Kebiasaan Sepele Pengisian Daya Ponsel Picu Boros Listrik Rumah Tangga: Fenomena Phantom Power Jadi Sorotan
Kebiasaan kecil terkait pengisian daya ponsel yang sering dianggap sepele ternyata dapat berdampak signifikan pada konsumsi listrik rumah tangga. Mulai dari membiarkan charger tetap menancap hingga mengisi daya terlalu lama, pola-pola ini jika dilakukan berulang dan melibatkan banyak perangkat, berpotensi memicu pemborosan energi yang tidak disadari.
Fenomena “Phantom Power” dan “Standby Power”
Charger yang dibiarkan menancap di stop kontak, meskipun tidak terhubung dengan ponsel atau perangkat lain, tetap menarik aliran listrik. Kondisi ini dikenal sebagai *phantom power* atau *standby power*, di mana daya listrik tetap tersedot dalam jumlah kecil.
Secara kasat mata, konsumsi listriknya memang nyaris tidak terasa. Namun, jika kebiasaan ini terjadi setiap hari dan melibatkan banyak charger di rumah, akumulasinya dapat berkontribusi pada pemborosan energi dalam jangka panjang.
Risiko Mengisi Daya Ponsel Semalaman
Mengisi daya ponsel sebelum tidur dan membiarkannya terhubung hingga pagi hari sudah menjadi kebiasaan umum. Padahal, saat baterai telah penuh, charger tetap bekerja untuk menjaga daya di level maksimum.
Selain membuang energi, pengisian daya terlalu lama juga berpotensi menimbulkan panas berlebih. Dalam jangka panjang, panas ini dapat memengaruhi kesehatan baterai dan meningkatkan risiko keamanan, terutama jika charger berkualitas rendah.
Dampak Lupa Mencabut Charger Setelah Baterai Penuh
Banyak pengguna tidak menyadari kapan baterai ponsel mencapai 100 persen. Akibatnya, charger dibiarkan terus terhubung meski pengisian sudah selesai.
Perangkat modern memang dirancang untuk menghentikan pengisian saat baterai penuh, tetapi aliran listrik kecil tetap terjadi. Kebiasaan ini terlihat sepele, namun jika berlangsung terus-menerus, tetap berdampak pada konsumsi listrik rumah tangga.
Bahaya Menancapkan Banyak Charger di Satu Stop Kontak
Di rumah dengan banyak gawai, satu stop kontak sering dipenuhi beberapa charger sekaligus. Kondisi ini membuat konsumsi listrik tidak efisien dan meningkatkan beban pada instalasi listrik.
Jika dibiarkan, panas berlebih bisa muncul pada terminal listrik atau *power strip*. Dalam situasi tertentu, hal ini berpotensi menimbulkan risiko korsleting atau gangguan kelistrikan.
Efisiensi Mengisi Daya Saat Baterai Masih Tinggi
Sebagian orang terbiasa mengisi daya ponsel meski baterai masih berada di kisaran 70–80 persen. Kebiasaan ini membuat charger lebih sering aktif, meski sebenarnya belum dibutuhkan.
Selain berdampak pada efisiensi energi, pola pengisian seperti ini juga dapat memengaruhi siklus baterai. Mengisi daya seperlunya membantu mengurangi konsumsi listrik sekaligus menjaga umur baterai.
Kesalahpahaman Mode Standby pada Perangkat Elektronik
Mode *standby* sering disalahartikan sebagai kondisi mati total. Padahal, charger dan perangkat elektronik yang berada dalam mode ini tetap menggunakan listrik dalam jumlah kecil.
Ketika banyak perangkat dibiarkan dalam kondisi *standby*, konsumsi listriknya bisa menumpuk. Inilah sebabnya kebiasaan mencabut charger saat tidak digunakan menjadi langkah sederhana namun efektif.
Risiko Penggunaan Charger Murah Tanpa Standar Efisiensi
Charger dengan kualitas rendah atau tanpa sertifikasi efisiensi daya cenderung kurang optimal dalam mengelola aliran listrik. Akibatnya, konsumsi daya saat menancap bisa lebih besar dibanding charger resmi atau bersertifikasi.
Selain lebih boros listrik, charger semacam ini juga berisiko menghasilkan panas berlebih. Menggunakan charger berkualitas tidak hanya lebih hemat energi, tetapi juga lebih aman untuk penggunaan jangka panjang.
Informasi mengenai kebiasaan pengisian daya yang memicu pemborosan listrik ini disampaikan melalui artikel yang dirilis oleh KOMPAS.com.