Islami

KH A Muzaini Aziz Ingatkan Umat: Puasa Ramadhan Momentum Bentuk Pribadi Syakir dan Syakur Sejati

Advertisement

KH A Muzaini Aziz, Anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta, menyampaikan khutbah Jumat pada 27 Februari 2026 yang menyoroti ibadah puasa sebagai sarana melatih umat Islam menjadi pribadi yang pandai bersyukur. Ia menekankan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum penting untuk membentuk hati agar lebih peka terhadap nikmat dan takdir Allah SWT.

Dalam khutbah yang dilansir dari MUI tersebut, KH A Muzaini Aziz mengingatkan bahwa banyak orang mudah bersyukur saat menerima anugerah, namun sering goyah ketika diuji dengan kesempitan dan musibah. Oleh karena itu, puasa melatih umat Islam untuk tidak hanya menjadi syakir, tetapi juga syakur dalam setiap keadaan.

Memahami Dua Tingkatan Syukur: Syakir dan Syakur

Dalam khazanah Al-Qur’an, orang yang bersyukur disebut dengan dua istilah, yaitu syakir dan syakur. Kata syakir dapat ditemukan dalam surat Al-A’raf ayat 144, saat Allah berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Sementara itu, kata syakur bisa dijumpai antara lain dalam surat Al-Isra’ ayat 3, ketika Allah SWT berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam.

Meskipun dalam bahasa Indonesia kedua kata ini memiliki arti yang sama, yaitu “orang yang bersyukur”, hakikatnya terdapat perbedaan makna. Al-Imam Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi as-Syafi’i (wafat 1072/1073 M) dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyah menjelaskan perbedaan keduanya:

اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْمَوْجُودِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْمَفْقُودِ

“Syakir adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur atas apa yang tiada.”

اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الرَفْدِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الرَّدِّ

“Syakir adalah orang yang bersyukur atas pemberian. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur atas penolakan.”

اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى النَّفْعِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْمَنْعِ

“Syakir adalah orang yang bersyukur saat meraih manfaat. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur ketika tidak memperoleh manfaat.”

اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْعَطَاءِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْبِلَاءِ

“Syakir adalah orang yang bersyukur saat memperoleh anugerah. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur ketika tertimpa musibah.”

اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عِنْدَ الْبَذْلِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عِنْدَ المَطَلِ

“Syakir adalah orang yang bersyukur saat mampu mengerahkan. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur ketika harus menangguhkan.”

Penjelasan ini menegaskan bahwa syakir adalah bentuk syukur atas nikmat yang terlihat dan dirasakan, sedangkan syakur adalah tingkatan syukur yang lebih tinggi, yaitu bersyukur dalam kondisi sulit, kekurangan, atau saat menghadapi ujian.

Sabar dan Syukur di Tengah Ujian: Penghapus Dosa dan Pahala Tanpa Batas

KH A Muzaini Aziz menjelaskan bahwa saat sehat, lapang, dan tanpa masalah, umat Islam hendaknya bersyukur (syakir) kepada Allah SWT atas segala kenikmatan. Kenikmatan tersebut kemudian dijadikan wasilah untuk mengabdi, mendekatkan diri kepada-Nya, serta menebar manfaat bagi sesama.

Sebaliknya, saat sakit, sempit, atau menghadapi cobaan dan musibah, umat Islam juga harus tetap bersyukur (syakur). Kondisi ini memberikan kesempatan luas untuk mempraktikkan ibadah sabar, yang ganjarannya tiada tara.

Advertisement

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Bahkan, cobaan, ujian, dan musibah yang Allah anugerahkan juga dijanjikan sebagai kaffarah atau penghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah rasa lelah, sakit, kekhawatiran, kesedihan, bahaya dan kesusahan yang menimpa seorang muslim, bahkan sekadar duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibahnya itu.” (HR Al-Bukhari)

Keimanan Sejati Tercermin dari Sikap Terhadap Takdir Allah

KH A Muzaini Aziz menegaskan bahwa sikap kesyukuran, baik syakir maupun syakur, harus terus ditampilkan tanpa mengeluh atau meratapi ketetapan Allah. Ini adalah bentuk keimanan yang tersirat, sebagaimana Rukun Iman ke-6 yang diyakini, yaitu beriman kepada takdir baik dan buruk.

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya: “Jibril berkata: ‘Beritahukan kepada tentang iman. Rasulullah menjawab: (Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, kepad para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab suci-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada Hari Akhir dan engkau beriman kepada ketetapan-Nya, berupa yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)

Al-Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab Hikam-nya juga mengingatkan:

مَتٰى اَعْطَاكَ اَشْهَدَكَ بِرَّهُ وَمَتٰى مَنَعَكَ اَشْهَدَكَ قَهْرَه

“Ketika Allah memberi untukmu, sesungguhnya Dia sedang memperlihatkan kebaikan-Nya kepadamu. Saat Dia menghalangi pemberian darimu, sesungguhnya Ia tengah memperlihatkan kedigdayaan-Nya di hadapanmu.”

Dalam kedua kondisi tersebut, Allah tengah memanifestasikan kesempurnaan-Nya. Oleh karena itu, dalam keadaan apa pun, yang patut dipersembahkan hanyalah pujian kepada-Nya, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Jika Rasulullah Saw menghadapi hal yang beliau suka, maka beliau akan berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya berbagai kebaikan menjadi sempurna.’ Dan jika beliau menghadapi hal yang tidak disukainya, maka beliau berkata: ‘Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.’” (HR Ibnu Majah)

Dengan demikian, puasa dan ibadah Ramadhan lainnya diharapkan dapat menempa diri umat Islam untuk menjadi pribadi yang senantiasa syakir dan syakur kepada Allah SWT.

Informasi mengenai khutbah Jumat ini disampaikan melalui pernyataan resmi KH A Muzaini Aziz yang dilansir oleh MUI pada Jumat, 27 Februari 2026.

Advertisement