Finansial

Defisit Perdagangan AS Melebar 2,1 Persen Jadi Rp 20 Ribu Triliun, China Justru Cetak Surplus Terbesar Sepanjang Sejarah

Advertisement

Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) mencetak rekor baru pada tahun 2025, meskipun pemerintahan Presiden Donald Trump telah memberlakukan tarif luas terhadap hampir seluruh mitra dagang utama. Di saat yang sama, China justru mencatat surplus perdagangan terbesar sepanjang sejarahnya, menunjukkan dinamika baru dalam peta perdagangan global.

Defisit Perdagangan AS Tembus Rekor Baru

Data resmi menunjukkan kesenjangan antara nilai barang yang diimpor ke AS dan produk Amerika yang dijual ke luar negeri melebar 2,1 persen dibandingkan 2024. Angka ini mencapai sekitar 1,2 triliun dollar AS, setara sekitar Rp 20.234 triliun dengan kurs Rp 16.862 per dollar AS.

Kondisi ini bertolak belakang dengan salah satu tujuan utama Gedung Putih, yakni mengurangi defisit perdagangan. Pemerintah AS sebelumnya berargumentasi bahwa ketergantungan terhadap barang impor telah melemahkan kemampuan produksi domestik dan berisiko terhadap keamanan nasional.

Menurut Biro Analisis Ekonomi AS (Bureau of Economic Analysis), impor barang mencapai rekor 3,4 triliun dollar AS pada tahun lalu, atau setara sekitar Rp 57.330 triliun. Lonjakan ini terjadi di tengah penerapan tarif minimal 10 persen terhadap barang dari hampir seluruh negara di dunia.

Sebagian impor tersebut terjadi karena perusahaan-perusahaan AS mempercepat pembelian pada awal tahun untuk mengantisipasi rezim tarif baru. Selain itu, investasi bisnis dalam kecerdasan buatan (AI) turut mendorong permintaan, dengan impor komponen dan peralatan komputer melonjak tajam.

Di sisi lain, ekspor AS juga mencatat rekor tertinggi baru. Namun, terjadi penurunan pengiriman makanan, mobil, dan suku cadang kendaraan bermotor, dua sektor yang paling terekspos terhadap perubahan kebijakan perdagangan.

Secara keseluruhan, defisit perdagangan barang dan jasa, yang mencakup perjalanan dan layanan digital, mencapai 901,5 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 15.202 triliun. Angka ini relatif tidak berubah dibandingkan 903,5 miliar dollar AS pada 2024 atau sekitar Rp 15.236 triliun.

Pergeseran Dinamika Perdagangan AS dengan Mitra

Perdagangan AS dengan China, baik impor maupun ekspor, turun sehingga memangkas defisit sekitar 30 persen menjadi 202,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.407 triliun. Angka ini merupakan defisit terkecil dalam hampir dua dekade.

Namun, AS justru mencatat kesenjangan perdagangan rekor dengan sejumlah negara lain, termasuk Meksiko, Vietnam, dan Taiwan. Pergeseran ini menunjukkan bahwa arus perdagangan tidak berhenti akibat tarif, melainkan beradaptasi melalui relokasi rantai pasok dan diversifikasi sumber impor.

Gedung Putih menyatakan, kebijakan tarif membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil. Akan tetapi, revisi tarif yang kerap dilakukan Presiden Trump memicu ketidakpastian strategi jangka panjang.

Trump juga menggunakan ancaman tarif dalam negosiasi internasional. Misalnya, ia menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan AS akan mengenakan pajak tambahan terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran.

Mahkamah Agung AS memutuskan untuk membatalkan tarif impor Trump. Namun, pejabat Gedung Putih menyatakan siap memberlakukan kembali tarif dengan instrumen hukum berbeda.

Analis dari Wells Fargo dalam catatannya menyatakan, “Ke depan, pasti akan ada lebih banyak penyesuaian dalam rantai pasokan, tetapi kami melihat peluang untuk peningkatan impor yang moderat meskipun ada tarif di tahun mendatang.”

Sementara itu, laporan JP Morgan Chase Institute menyoroti banyak pelaku usaha telah mulai mengalihkan bisnis dari China sebelum tarif baru diberlakukan. Data bank tersebut menunjukkan impor asing secara keseluruhan relatif tidak berubah tahun lalu, meskipun pembayaran tarif bulanan hampir tiga kali lipat.

“Dampak yang lebih luas dari perubahan kebijakan perdagangan mungkin baru akan terlihat setelah jeda waktu yang signifikan,” demikian isi laporan tersebut, merujuk pada ketidakpastian kebijakan dan kesulitan mencari pemasok alternatif.

