Teknologi

CEO Intel Lip-Bu Tan Rekrut Arsitek Top, Tegaskan Serius Garap GPU AI untuk Data Center

Advertisement

Persaingan di industri chip kecerdasan buatan (AI) dipastikan semakin sengit pada tahun ini. Intel, raksasa teknologi yang dikenal sebagai raja prosesor PC, secara terbuka mengumumkan rencana besar untuk masuk ke wilayah kekuasaan Nvidia.

CEO Intel, Lip-Bu Tan, mengungkap bahwa perusahaannya kini tengah serius membangun unit pemrosesan grafis (GPU) yang dikhususkan untuk pusat data (data center) AI. Langkah ini diambil untuk memecah dominasi Nvidia yang selama beberapa tahun terakhir menguasai pasar infrastruktur AI global.

Intel Tantang Dominasi Nvidia

Keseriusan Intel dalam menggarap GPU AI dibuktikan dengan perekrutan talenta kelas kakap. Lip-Bu Tan mengungkapkan bahwa dirinya baru saja merekrut mantan eksekutif Qualcomm, Eric Demmers, sebagai kepala arsitek GPU (chief GPU architect) Intel.

“Saya baru saja merekrut kepala arsitek GPU, dan dia sangat bagus. Saya sangat senang dia bergabung dengan saya,” ujar Tan di sela-sela acara Cisco AI Summit, seperti dikutip dari Reuters. Tan mengakui butuh usaha ekstra untuk membujuk Demmers agar mau bergabung.

Perekrutan Talenta Kunci

Nantinya, Eric Demmers akan melapor langsung kepada bos chip data center Intel, Kevork Kechichian. Ia akan merancang GPU yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan data center.

Fokus Utama: Pusat Data AI

Fokus utama pengembangan GPU baru ini adalah data center. Tan menjelaskan bahwa pihaknya sedang bekerja intensif dengan para pelanggan untuk mendefinisikan spesifikasi produk yang benar-benar dibutuhkan industri saat ini.

“Ini (pengembangan GPU) terkait erat dengan pusat data,” tegas Tan, menekankan orientasi produk baru Intel.

Ancaman Kompetisi dari Huawei

Dalam kesempatan yang sama, Tan juga menyinggung ancaman kompetisi dari China, khususnya Huawei. Ia mengaku “kaget” saat mengetahui Huawei berhasil merekrut sekitar 100 desainer chip kelas kakap.

Advertisement

Padahal, Huawei selama ini dikekang habis-habisan oleh sanksi AS dan tidak punya akses ke perangkat lunak desain chip canggih, seperti Cadence atau Synopsys.

Strategi “Orang Miskin” Huawei

Ketika Tan bertanya mengapa para desainer tersebut mau bergabung dengan Huawei yang memiliki keterbatasan alat, jawaban mereka cukup mengejutkan. “Mereka bilang, ‘Meskipun kami tidak punya akses ke tools terbaik… kami punya cara ‘orang miskin’ untuk melakukannya, dan kami bisa melakukannya,’” cerita Tan menirukan ucapan mereka.

Tan pun memperingatkan bahwa Huawei sebenarnya hanya tertinggal sedikit di belakang. “Kalau kita tidak hati-hati, mereka akan melompat maju menyalip kita,” tegasnya, menyoroti potensi ancaman dari perusahaan Tiongkok tersebut.

Bisnis Foundry Intel Turut Bergeliat

Selain fokus mendesain GPU, bisnis pabrik (foundry) Intel juga mulai bergeliat. Tan membocorkan bahwa ada “beberapa pelanggan” yang kini sedang terlibat intens dengan Intel Foundry.

Keterlibatan ini khususnya untuk teknologi manufaktur 14A mereka yang rencananya akan digenjot produksinya akhir tahun ini. Peta persaingan chip dunia pun semakin seru dengan berbagai dinamika ini.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi CEO Intel, Lip-Bu Tan, di sela-sela acara Cisco AI Summit, seperti dikutip dari Reuters.

Advertisement