Teknologi

Mark Zuckerberg Bantah Instagram Picu Kecanduan Anak di Sidang, Klaim Dokumen Disalahartikan

Advertisement

CEO Meta, Mark Zuckerberg, membantah keras tudingan bahwa platform media sosial miliknya, termasuk Instagram dan Facebook, dirancang untuk memicu kecanduan pada anak dan remaja. Bantahan ini disampaikan Zuckerberg dalam sidang pengadilan yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, pada Senin, 23 Februari 2026, terkait gugatan terhadap Meta dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya.

Sidang tersebut menyoroti dugaan bahwa platform-platform populer memiliki mekanisme yang bersifat adiktif bagi pengguna muda, sebuah isu yang telah memicu ribuan gugatan serupa di Amerika Serikat.

Pembelaan Zuckerberg di Hadapan Juri

Dalam persidangan, Mark Zuckerberg duduk berhadapan dengan penggugat utama berinisial K.G.M., yang mulai menggunakan Instagram sejak usia sembilan tahun. Pengacara K.G.M., Mark Lanier, menghadirkan berbagai bukti internal Meta, termasuk e-mail, pesan, dan hasil riset, yang disebut menunjukkan diskusi Zuckerberg dan karyawan Meta lainnya mengenai penggunaan platform oleh remaja, bahkan anak-anak yang lebih muda.

Salah satu bukti adalah e-mail tahun 2019 yang dikirim kepada Zuckerberg dan tiga eksekutif Meta, menyoroti pembatasan usia perusahaan yang tidak ditegakkan secara konsisten. Menurut e-mail dari Nick Clegg, mantan kepala urusan global Meta, hal ini membuat perusahaan “sulit mengeklaim bahwa kami sudah melakukan semua yang kami bisa”.

Lanier juga menyoroti laporan riset eksternal tahun 2019 yang dilakukan atas nama Instagram. Riset tersebut menemukan bahwa remaja pengguna platform merasa “terikat atau ketagihan meski sadar dampaknya terhadap perasaan mereka”, serta memiliki “narasi seperti pecandu” terkait penggunaan Instagram. Laporan itu juga menyebut, “Platform ini bisa membuat mereka merasa baik, bisa juga membuat mereka merasa buruk, mereka berharap bisa menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memikirkannya.”

Menanggapi hal tersebut, Zuckerberg menyatakan di hadapan juri bahwa pihak penggugat telah salah menafsirkan dokumen internal. Ia menjelaskan bahwa riset yang sama juga mencantumkan aspek “positif” dari penggunaan Instagram. Zuckerberg menegaskan bahwa laporan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Meta untuk meneliti cara platformnya digunakan dan melakukan perbaikan terus-menerus.

Fokus pada Pengguna Pra-Remaja dan Pendapatan Iklan

Pengacara K.G.M. turut menampilkan laporan lain tahun 2018 yang membahas keberhasilan Meta dalam mempertahankan pengguna usia pra-remaja (8-12 tahun) atau “tweens/tweenager” di platform. Padahal, Meta mengklaim kelompok usia tersebut tidak diizinkan menggunakan layanan Instagram atau Facebook.

Zuckerberg mengakui ia “selalu” menyesal tidak bergerak lebih cepat dalam mengidentifikasi pengguna di bawah 13 tahun, namun ia yakin perusahaan pada akhirnya telah berada di “jalur yang tepat”. Ia juga menyebut pengguna remaja menyumbang “kurang dari 1 persen” pendapatan iklan perusahaan dan menuduh Lanier mengambil dokumen soal tweens di luar konteks.

Bos Meta ini menambahkan bahwa perusahaannya pernah melakukan “berbagai diskusi” tentang membangun versi produk yang bisa digunakan anak di bawah 13 tahun dengan cara yang diatur, menunjuk pada layanan Messenger Kids yang ia gunakan bersama anak-anaknya.

Advertisement

Target Peningkatan Waktu Penggunaan dan Fitur Pengaman

Lanier juga menekan Zuckerberg terkait upaya mendorong remaja menggunakan platform. Ia menampilkan e-mail dari Zuckerberg tahun 2015 yang membahas target tahunan peningkatan “waktu penggunaan sebesar 12 persen” dan membalikkan tren penurunan pengguna remaja. E-mail terpisah pada 2017 dari seorang eksekutif juga menyatakan bahwa “Mark telah memutuskan prioritas utama perusahaan adalah remaja”.

Zuckerberg menjelaskan bahwa “pada tahap awal perusahaan” ia memang memberikan target peningkatan waktu penggunaan, namun menegaskan bahwa cara kerja perusahaan kini sudah berbeda. Ia berpendapat, jika Meta hanya berfokus pada metrik seperti waktu penggunaan, perusahaan tidak akan mampu bertahan selama ini. Ia juga mengklaim telah bekerja bertahun-tahun untuk menangani “penggunaan bermasalah” platform karena “itu memang hal yang benar untuk dilakukan”.

Pengacara Meta, Paul Schmidt, merujuk pada fitur Instagram yang dirilis pada 2018, yang memungkinkan pengguna mengatur batas waktu harian, mendapatkan peringatan durasi penggunaan, serta mematikan notifikasi pada malam hari. Namun, dokumen internal Meta yang ditunjukkan Lanier menunjukkan bahwa hanya sedikit remaja yang menggunakan fitur tersebut, dengan hanya 1,1 persen pengguna remaja yang mengaktifkan batas penggunaan harian.

Penjelasan Adam Mosseri tentang Kecanduan

Sebelumnya, Head of Instagram, Adam Mosseri, juga telah memberikan kesaksian. Mosseri menegaskan bahwa penggunaan media sosial yang tampak berlebihan tidak otomatis termasuk kecanduan atau adiksi. Ia menyetujui bahwa Instagram harus berupaya menjaga keamanan pengguna, terutama anak muda, namun ia tidak yakin ada batas pasti untuk menentukan seberapa banyak penggunaan Instagram yang dianggap berlebihan sehingga bisa disebut kecanduan.

Menurut Mosseri, apakah penggunaan itu bermasalah atau tidak adalah “hal yang personal”. Ia membedakan antara “kecanduan klinis dan penggunaan yang bermasalah”, mencontohkan “kecanduan” menonton serial Netflix maraton hingga larut malam yang menurutnya tidak sama dengan kecanduan klinis. Ketika ditanya tentang penggunaan Instagram K.G.M. selama 16 jam dalam satu hari, Mosseri menyebutnya “kedengarannya seperti penggunaan yang bermasalah”, namun tidak menyebutnya sebagai kecanduan.

Persidangan ini diperkirakan berlangsung selama enam minggu dan menjadi uji argumen hukum untuk meminta pertanggungjawangan perusahaan teknologi atas dampaknya terhadap anak muda. Selain Meta, YouTube milik Google juga menjadi terdakwa, sementara TikTok dan Snapchat telah menyelesaikan kasus di luar pengadilan. Kasus ini merupakan bagian dari ribuan gugatan serupa di Amerika Serikat yang menuding platform media sosial berkontribusi pada masalah kesehatan mental anak. Beberapa negara, seperti Australia, telah mulai mempertimbangkan pembatasan usia penggunaan media sosial, termasuk larangan akun media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui persidangan di Los Angeles, Amerika Serikat, yang melibatkan kesaksian dari pimpinan Meta dan Instagram.

Advertisement