PT Perum Bulog menyiapkan stok sebanyak 70.000 kiloliter MinyaKita untuk menjamin ketersediaan pangan selama masa Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah. Langkah ini merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada Bulog untuk menyalurkan 35 persen kewajiban pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng.
Peningkatan Stok Dua Kali Lipat
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa jumlah stok yang disiapkan kali ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata bulanan. Biasanya, stok MinyaKita yang dikelola Bulog berada di kisaran 30.000 kiloliter per bulan.
“Direncanakan khusus menjelang lebaran ini kami stokkan sampai 70.000 kiloliter,” ujar Rizal saat meninjau pasokan pangan di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (20/2/2026). Ia menambahkan bahwa peningkatan volume ini bertujuan mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi Ramadan dan Lebaran tahun 2026.
Skema Distribusi dan Harga Eceran
Dalam proses penyalurannya, Bulog menerapkan skema distribusi langsung ke pengecer pasar. Skema ini menempatkan Bulog bersama dua BUMN pangan lainnya sebagai distributor tingkat pertama (D1) tanpa harus melalui distributor tingkat dua.
Bulog menjual MinyaKita kepada pengecer dengan harga Rp 14.500 per liter. Dengan skema tersebut, pengecer diharapkan dapat menjual produk kepada konsumen akhir sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter.
“Jadi harapannya masih ada spare angka Rp 1.200, saya kira cukup untuk keuntungan para pengecer di lapangan dengan harga Rp 15.700,” tutur Rizal menjelaskan margin keuntungan bagi pedagang.
Pengawasan Komoditas MinyaKita
MinyaKita merupakan merek dagang milik Kementerian Perdagangan yang diproduksi oleh pelaku usaha sebagai wujud pemenuhan kewajiban DMO. Volume produksi MinyaKita disesuaikan dengan volume ekspor crude palm oil (CPO) yang dilakukan oleh produsen.
Pemerintah mewajibkan 35 persen dari total DMO disalurkan melalui BUMN pangan guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Informasi mengenai kesiapan stok pangan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktur Utama Bulog dalam rangkaian peninjauan pasar pada 20 Februari 2026.
