Aksesori ponsel Android sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap, sebatas pelindung atau pengisi daya. Namun, beberapa produsen ponsel pernah mencoba pendekatan revolusioner, menjadikan aksesori sebagai bagian integral dari pengalaman pengguna. Lima ponsel Android ini menonjol berkat inovasi aksesori yang mengubah cara interaksi pengguna dengan perangkatnya.
LG G5: Pionir Konsep Modular yang Berani
Pada tahun 2016, LG G5 hadir sebagai salah satu pionir ponsel modular. Di tengah tren desain bongkar-pasang yang kala itu sedang dicoba oleh banyak produsen, LG G5 memungkinkan bagian bawah perangkat dilepas untuk mengganti modul tambahan atau baterai, sebuah fitur yang mulai langka di segmen flagship.
LG memperkenalkan dua modul “Friends” saat peluncuran: Cam Plus, sebuah grip kamera dengan tombol fisik dan kontrol zoom, serta Hi-Fi Plus hasil kolaborasi dengan Bang & Olufsen yang dilengkapi DAC 32-bit/384 kHz dan jack audio terpisah. Meskipun inovatif, aksesori ini tergolong mahal dan kurang diminati, sehingga tidak banyak membantu penjualan. Konsep modular ini pun dihentikan setahun kemudian dan tidak dilanjutkan pada generasi berikutnya.
Moto Z: Ekosistem Moto Mods yang Lebih Praktis
Di tahun yang sama, Moto Z memperkenalkan ekosistem Moto Mods, aksesori magnetik yang menempel di bagian belakang ponsel melalui pin khusus. Konsep ini dinilai lebih praktis dan matang dibandingkan pendekatan modular lainnya pada masanya. Ragam modul yang ditawarkan sangat bervariasi, mulai dari kamera Hasselblad, speaker JBL SoundBoost, baterai tambahan, hingga panel dekoratif.
Ponsel flagship ini sempat resmi hadir di Indonesia pada Januari 2017 melalui Lenovo, dibekali prosesor Snapdragon 820, RAM 4 GB, dan bodi logam setebal 5,2 mm. Saat diluncurkan, Moto Z dibanderol sekitar Rp 8,5 juta tanpa bundel Moto Mods.
Samsung Galaxy Note: S Pen, dari Aksesori Unik Menjadi Ikon Produktivitas
Saat ini, pena kecil yang tersemat di bodi Samsung Galaxy seri Note mungkin sudah tidak asing lagi. Namun, ketika pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011, konsep S Pen ini tergolong unik dan tidak biasa. Di tengah tren ponsel layar sentuh kapasitif yang membuat stylus dianggap ketinggalan zaman, Samsung justru menghidupkannya kembali dan menjadikannya nilai jual utama perangkat.
Layar 5,3 inci Galaxy Note kala itu dianggap terlalu besar untuk ukuran smartphone. Namun, keberadaan S Pen membuat ukuran jumbo tersebut terasa masuk akal. Pengguna dapat mencatat, menggambar, menandai dokumen, hingga membuat sketsa langsung di layar dengan presisi lebih tinggi dibandingkan sentuhan jari. Meskipun generasi awalnya belum secanggih sekarang dengan fitur perangkat lunak dan sensitivitas tekanan yang terbatas, Samsung terus mengembangkan integrasi antara perangkat keras dan perangkat lunak. Hasilnya, S Pen bukan sekadar aksesori tambahan, melainkan alat produktivitas yang melekat dan dicintai pengguna Android hingga kini.
CMF Phone (1): Kebebasan Kreasi dengan “Accessory Point”
Meluncur pada tahun 2024, CMF Phone (1) hadir sebagai ponsel terjangkau dengan fokus desain yang kuat. Meskipun spesifikasinya tergolong biasa, perangkat ini menawarkan fitur unik bernama “Accessory Point”, berupa baut besar di bagian belakang yang dapat dilepas untuk memasang aksesori tambahan. CMF menyediakan aksesori seperti dompet, kickstand, dan tali gantungan.
Keunggulan “Accessory Point” adalah penggunaan ulir standar, yang memungkinkan pengguna untuk berkreasi membuat aksesori sendiri. Bahkan, seluruh penutup belakang ponsel dapat dibuka menggunakan obeng minus biasa. Hal ini menjadi daya tarik utama CMF Phone (1), mendorong pengguna untuk membuat back cover custom, dudukan lensa kamera, tombol gaming, hingga tempat kartu yang unik.
Palm: Ponsel sebagai Aksesori Pendamping
Palm, yang kembali hadir pada tahun 2018 setelah mereknya diambil alih TCL, menawarkan keunikan bukan pada aksesori tambahan, melainkan pada ponsel itu sendiri yang dirancang sebagai “aksesori” bagi smartphone utama. Palm Phone hadir dalam bentuk perangkat mungil dengan layar hanya 3,3 inci, menjalankan Android dengan antarmuka khusus, dan membawa konsep berbeda di tengah tren layar besar.
Ponsel ini diposisikan sebagai perangkat pendamping yang ideal digunakan saat berolahraga, bepergian ringan, atau ketika pengguna ingin rehat dari ponsel utama yang besar dan penuh notifikasi. Palm mencoba menjadi solusi minimalis, cukup untuk telepon, pesan, dan aplikasi penting, tanpa distraksi berlebihan. Namun, konsep ini dianggap kurang praktis oleh banyak pengguna yang merasa membawa dua perangkat sekaligus justru merepotkan. Alhasil, meskipun idenya unik dan berbeda arah dari tren pasar, Palm tidak berlanjut ke generasi berikutnya.
Informasi lengkap mengenai inovasi aksesori ponsel Android ini dirangkum dari laman teknologi How To Geek pada Sabtu, 28 Februari 2026.
