Finansial

Krisis Underemployment ASN: Pakar Soroti Pemborosan Talenta Akibat Penyederhanaan Struktur Birokrasi

Advertisement

Stigma mengenai Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai beban negara kembali mencuat seiring besarnya porsi belanja pegawai dalam APBN. Namun, persoalan mendasar sebenarnya bukan terletak pada besarnya gaji, melainkan pada inefisiensi pemanfaatan kompetensi pegawai yang dikenal sebagai fenomena underemployment.

Ironi Penyederhanaan Birokrasi dan Fenomena Talent Waste

Kebijakan penyederhanaan birokrasi dengan semboyan “miskin struktur, kaya fungsi” telah memangkas ribuan jabatan di berbagai instansi. Meski bertujuan meningkatkan efisiensi, langkah ini justru menyisakan ironi di mana banyak ASN kompeten kehilangan tugas menantang dan terjebak dalam rutinitas administratif di bawah kualifikasi pendidikan mereka.

Kondisi ini disebut sebagai talent waste atau pemborosan talenta. Di saat negara mengejar target transformasi digital, ketiadaan desain pekerjaan yang jelas membuat ribuan individu cerdas tidak dapat berkontribusi maksimal. Hal ini menjadi krisis manajemen yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan memangkas tunjangan.

Pentingnya Kepemimpinan Etis dalam Distribusi Beban Kerja

Kepemimpinan di sektor publik sering kali hanya diukur dari serapan anggaran dan kepatuhan administratif. Merujuk pada kajian Levine dan Boaks (2014), kepemimpinan tanpa fondasi moral disebut sebagai pseudo leadership yang efektif secara teknis namun rapuh secara nilai.

Dalam konteks underemployment, pemimpin yang etis tidak boleh membiarkan staf potensial tanpa pekerjaan jelas sementara mereka digaji penuh oleh negara. Distribusi beban kerja yang tidak adil, seperti menumpuk tugas hanya pada orang kepercayaan, dinilai sebagai pelanggaran etika publik yang merusak martabat profesional staf.

Strategi Manajemen Talenta dan Reskilling bagi Aparatur Negara

Manajemen SDM Strategis (SHRM) memandang manusia sebagai aset vital yang harus selaras dengan tujuan organisasi. Michael Armstrong (2021) menekankan pentingnya talent mapping untuk memastikan setiap pegawai ditempatkan pada posisi yang tepat guna memaksimalkan imbal hasil investasi belanja pegawai.

Advertisement

Bagi ASN yang kehilangan beban kerja akibat perampingan, solusi yang ditawarkan adalah reskilling agresif. Grieves (2003) menyatakan bahwa masa kosong harus diubah menjadi masa inkubasi kompetensi melalui pelatihan yang terhubung langsung dengan jalur karier baru, seperti analis data atau manajer proyek digital.

Peran Teknologi Digital dalam Memetakan Kinerja Riil Pegawai

Akurasi data menjadi kunci dalam mengatasi underemployment yang sering tertutup oleh laporan kinerja formalitas. Implementasi Electronic HRM (e-HRM) sebagaimana diulas oleh Nyathi (2024) memungkinkan pimpinan memetakan kompetensi individu versus beban kerja riil secara real-time.

Sistem digital ini bertindak sebagai lampu sorot untuk memastikan keputusan mutasi atau promosi berbasis pada data objektif, bukan kedekatan personal. Dengan integrasi kepemimpinan etis, strategi talenta, dan teknologi, ASN diharapkan tidak lagi menjadi beban, melainkan aset yang memberikan pelayanan publik prima.

Analisis mengenai tantangan manajemen talenta birokrasi ini disusun berdasarkan tinjauan literatur manajemen SDM dan evaluasi kebijakan reformasi birokrasi di Indonesia.

Advertisement