Edukasi

Kemenag dan British Council Perbarui Kualitas Pendidikan: 613 Guru Madrasah Kini Lebih Mahir Berbahasa Inggris

Advertisement

Kementerian Agama (Kemenag) RI bersama British Council berhasil meningkatkan kompetensi bahasa Inggris 613 guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di seluruh Indonesia. Program kolaborasi yang berlangsung sejak November 2025 hingga Februari 2026 ini mencatat lebih dari 80 persen peserta mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan berbahasa Inggris mereka.

Peningkatan Kompetensi Guru Madrasah Melalui Kolaborasi Strategis

Kebutuhan akan kemampuan bahasa Inggris bagi guru madrasah menjadi krusial untuk menunjang kualitas pendidikan, terutama dalam mempersiapkan siswa menghadapi persaingan global dan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Menjawab tantangan ini, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag RI menggandeng British Council dalam program pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Program ini diawali dengan pemetaan kompetensi pada November 2025 untuk memahami kebutuhan spesifik para guru. Selanjutnya, fase Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) atau Continuous Professional Development (CPD) dilaksanakan selama delapan minggu sejak awal Desember 2025. Sebanyak 613 guru dari berbagai daerah di Indonesia berpartisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan ini, yang puncaknya ditutup dengan lokakarya tatap muka di Gedung Kementerian Agama, Jakarta Pusat, pada Kamis (26/2/2026).

Dampak Positif dan Apresiasi dari Pimpinan

Country Director Indonesia and Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menyampaikan hasil yang sangat memuaskan dari program ini. “Lebih dari 80 persen guru melaporkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berbahasa Inggris mereka,” ujar Summer pada Kamis (26/2/2026).

Summer menambahkan, hasil tes mengkonfirmasi adanya peningkatan nyata dalam keterampilan berbicara. Para guru juga menyatakan keyakinan kuat dalam mengajarkan keterampilan mendengarkan dan berbicara, yang dinilai penting untuk memberdayakan siswa di masa depan.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, turut menyampaikan apresiasi tinggi kepada British Council. Ia menyebut capaian ini sebagai investasi strategis bagi masa depan pendidikan Islam di Indonesia. “Guru adalah jantung pendidikan. Ketika guru berkembang, siswa pun berkembang,” tutur Nasaruddin.

Nasaruddin melanjutkan, penguasaan bahasa Inggris oleh guru akan membuka pintu pengetahuan yang lebih luas bagi siswa, menghubungkan mereka dengan lingkungan global, percakapan global, penelitian, inovasi, dan kolaborasi. Ia juga berpesan kepada para guru untuk terus belajar dan berlatih, sebab kemauan untuk belajar adalah aset terbesar.

“Penguasaan bahasa Inggris bukan hanya tentang bahasa; ini tentang memperluas wawasan, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan siswa kita untuk bersaing secara global sambil tetap berpegang teguh pada nilai-nilai mereka,” tegasnya. “Mohon terus belajar, terus berlatih, dan terus menginspirasi siswa Anda. Mereka akan membawa keunggulan pendidikan Indonesia di masa depan,” imbuh Nasaruddin.

Advertisement

Perjuangan Guru di Tengah Bencana: Kisah Affied Alfayed

Salah satu kisah inspiratif datang dari Affied Alfayed, guru sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di MTsN 2 Aceh Timur, Provinsi Aceh. Affied mengikuti program pelatihan ini di tengah tantangan berat akibat banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025.

Meskipun madrasah tempatnya mengajar tidak terendam, banyak guru dan siswa terdampak langsung oleh bencana tersebut. “Mengikuti program ini kan online, yang jadi tantangan utama adalah padamnya listrik setelah banjir. Berminggu-minggu hidup tanpa listrik, gelap setiap malam,” cerita Affied usai acara lokakarya.

Keterbatasan akses internet juga menjadi kendala. “Satu-satunya akses internet itu melalui Starlink dan kita ratusan orang harus antre,” ungkapnya. Untuk menyiasati ketiadaan listrik, Affied harus menumpang mengisi daya gawainya di kafe yang memiliki genset.

“Kualitas internet seperti kualitas 20 tahun lalu. Saya untuk mengikuti kegiatan ini, menyelesaikan modul itu ketika tengah malam jam 12 malam ke jam 2 subuh,” kenangnya. Beruntung, sesi Zoom program pelatihan berlangsung setelah magrib, saat akses internet lebih lengang. “Di Aceh itu kalau lagi maghrib kan semua orang menghentikan kegiatan. Karena tidak ramai orang jadi akses internetnya bisa saya manfaatkan untuk Zoom, walaupun kadang terputus-putus,” jelas Affied.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Affied mengaku program pelatihan ini memberinya sumber dan metode baru yang sangat berharga dalam mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa madrasah.

Informasi lengkap mengenai program peningkatan kompetensi guru madrasah ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Agama RI dan British Council yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026.

Advertisement