Berita

Dokter UI Ungkap Dampak Rokok Dekat Anak: Kerusakan Otak hingga Jantung Permanen, Bukan Hanya Paru

Sebuah insiden viral baru-baru ini memperlihatkan seorang pria yang merokok sambil berkendara dan membonceng anak kecil, memicu perdebatan mengenai kesadaran orang tua akan bahaya asap rokok. Banyak orang tua belum sepenuhnya memahami dampak serius dari aktivitas merokok di dekat anak, padahal paparan asap rokok dapat memicu gangguan kesehatan jangka panjang.

Dampak Asap Rokok pada Anak: Lebih dari Sekadar Gangguan Pernapasan

Dokter spesialis anak konsultan respirologi dari Universitas Indonesia (UI), dr Darmawan Budi Setyanto SpA(K), menegaskan bahwa perokok aktif yang merokok di dekat anak dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tubuh. Kerusakan ini tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga meluas hingga sistem saraf pusat.

“Bahayanya bukan cuma ke sistem respiratori atau pernapasan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki itu kena dampaknya. Sistem saraf otak bisa terkena, jantung kena, pencernaan kena, dan efeknya tidak perlu menunggu sampai dewasa,” terang dr Darmawan pada Rabu (28/1/2026), dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan bahwa anak yang berada di lingkungan perokok dapat menjadi second hand smoker, yaitu terpapar langsung asap rokok, maupun third hand smoker, yaitu menghirup residu asap rokok yang menempel di dinding, pakaian, tempat duduk, hingga lingkungan tempat tinggal.

Menurut Darmawan, dampak pajanan asap rokok tidak terjadi secara instan, melainkan berlangsung dalam waktu lama dan bersifat kumulatif, sehingga kerusakan organ dapat semakin parah seiring waktu.

Risiko Jangka Panjang: Kecerdasan, Perilaku, dan Penyakit Kronis

Paparan asap rokok juga dapat berdampak pada prestasi anak di sekolah karena mengganggu kecerdasan dan memicu gangguan perilaku, seperti ADHD atau hiperaktivitas. Selain itu, asap rokok merusak sistem saluran napas sehingga anak lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Anak-anak yang terpajan asap rokok lebih gampang kena ISPA. Asap rokok itu polusi. Kalau ditambah polusi luar seperti asap kendaraan, efeknya makin kumulatif,” ujarnya.

Darmawan menambahkan, paparan asap rokok sejak kecil juga meningkatkan risiko penyakit paru kronik dan penyakit jantung ketika anak beranjak dewasa, terutama jika paparan tersebut terus berlangsung.

Pencegahan dan Peringatan Dokter

Upaya paling penting untuk mengurangi kerusakan organ adalah menghentikan paparan asap rokok sedini mungkin dan melakukan terapi bila sudah muncul gejala penyakit. Namun, dr Darmawan mengingatkan bahwa kerusakan pada saraf pusat yang memengaruhi kecerdasan anak berpotensi bersifat permanen dan sulit diperbaiki.

“Anak-anak yang terpajan rokok sejak kecil jangan berharap jadi generasi emas. Bisa jadi generasi cemas dan lemas,” pungkasnya.

Informasi lengkap mengenai dampak paparan asap rokok pada anak disampaikan melalui pernyataan resmi dr Darmawan Budi Setyanto SpA(K) yang dirilis pada 28 Januari 2026.