Israel Soroti Pembukaan Rafah Usai Gempur Gaza, 12 Warga Palestina Tewas dalam Serangan
Serangan militer Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (3/1/2026) pagi, menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina. Pihak rumah sakit setempat melaporkan bahwa mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, menandai salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas disepakati pada Oktober 2025.
Detail Serangan dan Identitas Korban
Pejabat rumah sakit di Gaza menyebutkan bahwa korban tewas terdiri atas dua perempuan dan enam anak-anak yang berasal dari dua keluarga berbeda. Serangan tersebut terjadi di Gaza City dan kamp tenda pengungsi di Khan Younis.
Rumah Sakit Shifa melaporkan insiden di Gaza City menewaskan seorang ibu, tiga anak, serta seorang kerabat mereka. Sementara itu, Rumah Sakit Nasser menyatakan serangan terhadap kamp tenda pengungsi di Khan Younis memicu kebakaran dan menewaskan tujuh orang, termasuk seorang ayah, tiga anaknya, serta tiga cucunya.
Tanggapan Israel dan Data Korban Konflik
Militer Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan serangan terbaru tersebut. Israel dan Hamas saling menuding sebagai pihak yang melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah konflik bersenjata selama dua tahun menghancurkan Gaza dan memicu krisis kemanusiaan.
Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah otoritas pemerintah Gaza pimpinan Hamas, mencatat lebih dari 500 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Diketahui, serangan Israel pada 21 Januari lalu juga menewaskan 11 warga Palestina di berbagai wilayah Gaza, termasuk dua anak laki-laki berusia 13 tahun dan tiga jurnalis, menurut otoritas rumah sakit.
Krisis Kemanusiaan dan Penyeberangan Rafah
Serangan terbaru terjadi sehari sebelum penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir dijadwalkan dibuka kembali. Penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya jalur utama keluar-masuk Gaza bagi hampir dua juta penduduk wilayah tersebut.
Seluruh perbatasan Gaza ditutup sejak perang pecah, meskipun penyeberangan Rafah sempat dibuka secara terbatas pada awal 2025 untuk evakuasi warga Palestina yang sakit dan terluka. Pembukaan sementara tersebut merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. Warga Palestina memandang Rafah sebagai jalur penyelamat, terutama bagi pasien yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 20.000 warga Gaza membutuhkan perawatan medis akibat rusaknya sebagian besar fasilitas kesehatan.
Syarat Israel dan Rencana Pembukaan Rafah
Israel tetap menutup penyeberangan Rafah di kedua arah sejak Oktober 2025 dengan alasan Hamas belum mengembalikan seluruh sandera Israel yang masih berada di Gaza. Pihak Israel menuntut pengembalian sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, sebagai syarat utama pembukaan perbatasan. Jenazah sandera Israel terakhir di Gaza, Ran Gvili (24), ditemukan sekitar sepekan lalu. Ran Gvili tewas dalam serangan Hamas ke kibbutz Alumim pada 7 Oktober 2023 sebelum jenazahnya dibawa ke Gaza.
Pejabat Israel menyatakan pembukaan terbatas penyeberangan Rafah pada Minggu sejalan dengan rencana perdamaian 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sky News melaporkan Israel tidak membatasi jumlah warga Gaza yang keluar menuju Mesir, tetapi membatasi warga yang kembali ke Gaza maksimal 150 orang per hari. Pejabat Palestina memperkirakan sekitar 100.000 warga telah meninggalkan Gaza sejak perang dimulai, mencerminkan kondisi keamanan dan kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah tersebut.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi pihak rumah sakit di Gaza dan laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza.