Seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS memicu kontroversi setelah memamerkan anaknya menjadi warga negara Inggris dan menyatakan ‘cukup saya WNI, anak jangan’. Polemik ini segera ditanggapi oleh pihak LPDP yang menyayangkan tindakan tersebut. Di tengah perbincangan publik, mantan Plt Dirjen Dikti Kemendikbud, Prof. Nizam, turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya WNI menimba ilmu di luar negeri dan kembali membangun bangsa.
Polemik Alumni LPDP dan Respons Lembaga
Kontroversi bermula dari unggahan story Instagram DS yang menunjukkan anaknya resmi menjadi warga negara Inggris. Pernyataan DS yang menyebut ‘cukup saya WNI, anak jangan’ sontak menuai beragam reaksi di media sosial.
Menanggapi polemik tersebut, LPDP melalui akun Instagram resminya pada Jumat (20/2) menyatakan kekecewaan. Lembaga tersebut menilai tindakan Saudari DS tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang selalu ditanamkan kepada seluruh penerima beasiswa LPDP.
Studi Ungkap Kecintaan WNI pada Tanah Air
Prof. Nizam menjelaskan adanya sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS) yang mengkaji persentase mahasiswa asing yang tidak kembali ke negara asalnya. Penelitian ini juga mengaitkan fenomena tersebut dengan perbedaan Produk Domestik Bruto (GDP) antara negara asal dan AS, yang diduga menjadi motivasi ekonomi.
“Dari penelitian tersebut ternyata WNI paling banyak yang kembali ke negara asalnya, meski beda GDP per capita Indonesia-USA bahkan lebih lebar dibanding negara-negara yang warganya lebih memilih tidak kembali ke negara asalnya,” kata Prof. Nizam kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).
Lebih lanjut, penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa WNI memiliki tingkat kecintaan pada tanah air yang paling tinggi dibandingkan warga negara lain. “Dari penelitian tersebut menunjukkan, orang Indonesia kecintaan pada tanah airnya sangat tinggi. Bisa dikata tertinggi dibanding warga bangsa lain,” imbuhnya.
Pentingnya ‘Brain Circulation’ untuk Pembangunan Bangsa
Prof. Nizam menilai temuan ini patut disyukuri, di mana WNI yang menimba ilmu di luar negeri memiliki keinginan kuat untuk kembali dan berkontribusi bagi pembangunan dalam negeri. Ia mencontohkan China yang berhasil maju pesat berkat penerapan konsep brain circulation.
“Ini yang harus kita syukuri. Kalaupun seorang mahasiswa selesai studi di LN mencari pengalaman dulu di sana, hemat saya baik-baik saja,” ujarnya.
Menurut Prof. Nizam, pengalaman di dunia industri luar negeri sangat bermanfaat bagi pembangunan bangsa saat individu tersebut kembali. “Ini yang sering disebut brain circulation, ini pula salah satu kunci sukses China meloncat menjadi negara terdepan dalam IPTEK dan industri,” tambahnya.
Informasi mengenai polemik ini serta pandangan Prof. Nizam disampaikan melalui berbagai pernyataan kepada media dan rilis resmi LPDP yang beredar hingga Minggu, 22 Februari 2026.
