Kapal Musaffah 2 meledak dan terbakar di Selat Hormuz, perairan strategis antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, pada Jumat (6/3/2026) dini hari. Insiden tragis ini menyebabkan tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) dinyatakan hilang, sementara satu ABK WNI lainnya berhasil selamat. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) UEA kini secara intensif menunggu hasil penyelidikan resmi dari otoritas setempat untuk mengungkap penyebab pasti ledakan tersebut.
Kronologi Insiden dan Upaya Pencarian
Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Yudha Nugraha, mengungkapkan bahwa KBRI menerima informasi mengenai insiden nahas tersebut pada hari yang sama, sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Berdasarkan keterangan saksi mata yang juga WNI, kapal tugboat Musaffah 2 berangkat dari Ras Al Khaimah dengan misi menarik kapal kontainer yang mengalami kerusakan.
Kapal Musaffah 2 tiba di lokasi kapal kontainer di Selat Hormuz pada 6 Maret sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Saat kru kapal sedang melakukan persiapan penarikan (towing), tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat di kapal tugboat tersebut. “Ketika melakukan persiapan towing, kemudian terjadi ledakan di kapal tugboat Musaffah 2 tersebut,” jelas Yudha, seperti dikutip dari tayangan Kompas TV, Senin (9/3/2026).
Kapal Musaffah 2 diketahui diawaki oleh tujuh ABK yang berasal dari Indonesia, India, dan Filipina. Dari jumlah tersebut, empat orang merupakan WNI. Hingga kini, upaya pencarian dan penanganan korban terus dilakukan, dengan fokus pada keselamatan para ABK yang terdampak.
Sikap KBRI UEA Terkait Penyebab Ledakan
Menanggapi penyebab ledakan, Dubes Yudha Nugraha menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin berspekulasi dan memilih untuk menunggu hasil penyelidikan resmi. “Kami sudah melakukan komunikasi dengan pemilik kapal. Namun terkait dengan penyebab ledakan tersebut, ya kita menunggu hasil penyelidikan dari otoritas setempat,” ucap Yudha.
Yudha juga belum dapat memastikan kapan hasil penyelidikan oleh otoritas setempat akan rampung, mengingat situasi di Selat Hormuz yang disebutnya sangat berbahaya. Saat ditanya apakah ledakan Kapal Musaffah 2 berkaitan dengan kondisi penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, Yudha menilai asumsi tersebut terlalu prematur.
“Kejadian itu terjadi pada malam hari, pada pukul 02.00 dini hari, jadi saksi mata pun tidak bisa memastikan apa penyebab ledakan tersebut terjadi. Kita tunggu hasil penyelidikan,” terang Yudha. Meskipun demikian, ia tidak menampik bahwa segala kemungkinan bisa terjadi, termasuk potensi keterkaitan dengan konflik regional seperti perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Imbauan Kewaspadaan dan Pentingnya Lapor Diri
Sejak meningkatnya eskalasi keamanan di kawasan Teluk, KBRI telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada seluruh WNI di UEA. Setelah serangan Iran ke UEA pada 28 Februari lalu, KBRI menetapkan status Siaga 3 bagi WNI, termasuk awak kapal yang bekerja di wilayah perairan sekitar Selat Hormuz.
“Tentu kita harapkan mereka bisa meningkatkan kewaspadaan, ya, dan kemudian melakukan langkah-langkah perlindungan lebih awal, seperti itu,” jelas Yudha. KBRI juga mengimbau WNI untuk segera menghubungi KBRI Abu Dhabi atau KJRI Dubai apabila menghadapi situasi darurat.
Selain itu, Yudha kembali mengingatkan pentingnya lapor diri bagi WNI yang tinggal di UEA. Berdasarkan data otoritas setempat, terdapat sekitar 81.000 WNI yang menetap di UEA, namun data lapor diri yang tercatat di KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai baru sekitar 11.000 orang. Menurut Yudha, data yang akurat sangat krusial agar perwakilan RI dapat memberikan respons yang cepat dan tepat, terutama dalam situasi darurat.
Informasi lengkap mengenai insiden ini disampaikan melalui pernyataan resmi Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Yudha Nugraha, yang dikutip dari tayangan Kompas TV pada Senin (9/3/2026).
