyataan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Kamis, 05 Februari 2026.