Menempuh pendidikan tinggi seringkali menjadi fase mandiri yang memisahkan seseorang dari keluarga. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Fenny Tasya Zalsabiella dan Femmy Michellyvia, kakak-beradik asal Medan yang memilih menempuh perjalanan akademik bersama di James Cook University (JCU) Singapore. Keputusan ini merupakan hasil pertimbangan matang dalam menghadapi sistem pendidikan global yang cepat dan menuntut disiplin tinggi.
Saat ini, Fenny menempuh program Master of Business Administration (MBA) dengan fokus Finance, sementara Femmy mengambil program Bachelor of Commerce jurusan Accounting. Keduanya kuliah di kampus yang sama dalam waktu berdekatan, bahkan memulai proses pendaftaran hingga persiapan bahasa Inggris bersama.
Pilihan Strategis Studi Singkat di JCU Singapura
Dengan selisih usia lima tahun, Fenny memiliki pengalaman lebih panjang, termasuk menyelesaikan studi S1 Computer Science di Indonesia dan bekerja selama tiga tahun di perusahaan pertambangan nikel. Meski berlatar belakang teknologi informasi (IT), Fenny bekerja di bidang human resources (HR) yang turut bersinggungan dengan finance, menumbuhkan ketertarikannya terhadap dunia keuangan.
Sementara itu, Femmy yang baru lulus sekolah menengah atas (SMA) tertarik melanjutkan pendidikan ke JCU Singapore pada Januari 2025. Salah satu pertimbangan utamanya adalah durasi studi yang relatif lebih singkat dibandingkan kampus lain, terutama di Indonesia. Program Bachelor (S1) dapat diselesaikan dalam dua tahun, sedangkan program Master (S2) ditempuh dalam satu tahun.
“Untuk adik, saya saranin dia karena di JCU cuma dua tahun, sedangkan di tempat lain empat tahun. Untuk S2 di JCU satu tahun, sedangkan di Indonesia dan kampus lain dua tahun,” ujar Fenny kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Adaptasi Cepat di Lingkungan Multikultural
Belajar di luar negeri menghadirkan tantangan tersendiri, terutama bahasa Inggris yang menjadi bahasa utama dalam diskusi kelas, tugas, maupun interaksi sehari-hari. Meski telah mengikuti kursus bahasa Inggris, Fenny dan Femmy merasakan kegugupan di awal.
“Pertama masuk agak kagok karena dulu belajarnya semua dalam Bahasa Indonesia, sekarang semuanya dalam Bahasa Inggris,” kata Fenny. Perbedaan bahasa dan budaya juga dirasakan Femmy, bahkan selera humor sempat menjadi hambatan dalam berinteraksi. “Akhirnya jarang keluarin jokes karena pasti beda dan mereka enggak bakal ketawa,” ungkapnya.
Seiring waktu, Femmy dan Fenny mulai terbiasa. Lingkungan multikultural di kampus membuat suasana belajar menjadi lebih cair dan nyaman, membantu mereka beradaptasi dengan cepat.
Ritme Akademik Intensif dan Pembentukan Disiplin
Fenny mengaku perbedaan paling terasa antara sistem perkuliahan di Indonesia dan Singapura adalah tempo belajar. Di JCU, satu semester berlangsung sekitar tiga setengah bulan tanpa jeda panjang. Tugas datang hampir setiap pekan sehingga mahasiswa dituntut selalu siap dan terorganisasi.
“Saya pernah enggak ngikutin satu mata kuliah. Kalau enggak ikut satu hari saja, benar-benar bisa ketinggalan. Materi hari ini bisa langsung berkaitan dengan tugas minggu depan,” ujar Fenny. Sistem tersebut membentuk disiplin dan manajemen waktu yang kuat, membuat Fenny terbiasa mencicil tugas sejak awal dan belajar mandiri.
Dua Fokus Akademik dan Prestasi di Kampus
Meski telah bekerja di bidang finance, Fenny mengaku pembelajaran teori tetap menjadi tantangan. Salah satu mata kuliah yang cukup menantang adalah Corporate Finance karena menuntut ketelitian analisis dan perhitungan. “Kalau mata kuliah yang paling saya suka Leadership Future karena benar-benar kepakai untuk saya ke depannya. Ini mengajarkan kita bagaimana menjadi seorang leader di masa depan,” ujar Fenny.
Sementara itu, ketertarikan Femmy pada angka sudah muncul sejak kecil melalui permainan sempoa (abacus). Selama kuliah di JCU, ia berhasil meraih Merit Scholarship yang memberikan potongan biaya kuliah yang cukup besar. Femmy mengaku, mata kuliah favoritnya adalah Financial Accounting dan Management Accounting karena mengajarkan penyusunan laporan keuangan sekaligus penggunaannya dalam pengambilan keputusan bisnis.
Dukungan Kampus dan Kehidupan Sosial di Singapura
Di luar ruang kelas, dukungan kampus turut membantu proses adaptasi Fenny dan Femmy. Dosen-dosen di JCU Singapore dikenal suportif dan komunikatif. Femmy mengatakan, tak jarang dosen-dosennya mengajak berbincang atau menanyakan kabar untuk membantu mahasiswa internasional merasa lebih diterima dan nyaman.
“Sampai saat ini, saya kebetulan mendapatkan dosen yang cukup asyik. Mereka sering mengajak ngobrol, misalnya tentang hobi atau rencana weekend, jadi terasa seperti teman,” ujarnya. Keduanya juga memanfaatkan berbagai fasilitas kampus, seperti Study Hub untuk diskusi kelompok dan perpustakaan untuk belajar mandiri. Selain itu, sistem e-resources dan e-books juga memudahkan akses materi akademik.
Meski tinggal bersama di apartemen di Singapura, Fenny dan Femmy jarang membahas urusan kuliah di rumah. Mereka lebih sering berbagi cerita ringan, termasuk aktivitas IndoJCU, komunitas mahasiswa Indonesia di JCU Singapore. “Kami ikut aktivitas IndoJCU, misalnya mengadakan acara penyambutan murid baru (welcome gathering), atau permainan 17 Agustus-an,” kata Fenny.
Di luar aktivitas kampus, keduanya kerap menghabiskan waktu untuk berwisata kuliner hingga menonton konser pada akhir pekan. “Biasanya kami mengeksplor tempat baru atau yang sedang viral. Pernah juga menonton konser Niki tahun lalu,” ujar Fenny. Fenny yang menempuh pendidikan magister lebih banyak berbaur dengan komunitas Indonesia, sementara Femmy yang memiliki banyak teman sebaya menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang etnis.
Perjalanan Fenny dan Femmy di JCU Singapore bukan sekadar tentang kuliah bersama sebagai kakak-adik, tetapi beradaptasi dengan sistem yang serba cepat dan tumbuh di lingkungan global yang menuntut kemandirian.
Informasi lengkap mengenai program perkuliahan di James Cook University dapat diakses melalui jcu.edu.sg/id atau menghubungi melalui email [email protected].
