Edukasi

Mahasiswa Unair Intan Putriani Raih Beasiswa SEED, Lakukan Riset Kopi di Dalhousie University Kanada

Advertisement

Intan Putriani, mahasiswa Magister Media dan Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), berhasil meraih beasiswa Scholarships and Educational Exchanges for Development (SEED) untuk melakukan riset di Dalhousie University, Kanada. Ia meneliti isu “fair trade coffee” yang menjadi sorotan di surat kabar nasional Kanada, The Globe and Mail, selama 35 tahun terakhir (1989-2024).

Latar Belakang Riset Kopi Global

Intan memulai risetnya dengan pertanyaan mendasar: “Mengapa masyarakat di wilayah hulu penghasil kopi masih jauh dari kata sejahtera, padahal kopi dikonsumsi secara global dan dijual dengan harga tinggi?”. Realitas ini kontras dengan fakta bahwa produsen kopi terbesar mayoritas adalah negara berkembang seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia.

Indonesia sendiri menempati posisi keempat sebagai produsen kopi terbesar di dunia. Namun, keuntungan yang diterima petani kopi seringkali sangat minim, jauh berbeda dengan harga secangkir kopi di kafe perkotaan yang bisa mencapai Rp 20.000 hingga Rp 50.000.

Motivasi Pribadi dan Kontradiksi di Kanada

Latar belakang Intan yang berasal dari Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat, daerah penghasil kopi Tambora, memberinya perspektif langsung terhadap kesulitan ekonomi petani kopi. Pengalaman ini membentuk motivasi kuatnya untuk meneliti isu tersebut.

Ia juga merasakan kontradiksi saat berada di Kanada, negara yang tidak memiliki perkebunan kopi namun hampir setiap kafe dan supermarket menyediakan kopi. Fenomena ini mendorongnya untuk mengkaji konsep “fair trade” dalam wacana publik serta pihak-pihak yang lebih dominan bersuara dalam narasi media.

Proses dan Fasilitas Riset di Dalhousie University

Penelitian Intan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menelaah framing kebijakan fair trade global di negara maju dan implikasinya terhadap negara berkembang. Ia mengumpulkan artikel melalui basis data Factiva dan menganalisisnya menggunakan perangkat lunak NVivo 14.

Selama di Kanada, Intan tinggal di sebuah rumah bersama mahasiswa internasional lain di kawasan Bible Hill yang tenang. Meskipun akses transportasi umum terbatas, ia belajar menikmati ritme hidup yang lebih lambat. “Awalnya cukup melelahkan secara fisik, namun lama-kelamaan saya belajar menikmati ritme hidup yang lebih lambat,” ujarnya dikutip dari situs Unair, Kamis (26/2/2026).

Advertisement

Intan menyebut budaya riset di Dalhousie University tidak jauh berbeda dengan Unair, namun akses terhadap perangkat dan sumber riset digital di Kanada jauh lebih luas. Perpustakaan Dalhousie menyediakan jurnal akademik, arsip berita, hingga film dokumenter berlangganan terkait industri kopi, dan buka hingga pukul 23.00 pada hari kerja.

Komunikasi akademik dengan pembimbingnya berlangsung terbuka, suportif, dan kolaboratif. “Diskusi kami tidak hanya membahas analisis teknis, tetapi juga tentang Kanada, Indonesia, dan industri kopi global. Percakapan itu memperluas perspektif akademik sekaligus pribadi saya,” tuturnya.

Adaptasi Budaya dan Dampak Personal

Masyarakat Kanada digambarkan Intan sebagai orang-orang yang sopan dan ramah, meski memerlukan adaptasi terhadap gaya komunikasi sehari-hari, seperti sapaan “How are you?” yang seringkali hanya basa-basi. Cuaca dingin dapat diatasi dengan fasilitas pemanas ruangan dan pakaian musim dingin yang memadai.

Intan menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus untuk bertemu pembimbing atau bekerja mandiri di perpustakaan, sehingga interaksinya dengan mahasiswa lain terbatas. Namun, pengalaman ini melampaui ekspektasinya. “Pengalaman ini tidak hanya memperkaya secara akademik, tetapi juga mentransformasi saya secara pribadi. Ini meneguhkan komitmen saya untuk terus melakukan riset yang bermakna dan belajar sepanjang hayat,” ungkapnya.

Bagi mahasiswa yang berencana mengikuti program beasiswa SEED, Intan menekankan pentingnya persiapan matang, termasuk memahami lokasi kampus, norma budaya, serta gaya komunikasi sebelum keberangkatan.

Informasi lengkap mengenai pengalaman riset Intan Putriani ini disampaikan melalui pernyataan resmi Universitas Airlangga yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026.

Advertisement