Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali menjadi sorotan publik setelah kasus pelanggaran kewajiban oleh sejumlah penerima beasiswa mencuat. Namun, di balik isu tersebut, delapan alumni LPDP dari berbagai kampus terbaik dunia memilih kembali ke Indonesia untuk berkontribusi nyata di tanah air, mulai dari menjadi guru, peneliti, hingga lurah. Kisah inspiratif ini dirangkum dari laman resmi LPDP pada Kamis, 26 Februari 2026.
Kontroversi LPDP dan Komitmen Kembali ke Tanah Air
Isu mengenai kepatuhan penerima beasiswa LPDP sempat memanas setelah kasus salah satu awardee berinisial DS yang memamerkan paspor WNA anaknya menjadi perbincangan. Suami DS, AP, juga diketahui belum kembali ke Indonesia untuk berkontribusi sesuai kewajiban. Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Purbaya memberikan sanksi tegas kepada keduanya, melarang berkarier di pemerintahan dan mewajibkan pengembalian biaya studi beserta bunganya secara penuh.
Tercatat, sebanyak 44 awardee LPDP melanggar kewajibannya, dengan delapan di antaranya telah mengembalikan dana biaya studi. Meski demikian, banyak alumni LPDP lainnya yang tetap teguh pada komitmen awal mereka untuk pulang dan membawa inovasi serta harapan untuk perubahan di Indonesia. Mereka mengaplikasikan ilmu dari kampus-kampus kelas dunia seperti MIT, UCL, KAIST, dan University of Birmingham untuk membantu masyarakat dengan cara yang sederhana namun berdampak luar biasa.
Kiprah Inspiratif 8 Alumni LPDP Lulusan Kampus Dunia
1. Galih Sulistyaningra: Dari UCL Menjadi CEO Pendidikan
Galih Sulistyaningra, lulusan S2 Education Planning, Economics and International Development dari University College London (UCL) tahun 2019, merupakan perempuan Indonesia pertama di jurusannya. Setelah menyelesaikan studi, ia sempat mengabdi sebagai guru di SD Petojo Utara, Jakarta Pusat. Galih menyadari adanya ketimpangan kualitas pendidikan dan literasi di Indonesia.
“Saya disadarkan kalau ternyata kita itu selama belajar di sekolah ada satu gaya belajar yang seharusnya tidak dilakukan. Mungkin ini jadi salah satu dosa besar para pendidik di zaman dulu gitu ya,” ujar Galih, dikutip dari laman LPDP.
Kini, Galih telah beralih peran menjadi CEO Smartickindonesia, terus berinovasi dalam dunia pendidikan.
2. Letkol Tek. YH Yogaswara: Pelopor Pengembangan Senjata Terpandu
Letkol Tek. YH Yogaswara, perwira TNI kelahiran Cicalengka, meraih gelar Ph.D Aerospace Engineering dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Sebagai peneliti aerospace dan aeronautika di Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbang AU), ia menjadi pelopor pengembangan senjata terpandu Indonesia. Yogaswara pernah terlibat dalam keberhasilan uji coba operasional selusin bom TAG-82 pada pesawat tempur F-16.
3. Medelky Anouw: Mengabdi untuk Pendidikan Papua
Medelky Anouw, alumni S2 Kimia dari Arizona State University, memilih bertahan di Indonesia untuk membangun Papua. Meskipun sempat berencana menjadi guru sains di New Jersey, kecintaannya pada Papua mendorongnya kembali. Ia melihat kondisi sekolah di Papua yang minim guru, laboratorium, dan buku.
“Di momen itu, saya seperti Tuhan memperlihatkan perbandingan langit dan bumi. Kamu mau kerja di sini, tapi di Papua masih sangat jauh. Dan saya menangis,” kenang Medelky.
Saat ini, Medelky menjabat sebagai Plt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, turun langsung ke kampung-kampung dengan medan ekstrem untuk memajukan pendidikan.
4. Hapu Ammah: Perawat dan Pelatih Mikroskopis Malaria
Hapu Ammah atau Endy, yang baru kembali dari Melbourne pada Agustus 2025 setelah menyelesaikan Master of Public Health di University of Melbourne Australia, kini menjalani rutinitas sebagai perawat sekaligus pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopis Malaria. Selama lebih dari sepuluh tahun bekerja di klinik malaria, Endy menyadari pentingnya melihat persoalan kesehatan secara lebih luas.
