Teknologi

Dorongan Booming AI: Samsung Ungkap Laba Operasional Rekor Rp 234 Triliun pada Kuartal IV-2025

Raksasa teknologi global, Samsung Electronics, mencatat kinerja keuangan yang gemilang pada kuartal IV-2025. Perusahaan berhasil membukukan laba operasional tertinggi sepanjang sejarahnya untuk periode satu kuartal, mencapai 20,1 triliun won atau setara Rp 234 triliun. Pencapaian fantastis ini didorong oleh lonjakan permintaan memori akibat booming tren kecerdasan buatan (AI) global.

Kinerja Keuangan Samsung Mencetak Sejarah Baru

Pada periode Oktober hingga Desember 2025, Samsung berhasil mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar 93,8 triliun won (sekitar Rp 1.093 triliun). Angka laba operasional sebesar 20,1 triliun won (sekitar Rp 234 triliun) menjadi yang tertinggi dalam sejarah perusahaan untuk periode satu kuartal.

Pencapaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kuartal IV-2024, di mana pendapatan konsolidasi Samsung tercatat 75,8 triliun won (sekitar Rp 883 triliun) dengan laba operasional hanya 6,5 triliun won (sekitar Rp 75,7 triliun). Dengan demikian, laba operasional pada kuartal IV-2025 melonjak tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, total pendapatan konsolidasi Samsung sepanjang tahun 2025 mencapai 333,6 triliun won (sekitar Rp 3.874 triliun). Sementara itu, laba operasional perusahaan untuk seluruh tahun 2025 tercatat sebesar 43,6 triliun won (sekitar Rp 506 triliun).

Divisi Memori Jadi Penopang Utama Laba Samsung

Divisi Samsung Device Solutions (DS), yang membawahi bisnis memori, memainkan peran krusial dalam pertumbuhan laba perusahaan. Pada periode Oktober-Desember 2025, divisi ini membukukan pendapatan sebesar 44 triliun won (sekitar Rp 512 triliun) dengan laba operasional mencapai 16,4 triliun won (sekitar Rp 191 triliun).

Kontribusi divisi DS ini menyumbang hampir separuh dari total pendapatan Samsung pada kuartal IV-2025. Pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan akan Dynamic Random Access Memory (DRAM) konvensional serta peningkatan penjualan High Bandwidth Memory (HBM).

Profitabilitas produk seperti RAM DDR5 server dan SSD enterprise juga dilaporkan meningkat signifikan. Untuk kuartal I-2026, divisi ini diperkirakan masih akan mendapatkan dorongan kuat dari booming AI, dengan proyeksi peningkatan penjualan penyimpanan NAND seperti SSD.

Bisnis Smartphone dan Jaringan Tunjukkan Laba Stabil

Selain memori, divisi Mobile Experience (MX) yang mengelola bisnis smartphone dan divisi Network Business juga menunjukkan performa positif. Kedua divisi ini secara konsolidasi membukukan pendapatan sebesar 29,3 triliun won (sekitar Rp 341 triliun) serta laba operasi 1,9 triliun won (sekitar Rp 22,1 triliun) pada kuartal IV-2025.

Samsung mengklaim bahwa divisi MX berhasil meraih laba tahunan dua digit sepanjang tahun 2025. Pencapaian ini didukung oleh penjualan ponsel flagship serta permintaan yang stabil untuk produk tablet dan perangkat wearable.

Meskipun demikian, penjualan ponsel secara spesifik mengalami penurunan pada kuartal IV-2025, meski rincian penurunannya tidak diungkapkan. Untuk mengatasi hal ini, Samsung berencana menghadirkan pengalaman AI tingkat lanjut pada ponsel flagship tahun 2026, disertai desain yang lebih ramping dan ringan.

Tantangan di Bisnis Kamera dan Layar

Di sisi lain, divisi System LSI yang menangani bisnis kamera mencatat penurunan pada triwulan akhir 2025. Samsung menjelaskan bahwa lesunya pertumbuhan divisi ini disebabkan oleh melemahnya permintaan musiman. Kendati demikian, penjualan sensor kamera 200 MP dan 50 MP diklaim meningkat dan diproyeksikan akan terus bertumbuh pada kuartal I-2026.

Divisi Visual Display dan Digital Appliances, yang mengelola bisnis layar, membukukan kerugian operasional sebesar 600 miliar won (sekitar Rp 6,9 triliun). Kerugian ini diakibatkan oleh persaingan yang semakin ketat, menekan margin keuntungan, meskipun penjualan produk premium seperti Neo QLED dan OLED tetap solid dengan pendapatan 14,8 triliun won (sekitar Rp 171 triliun).

Sementara itu, bisnis lainnya seperti Harman yang mencakup perangkat audio, berhasil meraih pendapatan 4,6 triliun won (sekitar Rp 53 triliun) serta laba operasional 300 miliar won (sekitar Rp 3,4 triliun).

Informasi lengkap mengenai laporan keuangan Samsung ini dihimpun dari KompasTekno melalui Sammy Guru, yang dirilis pada periode laporan keuangan kuartal IV-2025.