Finansial

Clarity Act: Regulasi Kripto AS Berpeluang Besar Disahkan, Akankah Memicu Lonjakan Harga Bitcoin Global?

Advertisement

Harga Bitcoin (BTC) dan aset kripto lainnya terus berfluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah kondisi pasar yang masih tertatih setelah melewati tahun yang berat, pasar kripto kini menyoroti potensi pengesahan Digital Asset Market Clarity Act (Clarity Act) di Amerika Serikat yang disebut-sebut sebagai “game-changer” dan berpeluang memicu guncangan harga masif.

Peluang Clarity Act Melonjak di Washington

Peluang lolosnya Rancangan Undang-Undang (RUU) struktur pasar kripto, Digital Asset Market Clarity Act, melonjak signifikan di platform prediksi Polymarket. Pada Minggu (22/2/2026), peluang pengesahan RUU ini mencapai 90 persen, naik drastis dari posisi terendah 40 persen pada Januari, meskipun sempat kembali turun ke kisaran 70 persen.

Presiden AS Donald Trump secara aktif mendorong Clarity Act, yang dinilai berpotensi membuka “pintu air” bagi harga kripto. Kapitalis ventura Michaël van de Poppe melalui akun X-nya menyatakan, “Clarity Act akan menjadi pemicu besar bagi pasar,” sembari menyoroti pertumbuhan stablecoin setelah pengesahan Genius Act tahun lalu.

Triliunan Dolar Menanti Regulasi Jelas

Antusiasme terhadap RUU struktur pasar kripto ini mengingatkan pada gelombang bullish yang muncul setelah pengesahan RUU stablecoin Genius Act tahun lalu. Salah satu pendiri Satoshi Action Fund, Dennis Porter, menegaskan bahwa setelah RUU ini diteken menjadi undang-undang, “pintu air akan terbuka lebar dan arus modal akan seperti yang belum pernah Anda lihat sebelumnya.”

Bintang acara Shark Tank, Kevin O’Leary, turut mengamini potensi tersebut. Ia mengungkapkan kepada Coindesk bahwa ada triliunan dolar AS yang menunggu untuk masuk ke pasar kripto. “Namun dana itu tidak bisa bergerak sampai ada regulasi dan infrastruktur kepatuhan yang jelas,” ujar O’Leary.

Pembicaraan Konstruktif di Gedung Putih dan Dukungan Tokoh Industri

Pekan ini, pertemuan antara Gedung Putih dengan kelompok kripto dan perbankan dilaporkan berlangsung konstruktif. Diskusi tersebut fokus pada solusi terkait pembayaran bunga stablecoin dalam Clarity Act yang sempat mandek. Sejumlah laporan mengindikasikan Gedung Putih mendukung perusahaan kripto untuk dapat membayarkan sebagian imbal hasil stablecoin kepada pemegangnya.

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyampaikan kepada Fox Business bahwa ia melihat peluang 90 persen Clarity Act akan lolos sebelum akhir April. Ia menilai adanya momentum baru di Washington setelah pembicaraan yang didukung Gedung Putih. Senada, CEO bursa kripto Coinbase, Brian Armstrong, melalui akun X-nya menyatakan, “Struktur pasar mengalami kemajuan besar,” dan menyebut regulasi ini sebagai kemenangan bagi industri kripto, perbankan, dan konsumen Amerika.

Advertisement

Meski demikian, Armstrong sempat menggagalkan proses pengesahan RUU ini bulan lalu ketika Coinbase menarik dukungannya secara mendadak, membatalkan pemungutan suara penting yang belum dijadwalkan ulang. Saat itu, Armstrong menyatakan Coinbase “lebih memilih tidak ada RUU dibandingkan RUU yang buruk.”

Sikap Goldman Sachs dan Pandangan Berbeda tentang Lonjakan Bitcoin

Berbicara di World Liberty Forum di resor Mar-a-Lago, Florida, CEO Goldman Sachs David Solomon menyatakan kesamaan pandangan dengan Menteri Keuangan Scott Bessent terkait RUU kripto di Senat. “Penting sekali untuk mengodifikasi sistem berbasis aturan. Itu tidak akan sempurna,” kata Solomon, menggemakan pernyataan Bessent yang menyarankan perusahaan yang ingin beroperasi tanpa aturan untuk pindah ke El Salvador.

Namun, tidak semua pihak yakin pengesahan Clarity Act atau pemangkasan suku bunga Federal Reserve akan otomatis memicu lonjakan harga Bitcoin. CEO Koinly, Robin Singh, mengingatkan agar tidak berharap katalis tersebut langsung mendorong Bitcoin ke rekor tertinggi baru atau kembali ke 100.000 dolar AS dalam waktu dekat.

Singh memperkirakan harga Bitcoin bisa bertahan di kisaran 70.000 dolar AS dalam beberapa bulan ke depan, bahkan berpotensi turun menuju 50.000 dolar AS. “Reli terbesar jarang mengikuti skenario yang jelas dan sudah diperkirakan semua orang. Pada akhirnya tetap dibutuhkan peningkatan permintaan yang nyata,” ujarnya, menambahkan bahwa banyak katalis bullish menjelang akhir 2025 kemungkinan telah tercermin pada puncak harga Oktober.

Sebagai informasi, harga Bitcoin sempat mencapai puncak 126.000 dolar AS pada Oktober sebelum kemudian terkoreksi. Pada Sabtu (22/2/2026) pukul 09.24 UTC, harga Bitcoin tercatat di level 68.042 dolar AS. Informasi mengenai peluang pengesahan Digital Asset Market Clarity Act ini dilansir dari Forbes pada Minggu (22/2/2026).

Advertisement