Lonjakan Harga Emas Soroti Skandal Investasi Digital China, 150.000 Nasabah Rugi Triliunan Rupiah
Di tengah rekor harga emas global yang melonjak, sebuah skandal penipuan investasi emas digital di Shenzhen, China Selatan, terkuak. Lebih dari 150.000 investor dilaporkan terjebak dalam dugaan gagal bayar platform tersebut, dengan total kerugian mencapai lebih dari 10 miliar yuan atau sekitar Rp 24,1 triliun.
Kronologi Gagal Bayar dan Protes Investor
Banyak investor mulai tidak dapat menarik dana mereka dari platform tersebut sejak 20 Januari 2026. Beberapa nasabah lainnya mengklaim bahwa platform membatasi penarikan harian menjadi 500 yuan dan 1 gram emas mulai 26 Januari 2026.
Akibatnya, para nasabah melakukan protes dan melaporkan kasus ini ke kepolisian. Mereka berkumpul di luar kantor perusahaan selama akhir pekan untuk menuntut pengembalian uang mereka. Hingga 27 Januari 2026, jumlah nasabah yang terdampak mencapai lebih dari 150.000 orang, sebagian besar adalah ibu rumah tangga dari kalangan pekerja.
Para investor mengaku menginvestasikan uangnya setelah perusahaan menghapuskan biaya pemrosesan emas dan menawarkan harga buyback yang menarik. Penawaran ini mendorong banyak investor untuk menambah saldo akun mereka demi membeli emas digital.
“Saya dan banyak investor lainnya telah melaporkan kasus ini ke polisi baik di kota asal kami maupun di Shenzhen, dan banyak orang telah pergi ke Shenzhen secara langsung,” tulis seorang pengguna di platform media sosial RedNote, atau Xiaohongshu, dikutip dari The Star. Nasabah lain menambahkan, “Masih banyak platform serupa di pasaran, dan risikonya sekarang sangat tinggi.”
Dugaan Penyebab Krisis Likuiditas Platform
Krisis likuiditas platform jual-beli emas digital di China ini dikaitkan dengan model perdagangan penetapan harga awal atau pre-pricing. Kondisi ini terjadi ketika perusahaan menarik sejumlah besar investor ritel melalui media sosial dengan mempromosikan perdagangan emas dan perak berambang batas rendah dan leverage tinggi.
Transaksi “pre-priced” tidak difasilitasi melalui bursa logam mulia yang diatur. Sebaliknya, platform secara pribadi menyepakati harga emas dan perak di masa depan dengan investor, dengan dana melewati sistem kliring publik. Akibatnya, ketika harga emas melonjak secara tiba-tiba dan investor secara kolektif mencairkan keuntungan mereka, platform harus segera mengumpulkan dana signifikan atau mengatur pengiriman fisik. Jika perusahaan tidak melakukan lindung nilai yang cukup atau tidak menyimpan modal cadangan yang memadai, risiko pembayaran dapat meningkat dengan cepat.
Peringatan Otoritas dan Respons Pemerintah
Pihak berwenang China telah memperingatkan investor ritel tentang risiko memanfaatkan kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, pada Oktober 2025, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen mengeluarkan peringatan risiko yang mengungkapkan bahwa beberapa pemasok bahan emas lokal sebenarnya terlibat dalam “taruhan emas non-fisik” melalui platform online.
Pihak berwenang menduga operasi tersebut merupakan perjudian ilegal. “Kasus-kasus ini telah mengungkap bagaimana beberapa perusahaan, dalam upaya mencari keuntungan ilegal di balik kedok perdagangan emas fisik, telah mendorong klien untuk berpartisipasi dalam taruhan ber-leverage tinggi yang pada dasarnya bertaruh pada kenaikan atau penurunan harga,” kata peringatan industri tersebut. Saat ini, pemerintah Shenzhen telah membentuk sebuah kelompok untuk melakukan investigasi guna memastikan perusahaan memenuhi kewajibannya.
Pernyataan Manajemen Platform dan Rencana Likuidasi
Pemilik platform sebelumnya telah merilis sebuah video untuk meyakinkan investornya bahwa uang mereka aman. Pihak manajemen juga menyampaikan bahwa mereka akan memberikan penjelasan yang memuaskan. Mereka menyatakan, perusahaan akan secara sukarela mengundang pengawasan pemerintah atas semua asetnya dan menekankan bahwa aset-aset tersebut tetap tidak tersentuh. Saat ini, rencana likuidasi spesifik sedang dalam negosiasi, yang diperkirakan akan memakan waktu 7 hingga 15 hari untuk diselesaikan.
Informasi mengenai skandal investasi emas digital di Shenzhen ini dihimpun dari laporan media, termasuk Kompas.com, yang merujuk pada The Standard dan The Star.