Israel Diam-diam Incar Perubahan Rezim Iran, Dorong AS Tumbangkan Teheran di Tengah Ketegangan Regional
Di tengah meningkatnya spekulasi global mengenai kemungkinan langkah Amerika Serikat terhadap Iran, pemerintah Israel memilih menahan diri dari komentar terbuka. Sikap ini membuat Tel Aviv terlihat lebih banyak diam di ruang publik, meski dinamika kawasan terus bergerak cepat. Padahal, ketegangan di kawasan Timur Tengah karena konflik Iran dengan AS dan Israel terus meningkat. Di saat yang sama, pejabat Iran secara terbuka telah memperingatkan akan adanya respons cepat serta belum pernah terjadi sebelumnya jika Washington melancarkan serangan.
Selain pernyataan terbatas yang mendukung gelombang protes anti-pemerintah di Iran dalam beberapa pekan terakhir, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu nyaris tidak memberikan komentar terbuka. Ia juga jarang menyinggung secara langsung langkah militer maupun diplomatik yang tengah dipertimbangkan sekutu utamanya, Amerika Serikat. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh jajaran pemerintahannya.
Strategi Diam Israel di Tengah Ketegangan Kawasan
Sejumlah analis menilai kebungkaman Israel mencerminkan kalkulasi strategis. Menurut mantan perwira intelijen pertahanan Israel yang kini menjadi peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Danny Citrinowicz, momen ini sangat krusial bagi Netanyahu. Ia menilai kehadiran besar pasukan AS di kawasan Teluk, ditambah pendekatan keras Presiden Donald Trump terhadap Iran, menciptakan peluang langka bagi Israel.
“Bagi Netanyahu, ini adalah momen emas yang tidak boleh terlewat,” ujar Citrinowicz dikutip dari BBC, Sabtu (31/1/2026). Diamnya Israel, menurut para analis, mencerminkan strategi untuk memberi ruang bagi Amerika Serikat mengambil peran utama.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Asaf Cohen, mantan pejabat senior unit intelijen sinyal Israel. Ia menilai kepemimpinan Israel melihat Amerika Serikat sebagai aktor yang lebih tepat untuk memimpin langkah terhadap Iran. Dengan kapasitas militer yang lebih besar serta legitimasi internasional yang lebih luas, AS dinilai memiliki ruang gerak yang tidak dimiliki Israel jika harus bertindak sendiri.
Meski publik melihat Israel relatif pasif, komunikasi intens di balik layar diyakini tetap berlangsung. Pekan ini, Kepala Intelijen Militer Israel Shlomi Binder dilaporkan bertemu dengan pejabat intelijen AS di Washington. Sejumlah media Israel menyebutkan pembahasan pertemuan itu mencakup perkembangan terbaru di Iran dan kemungkinan skenario ke depan.
Target Jangka Panjang: Perubahan Rezim Iran
Iran telah lama dipandang Netanyahu sebagai ancaman utama bagi keamanan Israel dan sumber ketidakstabilan terbesar di Timur Tengah. Karena itu, banyak pengamat meyakini tujuan jangka panjang Israel bukan sekadar melemahkan Teheran, melainkan mendorong perubahan rezim secara menyeluruh.
Citrinowicz menilai Netanyahu secara pribadi mendorong AS mengambil langkah maksimal, bahkan jika itu berarti upaya sistematis untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Ketika Netanyahu dilaporkan sempat meminta Presiden Donald Trump menahan diri dalam responsnya awal bulan ini, langkah tersebut tidak dipandang sebagai sikap lunak. Sejumlah analis menilai permintaan itu muncul karena opsi serangan yang dipertimbangkan Amerika Serikat dinilai terlalu terbatas dan belum cukup menentukan.
Sikap keras Netanyahu terhadap Iran bukan hal baru. Dalam wawancara sebelumnya dengan media Amerika, ia secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan kepemimpinan mereka. Di mata Israel, perubahan rezim di Teheran berpotensi menghilangkan sejumlah ancaman strategis sekaligus. Dengan jatuhnya pemerintahan Iran saat ini, Israel berharap program rudal balistik Teheran dapat dihentikan, sekaligus menutup peluang Iran mengembangkan senjata nuklir di masa depan.
