Rapper kenamaan Igor Saykoji membagikan pengalaman transformatifnya dalam mengubah gaya hidup dari pasif menjadi aktif. Titik balik tersebut bermula dari sebuah peringatan sederhana namun fatal yang muncul di pergelangan tangannya. Saat sedang duduk santai tanpa aktivitas fisik, perangkat smartwatch miliknya bergetar dan menunjukkan angka denyut jantung yang tidak wajar.
“Your heart rate is 115, but you don’t seem to be moving. Are you okay?” ujar Igor menirukan notifikasi tersebut dalam acara Evo SL: The Art Of Fast: When run meets art yang digelar Adidas Indonesia di MBloc, Sabtu (14/2/2026). Saat itu, denyut jantungnya terus merangkak naik hingga menyentuh angka 117 BPM, padahal ia tidak sedang melakukan aktivitas berat.
Titik Balik dan Refleksi Keluarga
Kondisi kesehatan Igor saat itu diperparah dengan berat badan yang mencapai 150 kilogram. Meski sempat menyangkal, data dari teknologi dan pemikiran mendalam mengenai masa depan keluarga akhirnya meruntuhkan ego sang musisi. Igor mulai membayangkan momen-momen penting ketiga anaknya di masa depan, seperti wisuda dan pernikahan.
“Kalau di momen penting hidup mereka kondisi saya begini, apakah mereka harus mengurus acara mereka sambil mengurus saya? Atau lebih parah lagi, saya sudah enggak ada?” ungkap Igor. Kombinasi antara data kesehatan yang faktual dan refleksi sebagai seorang ayah menjadi fondasi utama perubahannya menuju hidup yang lebih sehat.
Bahaya Sedentary Lifestyle sebagai Silent Killer
Kisah Igor Saykoji menjadi representasi nyata dari bahaya gaya hidup malas gerak atau sedentary lifestyle. Dokter spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Ria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, Sp.KO, menjelaskan bahwa kondisi ini sering disebut sebagai silent killer. WHO mencatat kurangnya aktivitas fisik berkontribusi pada lebih dari 3 juta kematian global setiap tahunnya.
Menurut dr. Ria, banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa merasa sehat berarti sudah bugar. Padahal, bugar berarti tubuh mampu menjalani aktivitas harian tanpa kelelahan berlebihan. Beberapa sinyal awal tubuh kekurangan gerak meliputi:
- Terengah-engah saat menaiki tangga.
- Nyeri lutut saat berdiri dari posisi duduk.
- Punggung bawah sering terasa pegal setelah duduk lama.
Dampak Kurang Gerak terhadap Jantung dan Mental
Secara medis, duduk terlalu lama meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 30 persen. Hal ini disebabkan oleh metabolisme yang melambat dan aliran darah yang tidak optimal, yang memicu hipertensi serta gangguan kolesterol (peningkatan LDL dan penurunan HDL).
Selain fisik, kesehatan mental juga terdampak secara signifikan. Kurang gerak berkorelasi dengan penurunan hormon kebahagiaan (endorfin), peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur. Igor mengakui bahwa dulu kualitas tidurnya sangat buruk akibat distraksi gawai di tengah malam, yang kini ia perbaiki dengan rutin tidur pukul 22.00 dan bangun pukul 05.00.
Strategi Konsistensi dan Langkah Kecil
Dalam proses transformasinya, Igor menekankan konsep steadfast atau kemantapan dalam konsistensi. Dokter Ria mendukung pendekatan ini dengan menyarankan pemula untuk memulai dari target yang realistis. “Konsistensi selalu lebih penting daripada intensitas. It’s always better bergerak daripada nol,” tegas dr. Ria.
Beberapa langkah praktis yang disarankan untuk keluar dari gaya hidup sedentari antara lain:
- Melakukan sitting break atau berdiri dan berjalan singkat setiap satu jam sekali.
- Menggunakan tangga alih-alih lift.
- Melakukan latihan kekuatan (strength training) untuk menjaga massa otot setelah usia 30 tahun.
- Merayakan pencapaian kecil (small goals), seperti berhasil mengurangi konsumsi minuman manis.
Kini, Igor Saykoji telah berhasil menurunkan berat badannya hingga ke angka 80 kilogram. Ia memulai kebiasaan jalan kaki rutin di Gelora Bung Karno (GBK) bersama anaknya, yang kemudian berkembang menjadi komunitas jalan kaki bernama “Teman Jalan Panjang”. Pengalaman ini membuktikan bahwa teknologi hanyalah alat, namun keputusan untuk berubah tetap berada di tangan individu masing-masing.
