Harga Bitcoin Anjlok ke Level 62.303 Dollar AS, Terendah Sejak November 2024 Akibat Sentimen Global
Harga mata uang kripto Bitcoin mengalami koreksi tajam hingga menyentuh level 62.303 dollar AS atau setara Rp 1,05 miliar pada sesi perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu Amerika Serikat. Penurunan ini menempatkan Bitcoin pada posisi terendahnya sejak 6 November 2024, saat aset tersebut diperdagangkan di kisaran 68.898 dollar AS per kepingnya.
Tren Penurunan dan Kondisi Pasar Kripto Global
Hingga Jumat (6/2/2026) pagi, harga Bitcoin terpantau bergerak di rentang 64.500 dollar AS atau sekitar Rp 1,08 miliar. Dalam kurun waktu sepekan, nilai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia ini telah tergerus sekitar 23 persen. Jika ditarik dari rekor tertingginya pada Oktober 2025 yang mencapai 126.000 dollar AS, harga Bitcoin kini telah anjlok lebih dari 45 persen.
Tekanan serupa juga melanda sejumlah aset kripto utama lainnya yang mengalami koreksi lebih dalam:
- Ether: Anjlok sekitar 34,5 persen dalam sepekan terakhir, mencatat kinerja mingguan terburuk sejak November 2022.
- XRP: Melemah hingga 32 persen dalam tujuh hari terakhir.
- Solana: Jatuh ke level 77,77 dollar AS, yang merupakan titik terendah dalam setahun terakhir.
Analisis Pakar Mengenai Fase Bearish
Sejumlah analis memperingatkan bahwa tekanan terhadap pasar kripto belum akan berakhir dalam waktu dekat. Eric Crown, seorang analis pasar, menilai bahwa Bitcoin masih berpotensi turun ke kisaran 55.000 hingga 60.000 dollar AS sebelum menemukan titik stabil. Menurutnya, pelemahan ini merupakan bagian dari siklus besar Bitcoin yang melibatkan fase koreksi tajam setelah lonjakan harga ekstrem.
Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn, turut menyoroti data historis yang menunjukkan potensi penurunan hingga 50 persen dari puncak harga. Jika proyeksi ini terjadi, Bitcoin dapat menyentuh area 58.000 dollar AS atau hampir Rp 979,4 juta. Meski demikian, level 55.000 hingga 60.000 dollar AS dianggap oleh sebagian pelaku pasar sebagai zona akumulasi bagi investor jangka panjang.
Sentimen Kebijakan Moneter dan Geopolitik
Faktor makroekonomi menjadi pemicu utama aksi jual massal ini. Nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed oleh Presiden Donald Trump direspons negatif oleh pasar. Markus Thielen, pendiri 10x Research, menjelaskan bahwa arah kebijakan Warsh yang menekankan disiplin moneter dan suku bunga riil tinggi berpotensi menekan aset berisiko karena meningkatkan daya tarik dollar AS.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel, serta isyarat aksi militer dari Amerika Serikat, membuat investor global bersikap defensif. Kondisi ketidakpastian ini mendorong pengalihan dana dari aset kripto ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah dan logam mulia. Laporan CryptoQuant juga mencatat bahwa ETF Bitcoin spot di AS kini telah beralih menjadi penjual bersih sepanjang tahun 2026.
Informasi mengenai perkembangan pasar kripto ini dihimpun berdasarkan data perdagangan terkini dan pernyataan resmi para analis keuangan hingga Jumat, 6 Februari 2026.