Advertisement

China Cetak Surplus Perdagangan Terbesar dalam Sejarah

Di sisi lain, China mencatat surplus perdagangan hampir 1,2 triliun dollar AS pada tahun lalu, atau setara sekitar Rp 20.234 triliun. Angka ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, sekaligus menunjukkan ketahanan ekspor China di tengah tarif tinggi dari AS.

Dikutip dari NBC News, data Administrasi Umum Kepabeanan China menunjukkan total perdagangan barang luar negeri China mencapai 45,47 triliun yuan atau 6,51 triliun dollar AS, setara sekitar Rp 109.772 triliun, naik 3,8 persen dari tahun sebelumnya.

Nilai tersebut terdiri atas ekspor 26,99 triliun yuan atau 3,8 triliun dollar AS, sekitar Rp 64.076 triliun, dan impor 18,48 triliun yuan atau 2,6 triliun dollar AS, sekitar Rp 43.841 triliun. Ekspor tumbuh 6,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara impor hanya naik 0,5 persen.

Wang Jun, Wakil Menteri pada Administrasi Kepabeanan China, mengatakan pertumbuhan ekspor ke pasar negara berkembang seperti Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika lebih cepat dibandingkan rata-rata keseluruhan. “Mitra dagang lebih beragam, dan kemampuan untuk menahan risiko telah meningkat secara signifikan,” ujar Wang dalam konferensi pers di Beijing, seraya menambahkan bahwa fundamental perdagangan luar negeri China tetap solid.

Surplus perdagangan tahunan China melampaui 1 triliun dollar AS untuk pertama kalinya pada November, dibandingkan surplus 992 miliar dollar AS sepanjang 2024. China mencatat surplus bulanan lebih dari 100 miliar dollar AS sebanyak tujuh kali sepanjang tahun lalu, sebagian didorong oleh pelemahan yuan.

Secara keseluruhan, ekspor tetap kuat meskipun ekspor ke AS turun 28 persen pada 2025, menurut laporan perusahaan data pengiriman Project 44.

Dampak Tarif dan Restrukturisasi Rantai Pasok Global

Sejak kembali menjabat pada Januari tahun lalu, Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap barang-barang China, menyalahkan defisit perdagangan AS terhadap praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Beberapa putaran tarif balasan dari kedua negara membuat bea masuk melonjak hingga 145 persen, yang oleh sejumlah analis disebut setara dengan embargo perdagangan efektif.

Meskipun Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober sepakat memperpanjang gencatan senjata dagang selama satu tahun, tarif AS atas barang China tetap berada pada 47,5 persen. Para ahli menilai tarif tersebut terlalu tinggi bagi eksportir China untuk memperoleh keuntungan.

Tianchen Xu, ekonom senior di Economist Intelligence Unit, mengatakan eksportir China berhasil menavigasi tarif AS dengan memanfaatkan pasar lain. “Mereka juga telah merestrukturisasi rantai pasokan dengan mengalihkan manufaktur kelas bawah ke negara-negara ketiga di Asia Tenggara dan tempat lain yang menghadapi tarif AS yang lebih rendah,” ujar Xu. “Ini berarti barang-barang buatan China kini menjadi kebutuhan global,” tambahnya.

Peningkatan ekspor China ke negara selain AS memicu kekhawatiran pasar akan dibanjiri produk murah yang mengancam produsen domestik. Henry Gao, profesor hukum di Singapore Management University yang berspesialisasi dalam perdagangan internasional, menyatakan, “Jika bahkan AS dan Uni Eropa kesulitan menyerap lonjakan ekspor Tiongkok tanpa menggunakan taktik pertahanan perdagangan, hanya sedikit negara lain yang berada dalam posisi lebih baik untuk menghadapinya.”

Di tengah ketegangan tersebut, ekspor AS ke China juga menurun. Situasi berpotensi makin memanas setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif 25 persen terhadap negara yang tetap berbisnis dengan Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, sebagai mitra dagang terbesar Iran, menyatakan, tidak ada pemenang dalam perang tarif, dan China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum. Trump pada kesempatan terpisah mengatakan ia menilai China dapat membuka pasar lebih luas bagi barang AS, kembali menyinggung hubungan yang sangat baik dengan Xi. “Saya rasa ini akan terjadi,” kata Trump tanpa merinci lebih lanjut.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan Biro Analisis Ekonomi AS dan Administrasi Umum Kepabeanan China yang dirilis pada Minggu, 22 Februari 2026.

Advertisement