BRIN Ungkap Virus Nipah Terdeteksi pada Hewan di Indonesia, Waspada Potensi Wabah Zoonotik
Virus Nipah, penyakit zoonotik mematikan, ternyata telah terdeteksi pada sejumlah satwa liar di Indonesia. Meskipun belum ada kasus infeksi pada manusia yang tercatat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Peneliti Ahli Utama Virologi, Niluh Putu Indi Dharmayanti, memperingatkan potensi wabah yang serius jika tidak diantisipasi dengan tepat.
Deteksi Virus Nipah di Indonesia dan Kasus Global
Temuan di Satwa Liar Nasional
Niluh Putu Indi Dharmayanti menjelaskan, sejumlah penelitian ilmiah telah membuktikan keberadaan virus Nipah pada satwa liar di Indonesia. Salah satu studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi di wilayah tersebut, deteksi ini menjadi perhatian serius.
Selain itu, deteksi molekuler menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah. Penelitian lanjutan di Jawa menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.
Peringatan WHO dan Kasus di India
Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini menerima laporan penambahan dua kasus infeksi virus Nipah di India pada 13 Januari 2026. Kedua pasien, masing-masing berusia 25 tahun, merupakan petugas kesehatan di rumah sakit swasta di Barasat, distrik North 24 Parganas. Selain itu, terdapat tiga suspek lain yang terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan, yang kini dirawat di rumah sakit di Beleghata, West Bengal.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada tahun 1998 dan sejak itu terus menimbulkan kejadian berulang di beberapa negara Asia Selatan dan Tenggara.
Ancaman dan Risiko Penularan di Indonesia
Faktor Pendorong Spillover Virus
Niluh memperingatkan bahwa kondisi ekologis Indonesia sangat mendukung risiko penularan virus Nipah. Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover virus dari hewan ke manusia.
Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai dan populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies. “Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” kata Niluh.
Dampak Serius dan Ketiadaan Vaksin
Dampak virus Nipah terhadap kesehatan manusia sangat serius, dengan tingkat kematian yang tinggi. Hal ini menjadi perhatian utama karena hingga saat ini belum tersedia vaksin atau obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif, menjadikan pencegahan sebagai langkah paling krusial.
Strategi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Nasional
Rekomendasi BRIN dan Pendekatan One Health
BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. “Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia,” jelas Niluh.
Pendekatan One Health juga menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi virus Nipah, menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Niluh berharap hasil riset BRIN menjadi dasar kebijakan nasional dalam pencegahan penyakit emerging dan re-emerging.
Gejala dan Imbauan Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan, virus Nipah memiliki masa inkubasi 4-14 hari. Gejala yang mungkin muncul meliputi demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan. Gejala ini dapat diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut. Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami gejala tersebut.
Terkait potensi peningkatan kasus, Kemenkes mengeluarkan imbauan pencegahan kepada masyarakat, antara lain:
- Menghindari kontak dengan hewan, terutama kelelawar, babi, dan kuda yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah. Jika terpaksa kontak, gunakan alat pelindung diri (APD).
- Tidak mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena berpotensi terkontaminasi kelelawar.
- Selalu mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, serta membuang buah jika ada tanda gigitan kelelawar.
- Memastikan daging dimasak hingga matang sempurna.
- Menerapkan kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan hand sanitizer.
- Menerapkan etika batuk dan bersin yang tepat, serta memakai masker jika mengalami gejala, terutama bagi kelompok rentan.
- Bagi tenaga kesehatan dan keluarga pasien, menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan benar.
- Jika bepergian ke India atau negara terjangkit, mengikuti imbauan protokol kesehatan dari otoritas setempat.
Informasi lengkap mengenai deteksi virus Nipah dan upaya pencegahan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta imbauan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dirilis pada Minggu, 01 Februari 2026.