Berita

Deforestasi Hutan Atlantik Brasil Picu Nyamuk Lebih Suka Gigit Manusia, Tingkatkan Risiko Penyakit

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution pada tahun 2026 mengungkapkan bahwa deforestasi hutan dapat menyebabkan nyamuk lebih suka menggigit darah manusia. Studi ini berfokus pada nyamuk-nyamuk yang ditemukan di Hutan Atlantik Brasil, sebuah ekosistem kaya keanekaragaman hayati yang membentang di sepanjang garis pantai Brasil.

Hutan Atlantik Brasil merupakan rumah bagi ratusan spesies burung, amfibi, reptil, mamalia, dan ikan. Namun, akibat ekspansi manusia, kini hanya sekitar sepertiga dari luas hutan aslinya yang masih tersisa, mendorong hewan-hewan lain keluar dari habitat alaminya.

Deforestasi dan Perubahan Preferensi Nyamuk

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara deforestasi dan perubahan preferensi inang nyamuk. Nyamuk yang sebelumnya menghisap darah dari berbagai jenis inang diduga mulai menjadikan manusia sebagai target baru untuk memenuhi kebutuhan darahnya.

“Kami menunjukkan bahwa spesies nyamuk yang kami tangkap di sisa-sisa Hutan Atlantik memiliki preferensi jelas untuk menghisap darah manusia,” ujar Dr. Jeronimo Alencar, ahli biologi dari Oswaldo Cruz Institute di Rio de Janeiro, seperti dilansir dari Frontiers.

Dr. Sergio Machado, peneliti mikrobiologi dan imunologi dari Federal University of Rio de Janeiro, menambahkan, “Hal ini menjadi sangat krusial karena di lingkungan seperti Hutan Atlantik yang memiliki keragaman vertebrata tinggi, preferensi terhadap manusia secara signifikan meningkatkan risiko penularan patogen.”

Metodologi dan Temuan Kunci Penelitian

Para peneliti menggunakan perangkap cahaya untuk menangkap nyamuk di dua kawasan konservasi alam di negara bagian Rio de Janeiro, yaitu Sitio Recanto Preservar dan Cagar Alam Sungai Guapiacu. Nyamuk betina yang perutnya berisi darah kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

DNA dari darah tersebut diekstraksi menggunakan teknik sekuensing DNA untuk mengidentifikasi spesies sumber darah. Total 1.714 nyamuk dari 52 spesies berbeda berhasil ditangkap, dengan 145 nyamuk betina ditemukan mengandung darah dari berbagai spesies.

Dari 24 nyamuk yang berhasil diidentifikasi sumber darahnya, 18 berasal dari manusia, 1 amfibi, 6 burung, 1 kanid (keluarga anjing), dan 1 tikus. Beberapa nyamuk bahkan menghisap darah dari lebih dari satu sumber. Contohnya, spesies Cq. venezuelensis menghisap darah amfibi dan manusia, sementara Cq. fasciolata menghisap darah hewan pengerat dan burung, serta kombinasi burung dan manusia.

Faktor Pemicu dan Risiko Penularan Penyakit

Dr. Alencar menjelaskan bahwa perilaku nyamuk sangat kompleks. “Meski beberapa spesies memiliki preferensi bawaan, ketersediaan dan kedekatan inang merupakan faktor yang sangat berpengaruh,” katanya.

Dr. Machado mengemukakan bahwa semakin sedikitnya pilihan inang bagi nyamuk akibat deforestasi, nyamuk akan mencari inang paling dominan di wilayah tersebut. “Mereka akhirnya lebih sering menghisap darah manusia, karena faktor kemudahan, mengingat manusia menjadi inang paling dominan di wilayah tersebut,” jelas Machado.

Gigitan nyamuk bukan sekadar menimbulkan rasa gatal, melainkan dapat menularkan berbagai virus berbahaya seperti demam kuning, dengue, Zika, Mayaro, Sabia, dan chikungunya. Semua virus ini berpotensi menyebabkan penyakit serius dengan dampak jangka panjang bagi kesehatan manusia.

Implikasi dan Rekomendasi untuk Pengendalian

Para peneliti menekankan pentingnya mempelajari perilaku pencarian makanan nyamuk untuk memahami dinamika ekologi dan epidemiologi patogen yang mereka sebarkan. Mereka juga menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut dengan data yang lebih kaya serta metode yang lebih mampu mengidentifikasi campuran sumber darah.

“Mengetahui bahwa nyamuk di suatu wilayah memiliki preferensi kuat terhadap manusia menjadi peringatan akan risiko penularan penyakit,” kata Machado. “Hal ini memungkinkan pengawasan dan upaya pencegahan lebih terarah.”

Dr. Alencar menambahkan, “Dalam jangka panjang, temuan ini dapat mendorong strategi pengendalian yang mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.”

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui penelitian yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution pada tahun 2026.