“Saya ingin belajar melihat persoalan kesehatan secara lebih luas, tidak hanya pada level individu tapi pada level masyarakat, dari budayanya dan lingkungannya,” jelasnya.
Advertisement
5. Janu Muhammad: Agri-Sociopreneur dengan Sayur Sleman
Janu Muhammad, lulusan Human Geography dari University of Birmingham, Inggris, memilih jalur unik sebagai agri-sociopreneur. Ia mendirikan Sayur Sleman pada tahun 2020, sebuah usaha yang menghubungkan pelanggan dengan konsep berbelanja sambil bersedekah. Program sedekah Sayur Sleman telah menyalurkan lebih dari 100 juta rupiah kepada 220 penerima manfaat sejak September 2020.
“Lewat program sedekah, saya setiap hari Jumat pagi sama Minggu pagi di 3 titik di Jogja. Nah ini sebagian keuntungan juga kita salurkan ke situ. Tapi rata-rata orang-orang malah ingin sedekah sayur gitu,” kata Janu.
Selain itu, Sayur Sleman Academy juga menjadi wadah pelatihan kewirausahaan sosial bagi generasi muda dan masyarakat umum.
6. Rizal Azis: Penemu Hak Paten Sel Punca Non-Hewani
Rizal Azis, peneliti muda lulusan University of Nottingham, mencatat sejarah pada tahun 2024 sebagai pemegang hak paten di Inggris untuk media kultur sel punca non-hewani (xeno-free). Temuan ini berpotensi menekan biaya riset dan terapi sel punca secara signifikan di dunia.
“Yang saya lakukan mungkin kecil, tapi saya berharap dampaknya besar. Saya ingin terapi sel punca bisa dinikmati bukan hanya oleh orang kaya, tapi semua orang,” ujar Rizal.
Ia berhasil menemukan formulasi media kultur sel punca non-hewani yang universal serta protokol pembuatan sel turunan dari stem cell. Meskipun banyak perusahaan bioteknologi tertarik, Rizal memprioritaskan kontribusinya bagi Indonesia, berharap terapi stem cell dapat diakses lebih luas, bahkan masuk BPJS.
7. Nyoman Anjani: Membangun Gently, Perusahaan FMCG Ratusan Miliar
Nyoman Anjani, alumni Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan ITB, kembali ke Indonesia untuk membangun Gently, perusahaan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) yang berfokus pada produk perawatan kulit bayi dan anak. Dimulai dengan modal pribadi Rp 200 juta, Gently kini telah berkembang menjadi perusahaan dengan omzet ratusan miliar rupiah. Nyoman meyakini bahwa seorang entrepreneur harus menjadi problem solver yang menghadirkan solusi bernilai bagi masyarakat. Gently juga memiliki laboratorium R&D internal untuk pengembangan produk mandiri.
8. Maria Jochu: Putri Papua yang Menjadi Lurah Gurabesi
Maria Jochu, putri Papua lulusan master Human Resource dari Marshall University di Amerika, memilih kembali ke tanah kelahirannya. Setelah sebelumnya menjadi staf dan sekretaris lurah, kini Maria mengemban amanah sebagai Lurah Gurabesi di pesisir Jayapura bagian Utara. Ia termotivasi oleh kondisi Papua yang membutuhkan perubahan.
“Jadi pertama orangtua yang bikin pulang, kemudian ya Papua. Papua (saat ini) tidak baik-baik saja. Jadi memang harus sekolah, dan memang harus kembali mengabdi. Kalau saya tidak menyaksikan dan merasakan langsung perkembangan dan perubahan apa yang terjadi di Papua, saya tidak bisa bantu untuk merubahnya,” ungkap Maria.
Maria bercita-cita memiliki yayasan atau organisasi yang mewadahi perempuan dan anak-anak di Papua agar lebih mandiri dan berdaya saing, serta telah mendorong banyak anak Papua meraih pendidikan tinggi dan beasiswa.
Kisah inspiratif kedelapan alumni LPDP ini menunjukkan komitmen kuat untuk berkontribusi pada pembangunan bangsa. Informasi lebih lanjut mengenai kiprah para awardee ini dapat diakses melalui laman resmi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026.
