Edukasi

LPDP Jelaskan Proporsi Beasiswa Dalam dan Luar Negeri, Soroti Perbedaan Biaya S2/S3 UGM dan Inggris

Advertisement

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menegaskan komitmennya dalam memprioritaskan studi di dalam negeri. Sebanyak 55 persen dari total penerima beasiswa LPDP dialokasikan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi domestik. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama LPDP, Sudarto, saat jumpa pers di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 25 Juni 2026.

Kebijakan Prioritas Beasiswa LPDP

Sudarto menjelaskan bahwa kebijakan LPDP secara jelas mengutamakan studi di Indonesia. “Kebijakannya di LPDP itu adalah 55 persen awardee adalah untuk dalam negeri. Yang 45 persennya luar negeri,” ujar Sudarto.

Selain proporsi dalam dan luar negeri, LPDP juga menetapkan sasaran spesifik untuk penerima beasiswa. Minimal 25 persen kuota ditujukan untuk program Beasiswa Afirmasi, yang menyasar difabel, keluarga prasejahtera, daerah 3T atau Papua, serta juara olahraga kelas dunia. Sebanyak 20 persen kuota lainnya dialokasikan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri.

Untuk tahun 2026, LPDP menargetkan proporsi lulusan Magister dan Doktor adalah dua banding satu. Fokus utama beasiswa S2 dan S3 adalah pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) atau yang terkait STEM, dengan minimal 80 persen kuota. Sementara itu, bidang Non-STEM atau SHARE mendapatkan alokasi maksimal 20 persen.

Perbandingan Biaya Studi S2 dan S3: Dalam Negeri vs. Inggris

Dalam kesempatan yang sama, Sudarto turut membeberkan perbandingan rata-rata biaya kuliah untuk jenjang S2 dan S3 antara perguruan tinggi di dalam negeri, khususnya Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan institusi di Inggris.

Advertisement

“Kalau pendanaan magister di UGM per tahunnya adalah Rp 75 juta. Termasuk tuition, living allowance, asuransi ada BPJS, buku, kemudian biaya dia datang dan pulang,” terang Sudarto. Untuk jenjang doktor di UGM, biaya rata-rata per tahun mencapai Rp 99 juta. “Doktor di UGM, ini on average, ya, karena tiap tahunnya beda. On average setahunnya adalah Rp 99 juta. Ini UGM,” imbuhnya.

Perbandingan signifikan terlihat saat meninjau biaya studi di Inggris. Sudarto menyebutkan bahwa biaya kuliah per tahun di salah satu kampus terkenal di Inggris dapat membiayai lebih dari 10 penerima beasiswa di UGM. Meskipun demikian, keunggulan studi magister di Inggris adalah durasinya yang hanya satu tahun, berbeda dengan Indonesia dan negara lain yang umumnya memerlukan dua tahun.

“Kalau biaya ke Edinburgh, Inggris ya. Magister per tahunnya adalah Rp 967 juta. Tapi di Inggris kan master hanya setahun,” jelas Sudarto. Sementara itu, program doktor di Inggris memiliki biaya sedikit lebih murah dari S2, namun dengan durasi studi yang lebih lama. “Program doktor per tahunnya Rp 824 juta,” pungkas Sudarto.

Informasi lengkap mengenai kebijakan dan perbandingan biaya beasiswa LPDP ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktur Utama LPDP, Sudarto, yang dirilis pada 25 Juni 2026.

Advertisement