Berita

DPR Soroti Potensi Gangguan Mobilitas Penyeberangan Jawa-Bali Akibat Nyepi dan Lebaran Berdekatan

Advertisement

Komisi V DPR RI meminta pemerintah mengantisipasi dampak penghentian sementara operasional penyeberangan di lintasan Jawa-Bali dan Bali-Lombok. Permintaan ini muncul karena perayaan Hari Raya Nyepi bertepatan dengan periode arus mudik Lebaran 2026, yang berpotensi memengaruhi mobilitas masyarakat secara signifikan.

DPR Soroti Potensi Gangguan Mobilitas

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyampaikan permintaan tersebut kepada Menteri Perhubungan dan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dalam rapat koordinasi persiapan mudik Lebaran 2026 pada Rabu, 11 Maret 2026. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi.

“Pemerintah harus mengantisipasi atas penghentian sementara layanan operasional penyeberangan di lintasan Jawa-Bali dan Bali-Lombok di hari-hari yang bertepatan dengan arus mudik dan perayaan Idul Fitri dengan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948,” tegas Lasarus di Gedung DPR RI.

Lasarus menambahkan, “Mohon izin, Pak Menteri Perhubungan dan dari teman-teman dari Korlantas, ini dapat dikoordinasikan secara baik, Pak, karena ini hampir di hari yang bersamaan. Tapi, kesibukannya sudah masuk di hari yang bersamaan, Pak, ini, ya, perayaan Idul Fitri tahun 2026 dengan perayaan Nyepi tahun ini, ya, tahun 1948 Saka.”

Jadwal Nyepi dan Idulfitri 2026

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 akan berlangsung pada 19 Maret 2026. Sementara itu, Hari Raya Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

Kedekatan dua perayaan besar ini berarti Nyepi akan berlangsung di tengah periode arus mudik Lebaran, menciptakan potensi hambatan mobilitas, khususnya di jalur penyeberangan yang vital menghubungkan Jawa dan Bali.

Proyeksi Arus Mudik Lebaran 2026

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebelumnya memperkirakan puncak arus mudik Lebaran 2026 akan terjadi dalam dua gelombang.

Advertisement

“Untuk arus baliknya, puncaknya diperkirakan akan jatuh pada tanggal 24, 25 Maret, lalu yang kedua di tanggal 28 dan 29 Maret,” ujar AHY dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Rabu.

AHY menyebutkan, potensi pergerakan masyarakat selama periode mudik Lebaran tahun ini diperkirakan mencapai 143,9 juta perjalanan. Tujuan mudik terbanyak diprediksi menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

Dominasi Kendaraan Pribadi dan Beban Jalan Raya

Dari sisi moda transportasi, kendaraan pribadi diperkirakan masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk mudik. “Ini top ten-nya seperti ini. Tetap yang sangat dominan adalah menggunakan mobil-mobil pribadi, diperkirakan 52 persennya sendiri,” kata AHY.

Selain mobil pribadi, moda transportasi yang juga banyak digunakan adalah sepeda motor dan bus umum. Kapal penyeberangan, pesawat terbang, kereta api antarkota, dan kapal laut berada di bawah penggunaan kendaraan pribadi dan bus.

“Jadi, bisa dibayangkan bahwa memang bicara mudik berarti beban utama ada di jalan-jalan raya, baik jalan tol, jalan nasional, termasuk jalan-jalan arteri yang kemudian akan digunakan menuju ke kabupaten/kota tujuan masyarakat,” pungkas AHY.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Komisi V DPR RI dan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang dirilis pada Rabu, 11 Maret 2026.

Advertisement