Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyoroti perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang dinilainya semakin memanas. Kekhawatiran ini muncul setelah pernyataan dari Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran, yang menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dalam menghadapi tekanan saat ini.
Pernyataan tersebut, menurut Sigit, justru membuat kondisi di kawasan itu bukan mereda, melainkan semakin meningkat eskalasinya. Hal ini disampaikan Kapolri dalam acara buka bersama TNI-Polri di Lapangan Bhayangkara, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Pernyataan Mojtaba Khamenei dan Peringatan Kapolri
Jenderal Sigit secara spesifik menyoroti pernyataan Mojtaba Khamenei yang baru saja diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. “Semenjak kemudian diangkatnya Mojtaba Khamenei, beliau juga menyampaikan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah. Jadi kondisinya bukannya semakin membaik namun justru semakin memanas,” kata Kapolri.
Eskalasi konflik di Timur Tengah ini, lanjut Sigit, berpotensi menimbulkan dampak luas. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi masyarakat sipil di seluruh dunia.
Dampak Konflik Global: Kemanusiaan dan Ekonomi
Kapolri menilai bahwa perang pada akhirnya kerap menyeret instalasi dan masyarakat umum, yang kemudian memicu tragedi kemanusiaan. “Apapun perang, tentunya menimbulkan efek yang sangat luar biasa karena kemudian juga masuk menyentuh ke ranah masyarakat sipil, masuk ke instalasi-instalasi sipil dan akhirnya ini menimbulkan peristiwa genosida,” ujarnya.
Selain dampak kemanusiaan, Sigit juga menyebut konflik yang berkepanjangan berpotensi memicu berbagai krisis lain, mulai dari krisis ekonomi hingga krisis sosial. Ia menyinggung dampak langsung konflik global terhadap perekonomian dunia, salah satunya melalui lonjakan harga minyak.
Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran 77 dollar AS per barrel sempat melonjak hingga 100 dollar AS, bahkan lebih dari 110 dollar AS per barrel. Kenaikan harga minyak ini, menurut Sigit, akan memberikan tekanan besar terhadap fiskal negara.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Sebelumnya, Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada Senin (9/3/2026). Mojtaba adalah seorang ulama tingkat menengah yang memiliki pengaruh signifikan di dalam pasukan keamanan Iran dan jaringan bisnis yang luas di bawah kepemimpinan ayahnya.
Ia dipandang sebagai kandidat terdepan menjelang pemungutan suara oleh Majelis Ahli, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama yang bertugas memilih pemimpin baru setelah Ali Khamenei. “Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” kata majelis tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan tepat setelah tengah malam waktu Teheran, dikutip dari AFP.
Jabatan tersebut memberikan Mojtaba wewenang terakhir dalam semua urusan negara di Iran. Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Iran tidak ragu sedikit pun dalam memilih pemimpin baru, meskipun menghadapi agresi brutal dari Amerika Serikat dan Israel.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada Rabu (11/3/2026) dan pernyataan Majelis Ahli Iran yang dirilis pada Senin (9/3/2026).
