Edukasi

Ekamaida, Dosen Universitas Malikussaleh dan Awardee LPDP, Resmi Raih Gelar Doktor dari IPB University

Advertisement

Ekamaida, seorang dosen dari Program Studi Agribisnis Universitas Malikussaleh, Aceh, berhasil meraih gelar Doktor dari IPB University. Pencapaian ini diraih melalui dukungan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, sekaligus membuktikan keteguhan hatinya di tengah berbagai tantangan pribadi.

Perjalanan Akademik dan Dukungan IPB University

Ekamaida menyelesaikan studi doktoralnya di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) IPB University. Selama menempuh pendidikan, ia merasakan dukungan penuh dari lingkungan akademik kampus.

“Dengan dosen, pembimbing, staf akademik, semua sangat suportif. Di IPB saya merasa nyaman,” ujar Ekamaida, seperti dikutip dari situs resmi IPB University.

Dukungan tersebut menjadi faktor penting dalam kelancaran proses belajarnya, terutama saat menyelesaikan disertasi.

Kegagalan Awal dan Keberhasilan Meraih Beasiswa LPDP

Sebelum berhasil menempuh pendidikan S3 di IPB, Ekamaida sempat menghadapi kendala. Pada tahun 2019, ia mencoba mendaftar beasiswa dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) namun gagal, yang menyebabkan rencana studinya tertunda.

Tidak menyerah, Ekamaida kemudian mencoba peruntungan melalui beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan. “Alhamdulillah saya lulus LPDP, lalu mendaftar kembali pada 2020 dan mulai kuliah di IPB University,” tuturnya.

Ia memandang kegagalan sebelumnya sebagai bagian dari takdir. “Mungkin saat itu belum rezeki saya. Allah ganti dengan LPDP, dan itu rezeki luar biasa,” ungkapnya.

Tantangan Ganda sebagai Ibu dan Mahasiswa Doktoral

Ekamaida mengakui bahwa tantangan terbesar selama studi doktoralnya berasal dari perannya sebagai seorang ibu. Ia harus terpisah ribuan kilometer dari keluarganya di Aceh dan kerap harus pulang mendadak untuk mengurus buah hatinya yang mengalami skoliosis.

Advertisement

“Hambatan terbesar karena saya harus berperan ganda. Anak saya ada kondisi skoliosis, jadi kadang saya harus pulang mendadak. Ditambah kondisi kesehatan pribadi, itu cukup menguras energi,” ungkap Ekamaida.

Tuntutan penelitian yang tinggi, perjalanan panjang antara Aceh dan Bogor, serta rasa cemas sebagai ibu seringkali ia hadapi secara bersamaan. Momen kelelahan dan keinginan untuk menyerah pun sempat menghampirinya.

“Saya sering lelah, tapi melihat anak membuat saya ingat alasan mengapa harus terus maju,” katanya.

Namun, dukungan dari para pembimbing, keluarga, dan teman-teman menjadi kekuatan pendorong. “Insyaallah kalau kita mau berusaha, jalan selalu ada,” ujarnya, menegaskan bahwa mimpi tidak boleh berhenti hanya karena keadaan.

“Tapi mimpi tidak boleh berhenti hanya karena keadaan. Selama ada ikhtiar dan doa, Allah akan bukakan jalan,” tutup Ekamaida.

Informasi lengkap mengenai perjalanan akademik dan inspirasi Ekamaida ini disampaikan melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh IPB University.

Advertisement