Fakta Ilmiah Ungkap Samudra Pasifik Lebih Tinggi 20 Cm dari Atlantik, Berdampak pada Sejarah Terusan Panama
Banyak yang mengira permukaan seluruh samudra di dunia rata, namun fakta ilmiah menunjukkan Samudra Pasifik secara konsisten lebih tinggi dibandingkan Samudra Atlantik. Perbedaan ketinggian rata-rata sekitar 20 sentimeter ini, menurut data NASA, menjadi salah satu dinamika alam yang turut mewarnai ambisi besar pembangunan Terusan Panama.
Mengapa Permukaan Samudra Berbeda Ketinggian?
Perbedaan ketinggian ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor fisik kompleks. Air laut di Samudra Pasifik cenderung lebih hangat dan memiliki tingkat salinitas yang lebih rendah dibandingkan Atlantik. Kondisi ini menyebabkan air Pasifik memiliki kepadatan yang lebih rendah, sehingga volumenya mengembang dan permukaannya menjadi lebih tinggi.
Selain itu, pola angin global dan arus laut dominan secara terus-menerus mendorong massa air ke arah tepi benua, menciptakan efek “penumpukan” air di wilayah tertentu. Faktor gravitasi dari benua, pulau besar, bahkan gunung bawah laut juga berperan, secara halus memengaruhi distribusi air laut dan membuat permukaan laut global tidak membentuk bidang datar sempurna, dengan variasi hingga tiga meter di beberapa wilayah.
Ambisi Perancis dan Kesalahan Fatal di Terusan Panama
Ketidakrataan permukaan laut ini sempat menjadi bahan perdebatan saat perencanaan pembangunan Terusan Panama pada akhir abad ke-19. Namun, ironisnya, faktor tersebut bukanlah tantangan terbesar yang dihadapi para insinyur Perancis.
Proyek ambisius ini dipimpin oleh Ferdinand de Lesseps, sosok di balik keberhasilan pembangunan Terusan Suez di Mesir. Berbekal pengalaman tersebut, tim Perancis berasumsi bahwa Terusan Panama dapat dibangun dengan pendekatan serupa, yakni terusan setinggi permukaan laut tanpa sistem pintu air. Asumsi inilah yang kemudian menjadi kesalahan fatal.
Berbeda dengan bentang alam Suez yang relatif datar dan kering, Panama menyuguhkan medan bergunung-gunung, tanah labil, hutan lebat, serta rawa-rawa yang menjadi sarang penyakit tropis. Para pekerja proyek harus menghadapi longsoran tanah, banjir, serta wabah malaria dan demam kuning yang merenggut ribuan nyawa.
Seorang profesor teknik geologi, J. David Rogers, menyebut kegagalan tersebut sebagai akibat dari kesalahan memahami kompleksitas alam Panama.
“Mereka tidak sepenuhnya menyadari betapa besar dan rumitnya tantangan yang dihadapi. Ini seperti mencoba menyatukan dua dunia yang sangat berbeda,” ujarnya.
Amerika Serikat Ubah Pendekatan, Terusan Panama Berhasil Dibangun
Setelah proyek Perancis resmi ditinggalkan pada 1889, gagasan membangun terusan sempat terhenti selama beberapa dekade. Baru pada awal abad ke-20, Amerika Serikat mengambil alih inisiatif tersebut.
Dengan pendekatan teknik yang berbeda dan pemahaman geografi yang lebih matang, AS memulai kembali pembangunan Terusan Panama pada 1904. Kunci keberhasilan proyek ini terletak pada penerapan sistem pintu air atau locks.
Alih-alih memaksa terusan sejajar dengan permukaan laut, para insinyur Amerika merancang sistem yang memungkinkan kapal diangkat hingga sekitar 26 meter di atas permukaan laut menuju Danau Gatun. Dari sana, kapal melintasi bagian tengah Panama sebelum secara bertahap diturunkan kembali ke permukaan laut di sisi lainnya.
Sistem ini memanfaatkan air tawar yang mengalir secara gravitasi, menjadikannya solusi cerdas atas tantangan topografi Panama. Pendekatan tersebut terbukti efektif dan jauh lebih realistis dibandingkan konsep awal Perancis.
Pada 1914, Terusan Panama akhirnya resmi dibuka dan langsung mengubah peta perdagangan global. Lebih dari satu abad kemudian, Terusan Panama masih berdiri sebagai salah satu pencapaian teknik terbesar dalam sejarah manusia. Kisah pembangunannya menjadi pengingat bahwa alam memiliki dinamika kompleks yang tidak bisa disederhanakan.
Informasi lengkap mengenai perbedaan ketinggian samudra dan sejarah Terusan Panama disampaikan melalui berbagai studi ilmiah dan catatan sejarah yang dirilis oleh lembaga seperti NASA dan institusi teknik geologi.