Teknologi

Harga Bitcoin Terperosok ke Level Terendah Sejak 2024, Sentuh Rp1,22 Miliar di Tengah Tekanan Jual

Harga Bitcoin (BTC) terus mengalami penurunan signifikan, bahkan menyentuh level terendah sejak akhir tahun 2024. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan jual dan sentimen global yang memburuk, memicu kekhawatiran di kalangan investor aset kripto.

Penurunan Harga Bitcoin dan Kapitalisasi Pasar

Menurut laporan CNBC, Bitcoin sempat menembus level 72.884 dollar AS atau sekitar Rp1,22 miliar (kurs Rp16.765) pada sesi perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, waktu Amerika Serikat. Angka ini menandai posisi terendah sejak 6 November 2024, ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran 68.898 dollar AS (sekitar Rp1,15 miliar) per kepingnya.

Pada perdagangan intraday, Bitcoin tercatat turun lebih dari 6 persen sebelum kembali bergerak naik tipis. Hingga Selasa sore waktu setempat, harga Bitcoin masih melemah di kisaran 75.658 dollar AS atau sekitar Rp1,27 miliar, turun lebih dari 3 persen.

Pantauan KompasTekno di laman Coin Market Cap pada Rabu, 4 Februari 2026 pagi WIB, harga aset kripto paling bernilai di dunia itu kini berada di level 76.109 dollar AS (kira-kira Rp1,26 miliar) per kepingnya.

Penurunan harga ini berdampak langsung pada kapitalisasi pasar Bitcoin yang kini berada di level sekitar 1,52 triliun dollar AS (sekitar Rp25.484 triliun) per 4 Februari. Data dari Infinite Marketcap menempatkan Bitcoin di peringkat ke-13 aset terbesar dunia berdasarkan nilai pasar.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif Bitcoin sepanjang tahun 2026. Secara year to date (awal tahun hingga 4 Februari), harga Bitcoin telah terkoreksi sekitar 16 persen.

Penyebab Pelemahan Harga Bitcoin

Investor cenderung bersikap berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik yang belum mereda menjadi salah satu faktor utama yang memicu sentimen negatif di pasar.

Selain itu, pasar juga dibayangi ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat, termasuk tertundanya rilis sejumlah data ekonomi penting akibat penutupan sebagian pemerintahan federal. Hal ini menambah kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global.

Sentimen negatif juga datang dari belum jelasnya arah regulasi kripto di Amerika Serikat. Upaya legislator untuk membangun kerangka hukum yang lebih pasti bagi industri aset digital dinilai berjalan lambat, sehingga menambah kehati-hatian investor, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CNBC.

Analisis Pasar oleh John Todaro

Dalam keterangan terpisah, analis Needham, John Todaro, menyebut minat investor ritel terhadap Bitcoin saat ini berada di level yang rendah. “Level saat ini mencerminkan ketidakpedulian yang cukup ekstrem dari investor ritel,” ujar Todaro.

Todaro memperkirakan volume perdagangan Bitcoin masih akan lesu selama satu hingga dua kuartal ke depan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Coin Desk dan Bloomberg.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan media terkemuka seperti CNBC, Coin Market Cap, Infinite Marketcap, Coin Desk, dan Bloomberg yang dirilis pada 3-4 Februari 2026.