Proyek pembangunan Flyover Latumenten di Grogol, Jakarta Barat, memicu kemacetan parah dan keluhan warga. Kondisi ini mendorong anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, untuk melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pada Senin (23/2/2026).
Legislator yang akrab disapa Bang Kent itu turun langsung setelah menerima banyak laporan masyarakat yang mengeluhkan penyempitan jalur selama proyek berlangsung, menyebabkan antrean kendaraan mengular.
Temuan di Lapangan: Penyempitan Jalan dan Titik Rawan
Saat meninjau lokasi, Hardiyanto Kenneth mendapati bahwa Jalan Latumenten yang semula memiliki tiga lajur kini menyempit drastis menjadi hanya satu lajur aktif. “Banyak warga komplain ke saya. Proses pembangunan ini bikin macet luar biasa karena ada penyempitan jalan,” tegas Kenneth.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu juga menyoroti keberadaan angkot JakLingko yang berhenti tepat setelah perlintasan kereta api. Menurutnya, titik berhenti tersebut berada di lokasi yang sangat rawan penumpukan kendaraan.
“Angkot berhenti persis setelah perlintasan kereta. Ini memperparah kemacetan. Harusnya titik berhenti digeser sedikit ke depan setelah posisi bottle neck, supaya arus kendaraan tetap bergerak,” ujar Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas RI ini.
Truk Kontainer dan Bus Besar Perparah Kondisi
Kemacetan kian kompleks dengan masih melintasnya truk kontainer dan bus berukuran besar di ruas jalan yang kini menyempit. Kenneth menilai, selama proyek berlangsung, kendaraan besar seharusnya dialihkan ke jalur alternatif guna mengurangi beban lalu lintas.
“Truk kontainer dan bus besar masih lewat sini. Dengan kondisi tinggal satu lajur, ini jelas tidak ideal. Saya minta Dinas Perhubungan DKI Jakarta segera cari solusi konkret,” tuturnya.
Desakan Solusi Cepat untuk Warga
Kepala BAGUNA DPD PDI Perjuangan Jakarta itu menegaskan bahwa proyek strategis tidak boleh mengorbankan kenyamanan dan keselamatan warga. “Kita semua mendukung pembangunan Flyover Latumenten ini karena tujuannya baik, untuk mengurai kemacetan akibat perlintasan kereta. Tapi jangan sampai prosesnya justru menyengsarakan masyarakat setiap hari,” tegasnya.
Kenneth mendesak Dinas Perhubungan untuk segera menerapkan pengaturan lalu lintas yang lebih tegas, pengawasan di lapangan yang konsisten, serta solusi cepat untuk kendaraan besar maupun titik berhenti angkot. “Kalau bisa diantisipasi sekarang, kenapa harus tunggu makin parah? Saya akan terus kawal proyek ini sampai benar-benar memberi manfaat bagi warga, bukan malah menambah beban di jalan,” pungkasnya.
Respons Dinas Perhubungan DKI
Secara terpisah, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ujang Harmawan, menyatakan pihaknya telah mengimbau pengguna jalan untuk mencari rute alternatif. Namun, untuk pembatasan kendaraan besar, pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian Perhubungan.
“Kami akan koordinasi dengan pengusaha angkutan wilayah barat. Pemprov juga sudah bersurat ke pusat. Nanti akan kami update,” ujar Ujang.
Tujuan Proyek dan Tantangan Saat Ini
Proyek Flyover Latumenten sendiri dibangun dengan panjang sekitar 380 meter dan digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan akibat perlintasan kereta api di kawasan tersebut. Setelah rampung, Jalan Latumenten direncanakan hanya digunakan sebagai akses kendaraan umum.
Namun, sebelum manfaat itu benar-benar dirasakan, warga Grogol kini harus menghadapi kenyataan pahit kemacetan harian yang makin tak terkendali. Tanpa rekayasa lalu lintas yang matang dan pengawasan ketat di lapangan, proyek yang ditujukan untuk mengurai kemacetan justru berisiko menjadi sumber kemacetan baru.
Informasi lengkap mengenai inspeksi dan temuan ini disampaikan melalui keterangan resmi Hardiyanto Kenneth pada Senin (23/2/2026).
