Henry Surendra, alumnus Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), berhasil menyelesaikan studi S3 di London School of Hygiene and Tropical Medicine, University of London, Inggris. Meski belum terikat aturan masa pengabdian 2n+1, Henry memilih untuk langsung kembali ke Indonesia dan berkontribusi melalui riset serta pengajaran. Keputusannya ini didasari oleh komitmen kuat untuk memajukan sektor kesehatan di tanah air.
Perjalanan Akademik dan Pilihan Karier
Berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, Henry awalnya tidak bercita-cita menjadi peneliti atau akademisi. Ia sempat ingin kuliah Farmasi karena ketertarikannya pada kimia, namun kendala biaya saat itu mengarahkannya pada Jurusan Kesehatan Masyarakat di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, tempat ia menempuh S1 dari 2007 hingga 2011.
Setelah lulus S1, Henry melanjutkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada program studi Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Epidemiologi Lapangan, yang diselesaikannya pada 2013. “Tertarik jadi peneliti itu terutama setelah kuliah S2 yang programnya memang hampir 75 persen penelitian,” ungkap Henry, yang kemudian sempat menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan UGM.
Beasiswa LPDP dan Keputusan Kembali ke Tanah Air
Pada tahun 2016, Henry memantapkan hati untuk melanjutkan studi ke jenjang S3 melalui beasiswa LPDP. Ia mengaku beruntung karena langsung lolos seleksi, meskipun awalnya berencana kuliah di Amsterdam, Belanda, sebelum akhirnya berpindah kampus ke London. “Mungkin pada saat itu saingannya belum sebanyak sekarang. Saat itu saya bersyukur karena sudah bekerja sebagai peneliti dan juga pengajar di UGM. Profil dan pengalamannya cocok dengan yang dicari LPDP,” jelasnya.
Henry juga menuturkan bahwa pada masa kontrak beasiswanya, belum ada klausul wajib kembali ke Indonesia selama periode 2n+1 tahun. “Di kontrak saya dulu tidak ada 2n+1. Kalau enggak salah cuma memang ada ekspektasi untuk berkontribusi. Seingat saya dulu ada surat pernyataan untuk berkontribusi untuk Indonesia. Tidak ada klausul harus kembali ke Indonesia untuk periode waktu tertentu,” tutur Henry.
Kendati demikian, Henry tidak pernah berpikir untuk menetap di Inggris, meskipun istri dan anak pertamanya ikut bersamanya. Ia langsung kembali ke Indonesia setelah meraih gelar PhD di bidang Epidemiologi. “Saya memang langsung pulang dan fokus riset di Indonesia,” tegasnya, menambahkan bahwa ia lebih menyukai suasana alam pedesaan dibandingkan hiruk pikuk kota.
Kontribusi Riset dan Peran di Monash University Indonesia
Setibanya di Indonesia, Henry fokus pada beberapa riset strategis. Di antaranya adalah investigasi tingkat kematian dan faktor risiko kematian pada pasien COVID-19, dampak pandemi terhadap pengendalian TBC nasional, evaluasi efektivitas vaksin COVID-19, serta evaluasi dampak perubahan lingkungan di Ibu Kota Nusantara (IKN) terhadap risiko penyakit yang ditularkan nyamuk seperti Malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Sejak tahun 2022, Henry mengemban amanah sebagai dosen di Program Master of Public Health, Monash University, Indonesia, dengan gelar Associate Professor atau Profesor Madya. Ia merasakan perbedaan signifikan dalam standar mengajar, ujian, dan kualitas umpan balik yang harus diberikan kepada mahasiswa di institusi asing ini.
“Kurikulum terpusat dan ada quality control dari Faculty di Monash Australia. Setiap dosen dan mata kuliah dievaluasi oleh mahasiswa sebelum pembelajaran berakhir,” ungkap Henry. Interaksi dengan mahasiswa di Monash juga sangat tinggi dan memacu adrenalin, mengingat mayoritas mahasiswa adalah penerima beasiswa dengan kualitas yang sudah teruji. “Ngajar di Monash berasa seperti kita belajar dan terus berkembang setiap hari. Sesuai dengan moto Monash: Ancora Imparo, yang artinya I am still learning, Saya masih belajar,” ujarnya.
Lingkup riset utama Henry saat ini mencakup penyakit yang ditularkan nyamuk seperti malaria dan DBD, TBC, COVID-19, serta penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. “Salah satu tema riset utama saya saat ini adalah mengukur dampak perubahan iklim dan lingkungan terhadap ekspansi penularan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk,” pungkasnya.
Informasi lengkap mengenai perjalanan dan kontribusi Henry Surendra disampaikan melalui wawancara yang dirilis pada Senin, 23 Februari 2026.
