Edukasi

Ilmuwan Diaspora Sastia Prama Putri Ungkap Optimisme dan Alasan Kuat Tetap Berpaspor Indonesia

Advertisement

Ilmuwan diaspora, Sastia Prama Putri, menegaskan keputusannya untuk tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia, meskipun telah 21 tahun menetap dan berkarier di Jepang. Keputusan ini diungkapkannya kepada Kompas.com pada Kamis (26/2/2026), menyoroti identitas dan optimisme terhadap masa depan bangsa.

Alasan Kuat Mempertahankan Identitas Bangsa

Sastia menjelaskan bahwa keputusannya berakar pada identitas diri yang kuat. “Saya lahir dan besar di Indonesia dan jadi menjadi warga negara Indonesia adalah identitas yang melekat saja dari dalam diri dan saya enggak mau melepas identitas itu,” kata Sastia.

Selain itu, ia juga memegang teguh keyakinan akan potensi besar Indonesia di masa depan. “Saya juga masih optimistis Indonesia akan jadi negara besar di kemudian hari dan pengen jadi bagian dari kemajuan negara kita dan berkontribusi dengan kemampuan yang saya miliki saat ini,” tambahnya.

Cinta Tanah Air dan Kontribusi Tanpa Ikatan Dinas

Menurut Sastia, rasa cinta Tanah Air adalah perasaan universal yang tidak lekang oleh waktu dan tidak terbatas pada ruang atau tempat. Ia menekankan bahwa rasa bangga dan cinta yang dirasakannya merupakan ekspresi internal yang tumbuh dari dalam diri, dan tidak bisa dipaksakan kepada orang lain yang berada di luar negeri.

“What I feel personally is solely based on my personal journey and choices, what other feels itu hak orang lain dan berdasarkan pengalaman personal dan perjalanan mereka juga,” ungkapnya.

Sastia menegaskan bahwa ia tinggal di Jepang tanpa ikatan dinas dari pemerintah Indonesia, bahkan mendapatkan beasiswa studi dari pemerintah Jepang. Meski demikian, kontribusinya untuk Indonesia tetap nyata, antara lain membantu mempopulerkan tempe di kancah global melalui inovasinya, meningkatkan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang, serta mendidik puluhan mahasiswa Indonesia yang telah atau akan kembali ke Tanah Air.

Perjalanan Karier dan Prestasi di Dunia Riset

Sastia Prama Putri bukan sosok asing di dunia riset. Ia pernah menjadi sorotan pada Simposium Cendikia Kelas Dunia 2019, mengingat posisinya sebagai salah satu dari hanya 10,6 persen peneliti perempuan di Jepang. Kini, ia menjabat sebagai Associate Professor di University of Osaka.

Dalam wawancara dengan Kompas.com pada 22 Agustus 2019 di sela-sela Simposium Cendikia Kelas Dunia di Jakarta, Sastia menekankan tantangan dalam dunia riset. “Riset bukan hal yang mudah, dan kegagalan merupakan bagian darinya. Kita harus memiliki mental kuat untuk menjadi peneliti dan semangat positif setiap waktu. Terutama peneliti perempuan, harus ekstra lebih tanggung untuk mendapat perhatian dan pengakuan,” tegasnya.

Advertisement

Perjalanan akademis Sastia dimulai dengan gelar sarjana Biologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2000. Pada 2004, ia lolos program research fellowship bidang Bioteknologi dari UNESCO selama setahun di Jepang, bekerja sama dengan Profesor Nihira di Osaka University.

Melihat potensi Sastia, Profesor Nihira menawarkannya beasiswa penuh dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Meskipun awalnya tidak memiliki keinginan menjadi ilmuwan, Sastia menemukan panggilan hidupnya setelah merasakan lingkungan riset yang sangat mendukung di Jepang.

Setelah sempat menjadi asisten laboratorium di Swiss German University pada 2005, Sastia menerima kabar kelulusannya untuk program beasiswa tersebut. Ia berhasil menyelesaikan jenjang S2 dan S3 hanya dalam waktu 3,5 tahun, lebih cepat dari perkiraan 5 tahun, bahkan menjadi lulusan pertama yang meraih gelar PhD dalam 1,5 tahun di Frontier Biotechnology Program.

Pasca-kelulusan, Sastia menerima tawaran menjadi peneliti paruh waktu di institusi tersebut di bawah bimbingan Profesor Eiichiro Fukusaki, seorang pionir metabolomik Ilmu Pangan. Dalam kurun waktu satu tahun, ia kemudian menerima tawaran sebagai peneliti penuh waktu dalam proyek kerja sama antara Jepang dan Amerika Serikat.

Informasi mengenai perjalanan dan kontribusi Sastia Prama Putri ini disampaikan melalui wawancara eksklusif dengan Kompas.com pada Kamis, 26 Februari 2026, serta rilis dari Simposium Cendikia Kelas Dunia 2019.

Advertisement