Teknologi

Harga Bitcoin Anjlok di Bawah Rp 1,3 Miliar: Tiga Faktor Utama Tekan Pasar Kripto Global Awal Februari 2026

Harga Bitcoin dan aset kripto lainnya memulai Februari 2026 dengan tekanan signifikan. Mata uang kripto paling bernilai di dunia ini kini diperdagangkan di bawah 80.000 dollar AS, anjlok hampir 38 persen dari puncaknya di atas 126.000 dollar AS pada Oktober 2025. Teranyar, harga per keping BTC sempat menyentuh level terendah sejak 2024, yakni 72.884 dollar AS atau sekitar Rp 1,22 miliar (kurs Rp 16.765) pada sesi perdagangan Selasa (3/2/2026) waktu AS.

Pengaruh Nominasi Ketua The Fed Baru

Tekanan utama terhadap Bitcoin datang dari penguatan signifikan dollar AS, yang dipicu ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) makin ketat. Hal ini menyusul nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed (bank sentral AS) berikutnya oleh Presiden AS Donald Trump pada Jumat (30/1/2026).

Menurut pendiri 10x Research, Markus Thielen, arah kebijakan yang dibawa Warsh berpotensi menjadi kabar buruk bagi kripto. Warsh dikenal hawkish, menekankan disiplin moneter, suku bunga riil yang lebih tinggi, serta pengetatan likuiditas.

Dalam konteks bank sentral, hawkish berarti kecenderungan menjaga suku bunga tetap tinggi demi menekan inflasi. Suku bunga riil yang tinggi, hasil dari suku bunga acuan dikurangi inflasi, dianggap ‘racun’ bagi aset berisiko seperti kripto karena membuat dollar AS lebih menarik.

Kondisi ini mendorong investor memindahkan dana dari aset berisiko ke instrumen lebih aman, seperti dollar atau obligasi AS. Penjualan BTC dalam waktu singkat oleh banyak investor secara otomatis menyebabkan harganya terjun bebas.

Regulasi Kripto AS yang Tak Kunjung Jelas

Molornya kepastian regulasi kripto di Amerika Serikat turut menekan minat investor, terutama dari kalangan institusional. Harapan pasar terhadap aturan yang lebih jelas kembali tertunda, membuat banyak pemain besar bersikap defensif.

Tekanan ini tercermin dari arus keluar dana yang signifikan pada produk investasi kripto, khususnya ETF Bitcoin spot. Data CoinShares menunjukkan, hampir 990 juta dollar AS keluar dari dana kripto global dalam sepekan pada akhir Desember 2025, dengan sebagian besar penarikan terjadi di AS.

Tren tersebut berlanjut pada pertengahan Januari 2026, ketika sekitar 378 juta dollar AS kembali keluar hanya dalam sehari. Pengamat pasar menilai arus keluar ini mencerminkan frustrasi investor terhadap kebijakan yang tak kunjung jelas.

Rancangan undang-undang Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act), yang bertujuan memperjelas pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), telah lolos dari DPR AS pada Juli 2025 namun mandek di Senat. Akibatnya, ketidakjelasan regulasi mendorong modal kripto mengalir ke wilayah dengan aturan lebih pasti, seperti Uni Eropa, Singapura, dan Timur Tengah.

Ketegangan Geopolitik Global Memanas

Tekanan terhadap harga Bitcoin makin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kepala militer Iran melontarkan peringatan soal kemungkinan serangan terhadap Israel, sementara Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan opsi aksi militer terhadap Iran.

Situasi ini diperburuk oleh laporan pergerakan militer AS ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir. Militer AS mulai memindahkan pasukan dan peralatan menyusul pernyataan Trump yang mempertimbangkan serangan terhadap Iran.

Dalam kondisi geopolitik yang tidak pasti, investor global cenderung masuk ke mode defensif. Aset-aset berisiko tinggi seperti kripto menjadi yang pertama dilepas, dengan dana dialihkan ke instrumen lebih aman dan stabil seperti uang tunai, obligasi pemerintah, serta logam mulia.

Informasi mengenai tiga faktor utama penyebab anjloknya harga Bitcoin ini dihimpun dari berbagai sumber, termasuk KompasTekno, Decrypt, dan Fast Company, pada Rabu (4/2/2026).