Iran Ungkap Syarat Negosiasi dengan Amerika Serikat di Tengah Ketegangan Militer yang Memanas
Di tengah memanasnya ketegangan antara Teheran dan Washington, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf membuka peluang negosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan Ghalibaf pada Kamis (29/1/2026), menegaskan bahwa Iran siap berunding asalkan pembicaraan tersebut bersifat “tulus”.
Syarat Ketulusan dalam Dialog
Dalam wawancara eksklusifnya bersama CNN, Ghalibaf menjelaskan bahwa Teheran memang membuka diri untuk dialog. Namun, ia meragukan jenis pembicaraan yang diinginkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menurutnya hanya ingin memaksakan kehendak.
Wawancara ini berlangsung saat otoritas Amerika Serikat mengirim pasukannya ke Timur Tengah, menambah daftar ketegangan antara kedua negara. Ancaman militer Trump sebelumnya dilontarkan menyusul laporan tindakan pemerintah Teheran yang disebut telah melayangkan ribuan nyawa demonstran.
Perbedaan Data Korban Demonstrasi
Ghalibaf juga membahas perbedaan data jumlah korban tewas sepanjang aksi unjuk rasa di Iran. Lembaga hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan setidaknya ada 5.858 nyawa melayang.
Angka tersebut sangat berbeda dengan laporan pemerintah Iran yang mencatat 2.427 warga sipil dan 690 orang yang mereka labeli sebagai teroris. Menanggapi informasi yang kontras ini, Ghalibaf menekankan bahwa pihak asing harus disalahkan atas “skema yang dirancang sepenuhnya di luar negeri.”
Ia juga menjanjikan penuntutan cepat bagi mereka yang terlibat dari kekacauan ini, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan pernah mundur dari upaya membalas dendam atas darah. Darah yang dimaksud termasuk kematian hampir 300 petugas keamanan yang gugur selama aksi protes.
Mengakui Masalah Ekonomi dan Sanksi AS
Aksi demonstrasi yang berlangsung sejak akhir tahun 2025 digadang-gadang berakar dari permasalahan ekonomi. Masyarakat Iran dikabarkan sangat resah atas lonjakan biaya hidup serta anjloknya kurs mata uang Iran, rial, terhadap dolar AS, yang berdampak pada harga pangan.
Ghalibaf tidak menepis kenyataan adanya masalah perekonomian di Iran, bahkan mengakui beberapa di antaranya mungkin disebabkan oleh salah kelola. Namun, ia dengan cepat menyalahkan “tekanan tirani” dari sanksi AS sebagai penyebab utama.
Peringatan Balasan Militer Iran
Menanggapi peningkatan kekuatan militer AS di Iran, Ghalibaf memperingatkan Washington bahwa Iran tak segan akan membalas jika diserang. Ia menegaskan bahwa jika balasan ini dilakukan, ribuan prajurit Amerika berpotensi terancam.
“Mungkin Tuan Trump bisa memulai perang, tapi dia tidak memiliki kendali atas (bagaimana perang itu berakhir),” tegas Ghalibaf. Senada, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi juga buka suara menyusul tindakan dan ancaman Presiden AS Donald Trump.
Militer Iran dipastikan dalam kondisi siaga penuh dan memiliki “jari di pelatuk,” sebagaimana pernyataan Araghchi pada Rabu (28/1/2026). Ini mengindikasikan Iran bisa melakukan balasan kuat terhadap aksi militer AS.
Kendati demikian, Araghchi juga membuka adanya potensi diplomasi. Melalui platform X, ia menulis bahwa Iran selalu terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan setara, tanpa paksaan, ancaman, maupun intimidasi, yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir untuk tujuan damai serta memastikan tidak adanya senjata nuklir.
Informasi lengkap mengenai isu ketegangan Iran-AS dan potensi negosiasi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf dan Menlu Iran Abbas Araghchi yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026, serta laporan dari berbagai media internasional.