Selain itu, melemahnya pusat kekuasaan Iran diyakini akan berdampak langsung pada jaringan milisi proksi yang selama ini didukung Teheran di berbagai negara. Salah satu perhatian utama Israel adalah Hizbullah di Lebanon. Menurut lembaga riset Alma Israel, kelompok tersebut masih memiliki puluhan ribu roket dan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel. Tanpa dukungan penuh Iran, kekuatan militer Hizbullah diyakini akan jauh berkurang.
Opsi Amerika Serikat dan Peringatan Sekutu
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump masih mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, mulai dari serangan terbatas bersifat simbolik hingga langkah besar yang berujung pada pergantian rezim. Di ruang publik, Trump terlihat memainkan dua pendekatan sekaligus: mengeluarkan ancaman keras, sembari membuka peluang negosiasi baru.
Banyak sekutu Amerika Serikat memperingatkan bahwa upaya menggulingkan kepemimpinan Iran berisiko memicu kekacauan regional yang lebih luas. Namun di Israel, risiko tersebut kerap dipandang sepadan dengan potensi keuntungan strategis yang dapat diperoleh. Bagi Tel Aviv, perubahan peta kekuasaan di Teheran dianggap sebagai peluang langka untuk mengubah keseimbangan keamanan kawasan secara mendasar.
Tiga Alasan Potensi Serangan Balasan Iran
Dilansir dari The Economist, Minggu (11/1/2026), serangan besar-besaran Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran serta program nuklirnya sekitar tujuh bulan lalu dinilai telah melemahkan posisi pemerintahan Republik Islam. Dampaknya terasa baik di dalam negeri maupun pada posisi Iran di panggung internasional. Dampak serangan tersebut terasa bersamaan dengan meluasnya gelombang protes yang menjalar ke lebih dari 100 kota dan desa di seluruh provinsi Iran. Kondisi ini membuat ancaman terbesar bagi rezim Teheran kini justru datang dari dalam negeri.
Meski demikian, risiko pecahnya konflik baru dengan pihak asing juga dinilai meningkat seiring situasi regional yang belum stabil. Terdapat setidaknya tiga faktor yang dinilai dapat mendorong Iran melancarkan serangan rudal ke Israel:
- Luka strategis akibat keberhasilan Israel dengan dukungan Amerika Serikat menguasai wilayah udara Iran barat dan Teheran pada fase awal perang 12 hari pada Juni lalu. Dalam periode singkat itu, sejumlah fasilitas nuklir dan rudal Iran dihantam, sementara beberapa ilmuwan nuklir dan perwira senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan tewas. Pukulan tersebut dipandang sebagai penghinaan serius terhadap kemampuan militer Iran dan diyakini turut memicu keberanian sebagian warga untuk menentang rezim. Dari sudut pandang penguasa Iran, upaya membalas dan memulihkan daya gentar dianggap sebagai kebutuhan yang tertunda.
- Dinamika politik domestik. Di tengah tekanan internal yang meningkat, sebagian elite Iran diyakini berharap konflik eksternal dengan Israel dapat mengalihkan perhatian publik dari gejolak dalam negeri. Perang singkat pada Juni lalu sempat memunculkan efek persatuan di kalangan masyarakat Iran, meski tidak bertahan lama. Rezim mungkin berharap pola serupa kembali terjadi jika konfrontasi dengan Israel terulang.
- Faktor ketiga menyangkut kekhawatiran Iran terhadap potensi “salah perhitungan”. Teheran mencemaskan kemungkinan Israel memanfaatkan situasi kacau saat ini untuk melancarkan serangan lanjutan, khususnya terhadap peluncur rudal yang belum berhasil dihancurkan sebelumnya. Dalam skenario perang baru, Iran dinilai cenderung memilih menyerang lebih dulu.
Meski Israel disebut telah menyampaikan melalui Rusia bahwa mereka tidak berencana melancarkan serangan tambahan, kekhawatiran tetap ada. Kemampuan Israel dan Amerika Serikat untuk segera terlibat kembali juga dipertanyakan, seiring keterbatasan persediaan pertahanan serta belum siapnya penempatan aset militer di kawasan.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan BBC pada Sabtu (31/1/2026) dan The Economist pada Minggu (11/1/2026), serta pernyataan dari para analis keamanan.